Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlak. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 November 2012

Bolehkah Menggunakan Produk Orang Kafir?

Bolehkah Bermuamalah dengan Orang Kafir? Mungkin masih banyak yang bertanya. Apakah jika kita tidak boleh berloyal pada orang kafir, itu berarti kita tidak boleh bermuamalah dan menggunakan produk mereka? Ingatlah bahwa haramnya loyal (wala’) pada orang kafir, ini bukan berarti kita tidak boleh bermuamalah dengan mereka. Jadi tidaklah terlarang melakukan jual-beli barang-barang yang bernilai mubah dan memanfaatkan keahlian mereka.
Kami akan memberikan beberapa bukti yang menunjukkan bolehnya hal ini.
[Pertama] Sebuah hadits yang dibawakan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya pada Bab “Muamalah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama orang Yahudi Khoibar.” Yaitu dalam hadits tersebut diceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Abu Bakr pernah memberi upah kepada salah seorang dari Bani Dil sebagai penunjuk jalan dan mengantar keduanya sampai ke Madinah. (Shahih Bukhari, 2/790)

[Kedua] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bermuamalah dengan orang Yahudi, bahkan ketika beliau meninggal dunia, Aisyah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa ketika itu baju besi beliau tergadai di tempat orang Yahudi untuk membeli makanan gandum sebanyak 30 sho’. (Shahih Bukhari, 3/1068) Imam Syafi’i dan Al Baihaqi mengatakan bahwa orang Yahudi tersebut bernama Abusy Syahm. (Fathul Bari, 5/140) Dari hadits ini, Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, وفي الحديث جواز معاملة الكفار فيما لم يتحقق تحريم عين المتعامل فيه “Dalam hadits ini terdapat pelajaran tentang bolehnya bermua’amalah dengan orang kafir selama belum terbukti keharamannya.” (Fathul Bari, 5/141)

[Ketiga] Sebagaimana diceritakan oleh ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah mengirim utusan kepada orang Yahudi untung membeli pakaian darinya dengan pembayaran yang ditunda, tetapi orang Yahudi tersebut menolaknya. (Al Jami’ Ash Shahih Sunan At Tirmidzi, 3/518) Ketiga bukti di atas cukuplah sebagai dalil bolehnya bermuamalah dan melakukan jual beli dengan orang kafir.

Bolehkah Menggunakan Produk Orang Kafir?
Perlu diketahui, sebagaimana kaedah yang digariskan oleh para ulama bahwa hukum asal segala barang adalah halal dan boleh digunakan. Oleh karena itu, barangsiapa yang menyatakan bahwa makanan A, minuman B, pakaian C itu haram, dia harus mendatangkan dalil shahih dari Allah dan Rasul-Nya. Jika tidak ada dalil yang menunjukkan haramnya, maka barang-barang tersebut kembali ke status asalnya yaitu halal dan boleh digunakan.

Oleh karena itu, boleh bagi kita menggunakan produk orang datang karena tidak ada dalil dalam Al Qur’an atau pun dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan terlarangnya hal ini. Bahkan ada terdapat beberapa bukti bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah menggunakan produk orang kafir dan ini menunjukkan bolehnya hal ini. Bukti tersebut di antaranya:

[Pertama] Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memakai baju buatan Yaman sebagaimana dalam hadits Anas bin Malik bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sakit, beliau keluar memakai baju qithriyyah (yaitu baju bercorak dari Yaman yang terbuat dari katun) (Lihat Mukhtashor Asy Syamail hal. 49. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih). Perlu diketahui bahwa kebanyakan penduduk Yaman ketika itu adalah orang-orang kafir.

[Kedua] Diceritakan pula bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggunakan khuf buatan Habasyah (Ethiopia) yang ketika itu adalah negeri kafir. Hal ini sebagaimana diceritakan oleh Buraidah: أن النجاشي أهدى النبي صلى الله عليه و سلم خفين أسودين ساذجين فلبسهما ثم توضأ ومسح عليهما “Raja Najasyi pernah memberi hadiah pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dua buah khuf yang berwarna hitam yang terlihat sederhana, kemudian beliau menggunakannya dan mengusap kedua khuf tersebut.” (Lihat Mukhtashor Asy Syamail hal. 51. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa riwayat ini shahih)

Siapa yang Berhak Mengharamkan?
Tidakkah sampai kepada orang-orang yang sering menyeru pemboikotan terhadap produk orang kafir, pemboikotan terhadap coca-cola, Mc Donald, Pizza Hut, facebook yaitu bukti-bukti yang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bermuamalah dengan orang kafir, bahkan menggunakan produk mereka dan menerima hadiah padahal hadiah tersebut asalnya adalah produk orang kafir[?] Tidakkah mereka melihat bukti-bukti di atas dengan mata hati bukan dengan hawa nafsu[?] Kenapa barang-barang tersebut mesti diboikot[?] Padahal orang yang memboikot tersebut bukanlah pemerintah yang memiliki wewenang dan kekuasaan[?] Kenapa mereka mengharamkan barang-barang yang sebenarnya halal[?]

Allah Ta’ala berfirman, قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللّهِ الَّتِيَ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالْطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ قُلْ هِي لِلَّذِينَ آمَنُواْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ نُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ “Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat .” Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.” (QS. Al A’raaf: 32) Dalam ayat ini, Allah Ta’ala mengingkari siapa saja yang mengharamkan makanan, minuman, pakaian, dan semacamnya, padahal tidak Allah haramkan.

