Tampilkan postingan dengan label Tips dan Trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips dan Trik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 September 2010

Tips Lindungi Anak dari Dampak Negatif Internet


Internet saat ini sudah menjadi kebutuhan pokok. Banyak keluarga berlangganan internet, sehingga anggota keluarga dapat mengaksesnya dengan mudah. Selain itu, kehadiran telepon seluler juga memungkinkan seseorang dapat mengakses internet kapan saja dan dari mana saja. Tak terkecuali anak-anak.

Terlebih munculnya jejaring sosial seperti facebook dan twitter, membuat anak-anak ketagihan internet. Mengapa? Karena mereka mendapatkan pengalaman baru dan kenyamanan dengan berinternet. Mereka mendapat sesuatu dari dunia maya yang tidak bisa didapatkan di dunia nyata.

Di dunia maya, seseorang bisa menjadi orang lain yang diinginkannya. Misal, seorang anak yang pemalu atau bahkan minder, menjadi agresif ketika berkenalan melalui chatting, e-mail atau faceebook. Ia lebih percaya diri karena temannya di dunia maya tidak tahu dia dalam dunia nyata. Anak-anak itu juga dapat membuat diri mereka menjadi karakter ideal, seperti cantik, kaya, atau hal lain yang mungkin berbeda dengan kehidupan nyata mereka.

Pertemanan tanpa batas pun terjadi, termasuk yang menjurus pada masalah intim.Ya, internet telah menjadi media bagi maniak seks bebas untuk mencari mangsa. Bayangkan, menurut data, ada 750.000 predator seksual setiap hari yang memanfaatkan ruang rumpi (chatting room) untuk berkenalan, kemudian merayu untuk melakukan hubungan seks. Mereka umumnya membidik para ABG yang belum berpengalaman dalam interaksi sosial. Bukankah sudah banyak remaja yang hilang kegadisannya setelah kopi darat dengan teman chatting-nya di dunia maya?

Karena itu, wajib bagi orang tua melindungi anak dari bahaya penggunaan internet, seperti pornografi dan para predator seksual. Beberapa tips berikut bisa dicoba:

1. Pahamkan tentang hukum internet dan pemanfaatannya.

Memang, dari sisi teknologi internet tidak haram, tapi kalau dimanfaatkan untuk hal-hal yang diharamkan akan menjadi haram. Tanamkan rasa takut pada Allah SWT, sehingga walau orang tua tidak ada, dia tahu bahwa Allah SWT memperhatikan dan melihat apa yang dilakukannya. Misal saat muncul situs porno, mereka dapat mengambil tindakan yang tepat. Mereka juga dapat memilah teman-temannya di facebook.

2. Orang tua jangan gaptek

Jangan mengganggap diri terlalu tua atau terlalu bodoh untuk mempelajari internet. Jadi, jangan gaptek (gagap teknologi). Kalau perlu, berbagilah dengan anak untuk sama-sama memahami teknologi. Kalau anak punya akun facebook, hubungkan dengan akun Anda agar tahu apa isinya, walau mungkin pakai nama samaran.

3. Letakkan komputer di tempat yang mudah dilihat.

Kadang orang tua merasa bangga dapat memajang komputer yang terhubung internet di kamar anaknya. Hal ini sebenarnya akan membahayakan anak karena mereka dapat leluasa mengakses situs-situs yang tidak baik tanpa diketahui orang tua. Sebaliknya, dengan meletakkan di tempat terbuka, misalnya di ruang keluarga, Anda dapat memantau situs apa saja yang dibuka anak.

4. Batasi penggunaan internet

Jangan biarkan anak-anak terlalu asyik di dunia maya. Tetapkan berapa lama internet boleh digunakan dan situs apa saja yang boleh diakses. Jelaskan juga, mengapa Anda melakukan hal ini dan bantu anak untuk memahami keputusan ini. Tanamkan bahwa itu semua demi kebaikan anak, bukan mengekang.

5. Jaga komunikasi yang baik dengan anak

Luangkan waktu untuk bercanda dengan anak dan berkomunikasi dengan terbuka. Komunikasi yang baik dan keakraban akan memudahkan Anda untuk menanamkan nilai-nilai moral. Anda dapat menjelaskan kepada anak apa saja bahaya penggunaan internet agar mereka tidak mudah terkecoh.

6. Antisipasi agar anak tidak kecanduan.

Ciri anak yang kecanduan internet antara lain melupakan aktivitas sehari-hari, seperti belajar, mandi, dan salat. Umumnya anak akan marah bila dibatasi dalam menggunakan internet. Dia juga cenderung enggan berkomunikasi dengan orang lain dan bersifat tertutup, atau hanya mau berteman dengan orang tertentu saja. Bila kondisi ini sudah menggejala, perlu perlakuan khusus untuk menyadarkan anak agar memahami dampak buruk kecanduan internet. Ajak anak bicara dari hati ke hati, pahamkan bahwa ini semua demi kebaikan dan masa depannya

Wallaahu a'lam

Senin, 13 September 2010

Cara Membersihkan Najis




Sudah dimaklumi bahwa Syari'at Allah dan Rasul-Nya telah memperkenalkan kepada kita eksistensi barang yang najis atau yang terkena najis dan juga telah menjelaskan kepada kita kaifiyah, cara membersihkannya. Kita wajib ittiba' (mengikuti) petunjuk-Nya dan merealisasikan perintah-Nya. Misalnya, manakala ada dalil yang memerintah mencuci sampai tidak tersisa bau, atau rasa ataupun warnanya, maka itulah cara membersihkannya.