Allah Ta’ala berfirman, هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الأَرْضِ جَمِيعاً “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”. (QS. Al Baqarah: 29). Maksudnya, adalah Allah menciptakan segala yang ada di muka bumi ini untuk dimanfaatkan. Itu berarti diperbolehkan selama tidak dilarang oleh syari’at dan tidak mendatangkan bahaya. Jadi, mengharamkan sesuatu haruslah berdasarkan dalil dari Allah dan Rasul-Nya. Jika tidak ada, maka kita kembali ke hukum asal setiap barang atau benda yaitu halal.

Yang Seharusnya Diboikot
Wahai para pemboikot produk orang kafir … Seharusnya yang kalian boikot adalah pemikiran orang kafir. Demokrasi, demonstrasi, sistem partai itu semua berasal dari orang kafir. Namun, produk ini malah dibela mati-matian dan dianggap halal. Sungguh aneh, tetapi itu betul nyata terjadi. Oleh karena itu, yang seharusnya dan tepat untuk ditinggalkan adalah pemikiran, aqidah dan kebiasaan orang kafir, bukan malah produknya yang ditentang mati-matian. Jika seseorang menginginkan islam itu jaya, maka seharusnya yang dilakukan adalah kembali kepada ajaran Islam yang benar. Sebagaimana Umar bin Al Khattab pernah mengatakan, إنا كنا أذل قوم فأعزنا الله بالإسلام فمهما نطلب العز بغير ما أعزنا الله به أذلنا الله “Kami dulu adalah kaum yang paling hina maka Allah memuliakan kami dengan Islam. Selama kami mencari izzah (kemuliaan) dengan selain Islam, maka Allah akan menghinakan kami.” (Diriwayatkan oleh Al Hakim dalam Mustadroknya, 1/130. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targib wa At Tarhib: 2893) Kami masih melanjutkan pembahasan ini pada fatwa-fatwa dari ulama. Nantikan penjelasan selanjutnya insya Allah.

 Semoga sajian ini bermanfaat, disalin dari rumaysho.com

Rabu, 14 November 2012

Kiat Membuang Pikiran Kotor

Artikel berikut ini adalah kami rangkum dari web konsultasisyariah yang bertema Kiat Membuang Pikiran Kotor. Cara untuk menghilangkan pikiran kotor dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut: Pertama, Menjauhi segala sebab yang dapat menimbulkan hal tersebut seperti menonton film, membaca cerita porno atau berita tentang terjadinya pemerkosaan, begitu juga melihat gambar porno, serta menjaga pandangan dari melihat wanita (apa lagi di negeri kita porno aksi sebagai santapan yang biasa dinikmati), semoga Allah melindungi kita dari fitnah wanita dan fitnah dunia.
Kedua, Mengambil pelajaran dari kisah para nabi atau orang sholeh yang mampu menjaga diri ketika dihadapkan kepada fitnah wanita, seperti kisah nabi Yusuf ‘alaihissalam, betapa beliau saat digoda oleh wanita yang bangsawan lagi cantik, tapi hal itu tidak mampu menebus tembok keimanan beliau, bahkan beliau memilih untuk ditahan dari pada terjerumus ke dalam maksiat. Ketiga, Ingat akan besarnya pahala diri di sisi Allah yang dijanjikan bagi orang yang mampu menjaga kehormatan diri sebagaimana yang disebutkan dalam hadits tujuh golongan yang akan mendapat naungan dari Allah pada hari yang tiada naungan kecuali naungan Allah disebutkan di antaranya adalah seorang pemuda yang diajak untuk melakukan zina oleh seorang wanita cantik lagi bangsawan, anak muda itu menjawab: “Aku takut pada Allah”. Di samping mengingat tentang balasan yang akan diterimanya dalam surga yaitu bidadari yang senyumnya berkilau bagaikan cahaya, silakan baca bagaimana kecantikan bidadari yang diceritakan Allah dalam Al Quran. Keempat, Ingat betapa besarnya azab yang akan diterima bagi orang yang melakukan zina silakan baca ayat-ayat dan hadits-hadits yang mengharamkan zina, seperti yang disebutkan dalam hadits bawa para pezina akan diazab dalam gerbong yang berbentuk kerucut, yang arah kuncupnya ke atas di bawahnya dinyalakan api bergelora dan membara, mereka melayang-layang dalam gerbong yang berbentuk kerucut tersebut karena disembur api dari bawah, tapi tidak bisa keluar karena lobang atas gerbong itu sangat kecil. Mereka berteriak dan memekik sekuat-kuatnya, sehingga pekik satu sama lainnya pun menyiksa. Semoga Allah menjauhkan kita dari api neraka. Kelima, Menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang bermanfaat, jangan banyak menyendiri dan berkhayal. Di samping selalu berdoa kepada Allah supaya dihindarkan dari berbagai maksiat. Keenam, Bila memiliki kemampuan untuk berkeluarga ini adalah jalan yang paling terbaik yang dianjurkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, bila tidak mampu maka usahakan berpuasa Senin Kamis, wallahu a’lam. *** Dijawab Oleh: Ustadz Dr. Ali Musri Semjan Putra,M.A.

Renungan Ketika Mendapatkan Musibah

Jika kita mendapatkan musibah, hendaknya kita merenung / introspeksi diri, bukannya malah mengutuk, atau tidak memikirkan mengapa kita diberi musibah oleh Allah. Berikut ini beberapa renungan yang bisa kita lakukan ketika mendapatkan musibah:
1- Renungkanlah bahwa manusia dan hartanya semuanya milik Allah, semuanya hanya titipan di sisi kita. 2- Setiap orang akan kembali pada Allah dan akan meninggalkan dunia. 3- Allah akan memberi yang semisal dan yang lebih baik bagi yang telah hilang. 4- Ingatlah bahwa mengeluh dan menggerutu hanya menambah derita, bukan menghilangkan musibah. 5- Jika mau bersabar dan yakin semuanya kembali pada Allah, maka itu lebih besar pahalanya dibanding dengan tidak sabar. 6- Berkeluh kesah hanya membuat musuh kita senang dan membuat Allah murka. 7- Sabar dan mengharap pahala itu lebih besar ganjarannya daripada mengharap yang telah hilang itu kembali. 8- Jika kita ridho terhadap musibah, Allah pun senang dengan sikap kita. Sebaliknya jika kita benci, Allah pun akan murka. 9- Ketahuilah bahwa Allah yang menurunkan musibah Maha Hakim dengan hikmah yang ia beri, Penuh Rahmat dengan kasih sayang yang ia beri. Allah tidaklah menimpakan cobaan untuk membinasakan hamba, bahkan untuk menguji seberapa kuat imannya. 10- Musibah itu datang untuk menhindarkan diri kita dari penyakit jelek yaitu ujub dan sombong. 11- Ingatlah bahwa mending merasakan pahit di dunia namun dapat merasakan lezatnya kehidupan akhirat. Diringkas dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad, penjelasan tentang petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengobati musibah. Semoga Allah memberikan kita kesabaran ketika menghadapi setiap ujian dan cobaan. Referensi: Mukhtashor Zaadul Ma’ad, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan keempat, 1429 H, hal. 265-267. - rumaysho.com

Sabtu, 12 Februari 2011

Taubat Nasuha




Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.


Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: "Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)."


Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat.



Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160

"Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."




Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam



surat Al-Baqarah: 222, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."




Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.



Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: "SesungguhnyaAllah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat."



Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.



Tepatlah kiranya firman Allah dalam



surat Ali Imran ayat: 133, "Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."




Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat Nasuha", yaitu taubat yang murni.



Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'".






RUKUN TAUBAT



TAUBAT NASUHA
(bukan TAUBAT 'SAMBAL')



Sebagai Antisipasi/pencegahan ---sebelum terjadi dosa:

1. Iman pada Allah

2. Takut pada azhabNya akibat dosa kita

3. Menjauhi dosa/maksiyat



Sebagai Penanggulangan ---setelah terjadi dosa:

4. Menyesali diri karena terlanjur berbuat maksiyat

5. Berjanji pada Allah untuk tidak mengulangi perbuatan dosa

6. Jika kita bersalah pada Allah,banyak istighfar dan bertaubat padaNya,Allah maha pengampun



Jika kita bersalah pada manusia,selain banyak istighfar,segera akui kesalahan kita dan mohon maaf padanya.Ampunan Allah akan kita dapatkan seiring dengan keridhoan manusia yang kita zholimi untuk memaafkan kesalahan kita.

(seandainya kesalahan tersebut dilakukan dalam lingkup sistem islam,yakni khilafah,baik menyangkut dosa penguasa pada umat/rakyatnya,maupun dosa seorang manusia terhadap manusia lain,semacam kriminalitas : pembunuhan,pencurian,perzinahan,dll; selain banyak istighfar dan mengakui kesalahannya,ia juga harus melalui step hukuman dunia versi syariah Allah,yakni sanksi / uqubat islam yang berfungsi sebagai : penebus dosa manusia di akhirat dan pencegah bagi manusia lain dari berbuat dosa di dunia)

7. Resapi secara mendalam istighfar kita dari lesan hingga amalan kita. Allah tak sekedar butuh lesan tapi juga perbuatan kita dengan :

8. Tetap istiqamah dalam menerapkan upaya 'preventif' lebih baik daripada menanggulangi selain tetap menanggulangi terjadinya dosa (no 1-9)

9. Sempurnakan kewajiban dan perbanyak amal sunnah dan sholih lainnya untuk meminimalisir dosa-dosa kita serta memperberat timbangan kebajikan kita di akhirat kelak





FUNGSI TAUBAT



1. Menambah kemudahan bagi kita untuk mendapatkan hidayahNya

(Qs an Nisa : 26-27)



" Allah hendak menerangkan syariahNya kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan hendak menerima taubatmu.Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan Allah hendak menerima taubatmu,sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran"




Sebagai seorang muslim,kita tetap berharap hidayahNya karena tak semua muslim dibukakan oleh Allah untuk melapangkan hatinya dalam menerima hidayahNya (kecuali jika mereka berusaha membuka pintu hidayah Allah dengan selalu mengkaji dan ingin segera berubah menjadi pribadi muslim yang baik dengan melaksanakan syariah Allah,yakni Islam)



2. Menyongsong kedatangan hidayah

Allah telah memberikan pada kita nikmat berupa kelimpahan rizqi materi dan spiritual tak terhingga.

Perbedaanya :

Rizqi materi bisa diberikan oleh Allah pada siapapun diantara manusia,tak peduli apakah ia seorang mu'min/kafir,fasik ataukah munafik.Karena Allah maha pemberi

Namun kasih sayang Allah hanya untuk orang-orang yang mengimaniNya dan melapangkan hatinya untuk menerima hidayah Allah,dengan memberikannya nikmat Rizqi spiritual berupa iman,islam,Al Qur'an,sifat-sifat baik yang harus ada pada dirinya sebagai seorang muslim dan mu'min, kesehatan,waktu dan usia,serta ketundukan dan kepasrahannya pada Allah dan syariahNya.



3. Memberi kesenangan hidup dunia akhirat

(Qs Huud : 3)



" Dan hendaklah kamu meminta ampun pada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya.Jika kamu mengerjakan demikian,niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik terus menerus kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.Dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang memiliki keutamaan balasan atas keutamaannya "




Orang yang gemar beristighfar dan bertaubat-dengan sebenar-benarnya istighfar dan taubat-pada Allah,akan dimudahkan olehNya untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan hidup dunia akhirat



4. Melapangkan rizqi Allah

(Qs Huud : 61)



" Dan kepada Tsamud Kami utus saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata," Hai kaumku,sembahlah Allah.Sekali-kali tidak ada Tuhan selain Dia.Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.Karena itu mohonlah ampunanNya kemudian bertaubatlah kepadaNya.Sesungguhnya Tuhanku amat dekat rahmatNya lagi memperkenankan doa hambaNya "




Beristighfar dan bertaubat adalah salah satu cara yang dilakukan seorang muslim agar Allah melapangkan rizqiNya kepadanya yang telah menciptakannya dari bumi (tanah) dan menjadikannya sebagai pemakmur serta pemeliharanya.



5. Menjadikan para pelakunya (mustaghfirun) memperoleh salah satu haknya sebagai orang-orang mu'min.(Qs at Taubah : 11)



" Jika mereka bertaubat,mendirikan shalat dan menunaikan zakat,maka mereka itu adalah saudara-saudaramu seagama "


Hak sebagai orang mu'min tersebut adalah diakui oleh sesama muslim sebagai saudara seiman dan seagama mereka.





RENUNGAN




Kehidupan di dunia meskipun diibaratkan Allah sebagai senda gurau dan permainan belaka,sementara Allah juga menerangkan kehidupan sejati adalah kehidupan akhirat,implementasi menjalani kehidupan dunia sangat serius dan tidak main-main.Pemahaman seorang muslim harus berbeda dari pemahaman non muslim sebagaimana islam berbeda dari non islam-tentang hakikat kehidupan dunia dan akhiratnya serta implementasi menjalaninya.

Senda gurau dan permainan kehidupan dunia fana ini justru harus mendorong seorang muslim untuk serius dan bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupannya di dunia untuk mendapatkan kebahagiaan kekal di akhirat sesuai dengan konstitusi umat Islam,yakni Al Qur'an selain juga as sunnah.



Yaa Allah

Jangan Kau biarkan kami
sebagai hamba pemberontak tapi hamba yang taat pada tuannya,Allah
Jadikanlah ketaan kami sebagai hambaMu hanya untuk membela dan mentaatiMu
Jadikanlah pemberontakan kami hanya untuk menentang para pemberontak yang menentang dan anti syariahMu,baik tersembunyi dan terang-terangan.


Jangan Kau biarkan hidup kami
mengalir seperti arus sungai yang deras mengalir kemanapun yang sungai itu kehendaki
Bimbinglah hidup kami
sesuai arah yang Kau inginkan dalam kitabullah dan as sunnah


Jangan Kau biarkan kami
untuk menduakanMu dengan menjadikan hawa nafsu kami sebagai tuhan
yang akan menghinakan kami lebih rendah dari binatang ternak (Qs al Furqan : 43-44)
Bimbinglah dan Mudahkanlah kami
untuk mengesakanMu dengan menjadikanMu sebagai Tuhan bahkan Ilah bagi kami
yang akan meninggikan dan memuliakan kami pada derajat orang-orang bertaqwa
Amiin...

Jumat, 07 Januari 2011

Mari Bersyukur Setiap Waktu




Pernahkah Anda berpikir berapa kekayaan setiap orang jika dihargai dengan uang? Berapakah harga tubuh manusia jika diuangkan? Berapa harga mata, hidung, telinga, mulut, otak, kepala, lidah, tangan kaki dan apa saja yang menjadi bagian dari tubuh manusia jika dirupiahkan?



Saat mata kita sehat, kita tak pernah berpikir betapa berharganya mata kita. Coba saja jika suatu ketika mata Anda, karena satu sebab kecelakaan tertentu, menjadi buta. Kebetulan Anda memiliki tabungan milyaran rupiah. Apa yang Anda lakukan? Anda pasti akan membayar berapa milyar pun untuk mengembalikan penglihatan Anda. Tak peduli jika untuk itu tabungan Anda terkuras nyaris habis. Saat tangan atau kaki kita sehat dan normal, kita pun mungkin jarang berpikir betapa bernilainya kedua anggota tubuh kita itu. Namun, pernahkah Anda membayangkan andai suatu saat, karena satu sebab musibah tertentu, tangan atau kaki Anda itu harus diamputasi? Pasti, jika kebetulan Anda orang kaya, Anda akan sanggup mengeluarkan ratusan juta atau bahkan milyar rupiah asal tangan atau kaki Anda tidak diamputasi dan kembali sehat serta normal seperti sedia kala. Bagaimana pula jika satu sebab bencana tertentu wajah Anda yang ganteng/cantik tiba-tiba harus menerima kenyataan rusak parah tak berbentuk akibat terbakar hebat atau terkena air keras? Pasti, Anda pun dengan ikhlas dan rela akan melepaskan harta apa saja yang Anda miliki asal wajah Anda bisa kembali ganteng/cantik seperti sedia kala.



Sudah banyak bukti, orang-orang yang berpunya sanggup mengorbankan hartanya sebanyak apapun demi mengembalikan kesehatannya; demi sembuh dari penyakit jantung, kanker, kelumpuhan, kecacatan dll. Bahkan demi mengembalikan agar kulitnya menjadi kencang, atau agar keriput di wajahnya bisa hilang, banyak orang rela merogoh sakunya dalam-dalam.



Jika sudah demikian, semestinya kita sadar, betapa kayanya setiap diri kita; hatta jika secara materi kita bukan orang berpunya. Bukankah kita akan tetap mempertahankan mata atau hidung kita meski ada orang mau menawar dan membelinya seharga ratusan juta rupiah? Bukankah kita tak akan rela melepas jantung atau paru-paru kita walau ada orang berani menawarnya seharga semilyar rupiah? Bukankah kita tak akan sudi kehilangan tangan atau kaki kita meski untuk itu kita mendapatkan kompensasi harta yang melimpah-ruah? Bukankah kita pun tak akan pernah rela menyewakan nafas kita barang lima atau 10 menit meski harga sewanya jutaan rupiah? Sebab, kita amat paham, tidak bernafas lima atau 10 menit berisiko menjadikan kita mati lemas.



Belum lagi jika kita berusaha meneliti udara yang kita hirup saat bernafas. Pikirkan pula air yang kita minum; yang digunakan untuk mandi, mencuci, memasak; dll. Renungkan pula bumi yang kita pijak, sinar matahari yang menyinari setiap hari, air hujan yang turun ke bumi, sinar bulan yang menghiasai malam, jalanan yang kita lalui, pemandangan alam yang kita nikmati, dll. Bagaimana jika semua itu harus kita beli? Berapa ratus juta bahkan berapa puluh milyar rupiah uang yang harus kita keluarkan?



Namun, alhamdulillah, semua kekayaan dan kemewahan itu Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma alias gratis! Tak sepeser pun kita dipungut oleh Allah SWT untuk membayar nikmat yang luar biasa itu. Amat pantaslah jika Allah SWT dalam Alquran surat ar-Rahman berkali-kali mengajukan pertanyaan retoris kepada manusia: Fa bi ayyi âlâ’i Rabbikumâ tukadzibân (Nikmat Tuhan manakah yang kalian dustakan)? Lebih dari itu, Dia-lah Tuhan Yang mengurus kita siang-malam tanpa pernah meminta upah secuil pun.



Mahabenar Allah Yang berfirman (yang artinya): Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kalian pada waktu malam dan siang hari selain Zat Yang Maha Pemurah?”(TQS al-Anbiya’ [21]: 42).




Pertanyaannya: Sudahkah atas semua itu kita bersyukur? Ataukah kita malah sering berlaku sombong dan takabur? Sudah berapa milyar kali hamdalah kita ucapkan untuk-Nya? Ataukah kita malah gemar berkhianat kepada-Nya? Na’udzu billah.



Semoga kita semua menjadi hamba Allah SWT yang selalu bersyukur setiap waktu atas segala karunia-Nya yang luar biasa itu, bukan hamba yang takabur apalagi kufur kepada-Nya. Paling tidak, hal itu dibuktikan dengan keseriusan dan ketekunan kita dalam beribadah dan ber-taqarrub kepada-Nya; dalam menaati segala titah-Nya; dalam mengorbankan apa saja untuk agama-Nya; serta dalam berjuang menegakkan akidah dan syariah-Nya demi kemuliaan Islam dan umatnya. Amin

Selasa, 14 Desember 2010

Respon terhadap Ni'mat Allah ala Nabi Sulaiman atau Qorun




Berbicara tentang urusan sikap kita saat menerima ni'mat Allah, sadar atau tidak, identik dengan dua figur legendaris dalam urusan harta (dan kekuasaan). Yakni Nabi Sulaiman dan Qorun. Dua figur yang mewakili citra putih dan hitam atau terang dan gelap.



RESPON NABI SULAIMAN akan NI'MAT ALLAH


Nabi Sulaiman dikaruniai oleh Allah kekayaan dan kekuasaan yang luar biasa. Besarnya tak tertandingi hingga hari kiamat kelak. Kekuasaannya bukan hanya terbatas pada manusia, namun jugga meliputi jin dan binatang-binatang yang tunduk kepada beliau. Bahkan beliau diberi kemampuan (=mu'jizat) untuk berkomunikasi dengan binatang.


Simak kisah Nabi Sulaiman saat mendengar pembicaraan semut ditengah perjalanannya,


" Hingga apabila mereka (Nabi Sulaiman dan rombongannya) sampai di lembah semut berkatalah seekor semut : ' Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.' Maka dia (Nabi Sulaiman) tersenyum dengan tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Dan dia berdo'a : ' Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk mensyukuri ni'matMu yang Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dia orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal sholih yang Engkau ridhoi ; dan masukkanlah aku dengan rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang sholih. '..." (Qs an Naml : 18-19)


Simak pula kisah Nabi Sulaiman saat memeriksa barisan pasukannya,


" Dan dia (Nabi Sulaiman) memeriksa burung-burung lalu berkata, ' Mengapa aku tak melihat burung hud-hud, apakah dia termasuk yang tak hadir. Sungguh aku benar-benar akan mengazhabnya dengan azhab yang keras atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang'. Maka tak lama kemudian datanglah burung hud-hud, lalu ia berkata, ' Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya ; dan kubawa kepadamu berita dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah. Dan syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan Allah. Sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah yang telah mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.'.." (Qs an Naml : 20-25)




Nabi Sulaiman sangat kaya dan berkuasa. Namun kekayaan dan kekuasaannya tidak menjadikan hijab atau penghalang bagi beliau untuk menyempurnakan penghambaan nya kepada Allah Ta'alaa.

Perhatikan respon beliau kala mendengar perkataan semut diatas. Sungguh luar biasa..tidak sombong. Justru ni'mat berupa kemampuan (mu'jizat) yang diberikan Allah pada beliau untuk mendengar pembicaraan semut direspon nya dengan membaca do'a yang tersebut dalam Qs an Naml : 18-19 diatas.


Simak pula respon Nabi Sulaiman kala singgasana Ratu Bilqis sudah berpindah ke tangan beliau.


" Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata, ' Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari akan ni'matNya. Dan barang siapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku maha Kaya lagi maha Mulia " (Qs an Naml : 40).


Subhanallah! Luar biasa. Kekayaan dan kekuasaan yang begitu besarnya itu justru menjadikan Nabi Sulaiman semakin mendekatkan diri pada sang maha Pencipta dan Pengatur.



RESPON QORUN akan NI'MAT ALLAH


Berbeda dari respon Nabi Sulaiman, Qorun justru menjadi kufur dengan ni'mat kekayaannya. Kekayaan telah membuat Qorun menjadi ujub atau sombong. Ia merasa bahwa kekayaannya yang dia peroleh disebabkan oleh kepandaiannya dan ilmunya. Ucapan ujub Qorun tersebut diabadikan oleh Allah dalam firmanNya,


" Qorun berkata, ' Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku.'.." (Qs al Qoshshosh : 78)



Astaghfirullah! Na'udzubillah min Dzaalik...



BAGAIMANA RESPON KITA akan NI'MAT ALLAH?


Respon manusia pada jaman ini, siapapun orangnya, sadar atau tidak, mewakili salah satu diantara dua figur legendaris diatas , Nabi Sulaiman yang mewakili figur yang rendah hati dan mensyukuri ni'matNya, dan Qorun yang mewakili figur yang ujub (sombong) dan mengkufuri ni'matNya.


Alangkah beruntunglah manusia yang merespon ni'mat Allah sebagaimana Nabi Sulaiman meresponnya. Dan alangkah meruginya manusia yang merespon ni'mat Allah sebagaimana Qorun meresponnya.

Kekayaan dan kekuasaan hendaknya senantiasa menjadikan diri kita tidak lupa diri dan selalu ingat Allah serta bersyukur padaNya, dengan menggunakan harta dan kekuasaan yang Allah berikan pada kita untuk semakin mendekat kepada Allah dan bersikap amanah serta adil terhadap kekayaan dan kekuasaan kita. Apapun kedudukan dan profesi kita.

Kekayaan tak menjadikan diri kita ujub dan ingkar pada Allah. Kekayaan dan kekuasaan tak seharusnya menjadikan diri kita semakin serakah, rakus, dan bersikap zholim pada sesama manusia. Seperti yang saat ini sudah biasa kita temui pada diri sebagian orang yang dikaruniai Allah harta kekayaan dan kekuasaan. Demi dunia yang menjadi tujuan hidup mereka, mereka menghalalkan segala cara. Demi kekayaan dan kekuasaan, mereka bersikap korup dan menipu rakyatnya. Ketika berkampanye dalam pemilu / pemilukada, mereka mengumbar janji-janji kosong. Pada saat mereka terpilih, mereka ingkar janji dan berdusta besar. Setiap kebijakan per-undang-undangan buatan mereka yang di terapkan atas rakyatnya di negeri ini seringkali bahkan selalu menzhalimi (menyakiti) rakyatnya.

Padahal, Sebaliknya, kekayaan dan kekuasaan justru seharusnya menjadikan diri kita termasuk manusia yang bertaqwa dan bersikap amanah terhadap kepemimpinannya serta adil pada sesama manusia.



" Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rizki kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan menyempitkannya ; Sesungguhnya Dia maha mengetahui lagi maha Melihat akan hamba-hambaNya. " (Qs al Israa' : 30)



Sekarang, bagaimana sikap kita, umat Islam, dalam merespon segala ni'mat yang telah Allah karunia kan pada diri kita? Seperti Nabi Sulaiman-kah? Atau seperti Qorun? Hanya Allah dan diri kita yang mengetahui jawabannya.


Wallaahu A’lam

Sabtu, 16 Oktober 2010

Nasihat Buat Para Suami




Apa yang memberatkanmu wahai hamba Allah!
untuk bermuka cerah di depan isterimu ketika masuk rumah, agar engkau mendapat pahala dari Allah?!!
Apakah berat bagimu jika engkau melemparkan senyuman kepada isteri dan anak-anakmu?!!
Apakah mengurangi kewibawaanmu wahai hamba Allah! bila engkau mengecup kening isterimu dan bermain-main dengannya?!!
Apakah yang memberatkamny menyuapkan satu suapan makanan ke mulut isterimu, hingga engkau mendapat pahala karenanya?!!
Apakah sulit bila masuk rumah engkau mengucpkan salam dengan sempurna: Assalamu'alaikum wa rohmatullohi wa barokatuh; hingga engkau mendapatkan 30 kebaikan?!!
Mengapa engkau tidak berbicara dengan perkataan yang baik kepada isterimu, meskipun sedikit berbohong agar ia senang?!!
Tanyakanlah tentang isterimu, tanyakanlah keadaannya ketika engkau baru masuk rumah.
Aku pikir tidak mengapa dan tidaklah berat bila engkau berkata kepada isterimu:
"Wahai kekasihku, sejak aku keluar dari sisimu sedari pagi hingga sekarang, seolah-olah setahun telah berlalu!!"

Sesungguhnya bila engkau mengharapkan pahala -walaupun engkau merasa jemu mendatangi dan mencampurinya- maka engkau mendapat pahala dan ganjaran Allah Ta'ala;
karena Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: "Dan dalam kemaluanmu ada sedekah."
Apakah termasuk suatu kebodohan wahai hamba Allah!
bila engkau berdo'a pada Allah seraya berkata:
"Ya Allah perbaikilah aku dan isteriku, serta berikanlah keberkahan kepada kami."
Sebuah ucapan yang baik adalah sedekah
Wajah berseri dan senyuman adalah sedekah
bersalaman sambil mengucapkan salam menghilangkan kesalahan-kesalahan
dalam jima' pun ada pahalanya.
(jamaahmasjid.blogspot.com)
==
dari:
Romantika Pergaulan Suami Isteri, Syaikh Musthofa Al 'Adawi; kerjasama Media Hidayah dan Pustaka Al Haura; hal.209-211

oleh: Syaikh Musthofa Al 'Adawi

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Download File2 Islami | Baca Artikel Lainnya | Bangun Masjid di Sumbar! | Pasang Iklan Murah

Al-Qur'an untuk Anak

Jumat, 24 September 2010

Pintu Pelebur Dosa




1. TAUBAT

“Barang siapa yang bertobat sebelum matahari terbit dari barat, niscaya Allah akan mengampuninya” (HR. Muslim)

2. KELUAR UNTUK MENUNTUT ILMU

“Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkan baginya dengan (ilmu) itu jalan menuju surga”( HR. Muslim)

3. SENANTIASA MENGINGAT ALLAH

“Inginkah kalian aku tunjukkan kepada amalan-amalan yang terbaik, tersuci disisi Allah, tertinggi dalam tingkatan derajat, lebih utama daripada mendermakan emas dan perak, dan lebih baik daripada menghadapi musuh lalu kalian tebas batang lehernya, dan merekapun menebas batang leher kalian. Mereka berkata: “Tentu”, lalu beliau bersabda: Zikir kepada Allah Ta`ala”( HR. At Turmidzi)

4. BERBUAT YANG MA`RUF DAN MENUNJUKKAN JALAN KEBAIKAN

“Setiap yang ma`ruf adalah shadaqah, dan orang yang menunjukkan jalan kepada kebaikan (akan mendapat pahala) seperti pelakunya”( HR. Bukhari dan Muslim)

5. BERDA`WAH KEPADA ALLAH

“Barangsiapa yang mengajak (seseorang) kepada petunjuk (kebaikan), maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun”( HR. Muslim)

6. MENGAJAK YANG MA`RUF DAN MENCEGAH YANG MUNGKAR.

“Barangsiapa diantara kalian melihat suatu kemungkaran, maka hendaklah ia mengubah kemungkaran itu dengan tangannya, jika ia tidak mampu maka dengan lisannya, jika ia tidak mampu (pula) maka dengan hatinya dan itu adalah selemah-lemahnya iman” (HR. Muslim)

7. MEMBACA AL QUR`AN

“Bacalah Al Qur`an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat untuk memberikan syafa`at kepada pembacanya” (HR. Muslim)

8. MEMPELAJARI AL QUR`AN DAN MENGAJARKANNYA

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Qur`an & mengajarkannya ”( HR. Bukhari)

9. MENYEBARKAN SALAM

“Kalian tidak akan masuk surga sehingga beriman, dan tidaklah kalian beriman (sempurna) sehingga berkasih sayang. Maukah aku tunjukan suatu amalan yang jika kalian lakukan akan menumbuhkan kasih sayang di antara kalian? (yaitu) sebarkanlah salam”( HR. Muslim)

10. MENCINTAI KARENA ALLAH

“Sesungguhnya Allah Ta`ala berfirman pada hari kiamat: “Di manakah orang-orang yang mencintai karena keagungan-Ku? Hari ini Aku akan menaunginya dalam naungan-Ku, pada hari yang tiada naungan selain naungan-Ku” (HR. Muslim)

11. MEMBESUK ORANG SAKIT

“Tiada seorang muslim pun membesuk orang muslim yang sedang sakit pada pagi hari kecuali ada 70.000 malaikat bershalawat kepadanya hingga sore hari, dan apabila ia menjenguk pada sore harinya mereka akan shalawat kepadanya hingga pagi hari, dan akan diberikan kepadanya sebuah taman di surga” (HR. Tirmidzi)

12. MEMBANTU MELUNASI HUTANG

“Barangsiapa meringankan beban orang yang dalam kesulitan maka Allah akan meringankan bebannya di dunia dan di akhirat” (HR. Muslim)

13. MENUTUP AIB ORANG LAIN

“Tidaklah seorang hamba menutup aib hamba yang lain di dunia kecuali Allah akan menutupi aibnya di hari kiamat”( HR. Muslim)

14. MENYAMBUNG TALI SILATURAHMI

“Silaturahmi itu tergantung di `Arsy (Singgasana Allah) seraya berkata: “Barangsiapa yang menyambungku maka Allah akan menyambung hubungan dengannya, dan barangsiapa yang memutuskanku maka Allah akan memutuskan hubungan dengannya”( HR. Bukhari dan HR. Muslim)

15. BERAKHLAK YANG BAIK

“Rasulullah SAW ditanya tentang apa yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga, maka beliau menjawab: “Bertakwa kepada Allah dan berbudi pekerti yang baik”( HR. Tirmidzi)

16. JUJUR

“Hendaklah kalian berlaku jujur karena kejujuran itu menunjukan kepada kebaikan, dan kebaikan menunjukan jalan menuju surga”( HR. Bukhari dan HR. Muslim)

17. MENAHAN MARAH

“Barangsiapa menahan marah padahal ia mampu menampakkannya maka kelak pada hari kiamat Allah akan memanggilnya di hadapan para makhluk dan menyuruhnya untuk memilih bidadari yang ia sukai”( HR. Tirmidzi0

18. MEMBACA DO`A PENUTUP MAJLIS

“Barangsiapa yang duduk dalam suatu majlis dan banyak terjadi di dalamnya kegaduhan lalu sebelum berdiri dari duduknya ia membaca do`a: (Maha Suci Engkau Ya Allah dan dengan memuji-Mu aku bersaksi bahwa Tidak ada Ilah (Tuhan) yang berhak disembah kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertobat kepada-Mu) melainkan ia akan diampuni dari dosa-dosanya selama ia berada di majlis tersebut”( HR. Tirmidzi)

19. SABAR
Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim baik berupa malapetaka, kegundahan, rasa letih, kesedihan, rasa sakit, kesusahan sampai-sampai duri yang menusuknya kecuali Allah akan melebur dengannya kesalahan-kesalahannya”( HR. Bukhari)

20. BERBAKTI KEPADA KEDUA ORANG TUA
“Sangat celaka, sangat celaka, sangat celaka…!” Kemudian ditanyakan: Siapa ya Rasulullah?, beliau bersabda: “Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya di masa lanjut usia kemudian ia tidak bisa masuk surga”( HR. Muslim)


Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Download File2 Islami | Baca Artikel Lainnya | Bangun Masjid di Sumbar! | Pasang Iklan Murah

Al-Qur'an untuk Anak

Senin, 13 September 2010

Akhlak Islam Cerminan Aqidah Islam




“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak yang agung” (Al qalam : 4). Adakah orang yang tidak menyukai perhiasan? jawaban pertanyaan ini jelas, bahwa tidak ada seorangpun melainkan ia menyukai perhiasan dan senang untuk tampil berhias di hadapan siapa saja. Karena itu kita lihat banyak orang berlomba-lomba untuk memperbaiki penampilan dirinya. Ada yang lebih mementingkan perhiasan dhahir (luar) dengan penambahan aksesoris seperti pakaian yang bagus, make up yang mewah dan emas permata, sehingga mengundang decak kagum orang yang melihat. Adapula yang berupaya memperbaiki kualitas akhlak, memperbaiki dengan akhlak islami.

Yang disebut terakhir ini tentunya bukan decak kagum manusia yang dicari, namun karena kesadaran agamanya menghendaki demikian dengan disertai harapan mendapatkan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Kalaupun penampilannya mengundang pujian orang, ia segera mengembalikannya kepada Allah karena kepunyaan-Nyalah segala pujian dan hanya Dialah yang berhak untuk dipuji.

ISLAM MENGUTAMAKAN AKHLAK

Mungkin banyak diantara kita kurang memperhatikan masalah akhlak. Di satu sisi kita mengutamakan tauhid yang memang merupakan perkara pokok/inti agama ini, berupaya menelaah dan mempelajarinya, namun disisi lain dalam masalah akhlak kurang diperhatikan. Sehingga tidak dapat disalahkan bila ada keluhan-keluhan yang terlontar dari kalangan awwam, seperti ucapan : “Wah udah ngerti agama kok kurang ajar sama orang tua.” Atau ucapan : “Dia sih agamanya bagus tapi sama tetangga tidak pedulian.”, dan lain-lain.

Seharusnya ucapan-ucapan seperti ini ataupun yang semisal dengan ini menjadi cambuk bagi kita untuk mengoreksi diri dan membenahi akhlak. Islam bukanlah agama yang mengabaikan akhlak, bahkan islam mementingkan akhlak. Yang perlu diingat bahwa tauhid sebagai sisi pokok/inti islam yang memang seharusnya kita utamakan, namun tidak berarti mengabaikan perkara penyempurnaannya. Dan akhlak mempunyai hubungan yang erat. Tauhid merupakan realisasi akhlak seorang hamba terhadap Allah dan ini merupakan pokok inti akhlak seorang hamba. Seorang yang bertauhid dan baik akhlaknya berarti ia adalah sebaik-baik manusia. Semakin sempurna tauhid seseorang maka semakin baik akhlaknya, dan sebaliknya bila seorang muwahhid memiliki akhlak yang buruk berarti lemah tauhidnya.

RASUL DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK

Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah. Karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4. bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia, “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR.Ahmad, lihat Ash Shahihah oleh Asy Syaikh al Bani no.45 dan beliau menshahihkannya).

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan : “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam : “Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”

KEUTAMAAN AKHLAK

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa suatu saat rashulullah pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Lihat Riyadus Sholihin no.627, tahqiq Rabbah dan Daqqaq).

Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menasehati sahabatnya, beliau shalallahu ‘alahi wasallam menggandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk bergaul/berakhlak yang baik kepada manusia sebagaimana hadits dari abi dzar, ia berkata bahwa rashulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan, dan dishahihkan oleh syaikh Al Salim Al Hilali).

Dalam timbangan (mizan) amal pada hari kiamat tidak ada yang lebih berat dari pada aklak yang baik, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesuatu yang paling berat dalam mizan (timbangan seorang hamba) adalah akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahihkan Al Bani. Lihat ash Shahihah Juz 2 hal 535). Juga sabda beliau : “ Sesungguhnya sesuatu yang paling utama dalam mizan (timbangan) pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, dishahihkan al Bani. Lihat Ash Shahihah juz 2 hal.535).

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata : Rashulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku majelisnya di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Ash shahihah Juz 2 hal 418-419).

Dari hadits-hadits di atas dapat dipahami bahwa akhlak yang paling baik memiliki keutamaan yang tinggi. Karena itu sudah sepantasnya setiap muslimah mengambilakhlak yang baik sebagai perhiasannya. Yang perlu diingat bahwa ukuran baik atau buruk suatu akhlak bukan ditimbang menurut selera individu, bukan pula hitam putih akhlak itu menurut ukuran adat yang dibuat manusia. Karena boleh jadi, yang dianggap baik oleh adat bernilai jelek menurut timbangan syari’at atau sebaliknya.

Jelas bagi kita bahwa semuanya berpatokan pada syari’at, dalam semua masalah termasuk akhlak. Allah sebagai Pembuat syari’at ini, Maha Tahu dengan keluasan ilmu-Nya apa yang mendatangkan kemashlahatan/kebaikan bagi hamba-hamba-Nya. (jamaahmasjid.blogspot.com)

Wallahu a’lam.

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Download File2 Islami | Baca Artikel Lainnya | Bangun Masjid di Sumbar! | Pasang Iklan Murah

Berlangganan Artikel