Apabila ada dalil yang menyuruh dituangkan, atau disiram, atau digosok dengan air, atau digosokkan ke tanah, ataupun sekedar dipakai berjalan di permukaan bumi, maka itulah cara mensucikannya. Dan ketahuilah bahwa air merupakan pembersih aneka najis yang utama dan pertama. Hal ini didasarkan pada penjelasan Rasulullah saw. tentangnya, di mana Rasulullah saw. bersabda, "Allah telah menciptakan air sebagai pembersih." (as-Sailul Jarrar I:48, no: 42). (Mengenai sabda Nabi saw., "Allah telah menciptakan air sebagai pembersih" ini Al-hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Talkhishul Habir I: 14 menegaskan, "Aku tidak menjumpai hadits yang persis seperti itu, hanya yang semakna yang telah disebutkan di muka melalui Abu Sa'ad dengan "Sungguh air itu suci tidak bisa dinajiskan oleh sesuatu apapun" selesai).

Oleh sebab itu, tidak boleh bergeser kepada pembersih lain kecuali apabila ada kejelasan dari Nabi saw. Jika tidak ada, maka tidak boleh. Karena beralih dari sesuatu yang sudah dimaklumi sebagai pembersih kepada sesuatu yang tidak diketahui berfungsi sebagai pembersih, ini berarti menyimpang dari ketentuan rel syari'ah. (as-Sailul Jarrar I:48 no: 42 dengan sedikit diringkas).

Jika kita sudah memahami apa yang diuraikan di atas, maka ikutilah penjelasan syara' perihal sifat dan kiat membersihkan barang-barang yang najis atau yang terkena najis.

1. Membersihkan Kulit Bangkai dengan Menyamaknya.
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam riwayat berikut: Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: "Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda, 'Kulit apa saja yang disamak, maka ia menjadi suci.'" (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 2907, al-Fathur Rabbani I: 230 no:49, Tirmidzi III: 135 no: 1782 dan Ibnu Majah II:1193 no: 3609 serta Nasa'i VII: 173).

2. Membersihkan Bejana yang Dijilat Anjing
Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam riwayat dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Sucinya bejana seorang di antara kamu bila dijilat anjing ialah (hendaklah) ia mensucinya tujuh kali, yang pertama dicampur dengan debu tanah.'" (Shahih: Shahihul Jami'ush Shaghir no: 3933 dan Muslim I:234 no: 91/279).

3. Mensucikan Pakaian yang Terkena Darah Haidh
Sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat Asma' berikut ini, dari Asma' binti Abu Bakar ra, ia berkata, "Telah datang seorang perempuan kepada Nabi saw. seraya berkata, pakaian seorang di antara kami, terkena daerah haidh, bagaimana ia harus berbuat?" Maka jawab Beliau, '(Hendaklah) ia menggosoknya, lalu mengeringkan dengan air kemudian membilasnya, kemudian (boleh) shalat dengannya.'" (Muttafaqun 'alaih, Muslim I:240 no: 291 dan lafadz baginya, Fathul Bari I:410 no:307).

Kalau setelah itu ternyata ia masih tersisa bekasnya, maka tidak mengapa. Berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah ra bahwa Khaulah binti Yasar berkata, "Ya Rasulullah aku hanya mempunyai satu potong pakaian, dan (sekarang) saya haidh mengenakan pakaian tersebut?" Maka Rasulullah menjawab, 'Apabila kamu suci, maka cucilah yang terkena daerah haidhmu, kemudian shalatlah kamu dengannya.' Ia bertanya (lagi), 'Ya Rasulullah, (bagaimana) kalau bekasnya tidak bisa hilang?!' Rasulullah menjawab, 'Cukuplah air bagimu (dengan mencucinya) dan bekasnya tidak membahayakan (shalat)mu.'" (Shahih: Shahih Abu Daud no: 351, 'Aunul Ma'bud II: 26 no: 361 dan al-Baihaqi II: 408)

4. Membersihkan Pancung Pakaian Wanita
Cara membersihkannya adalah sebagaimana yang diuraikan riwayat di bawah ini, dari seorang ibu putera Ibrahim bin Abdurrahman bin 'Auf bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu Salamah isteri Nabi saw., "Sesungguhnya aku adalah seorang perempuan yang biasa melabukkan pancung pakaianku dan (kadang-kadang) aku berjalan di tempat yang kotor?" Maka Jawab Ummu Salamah, bahwa Nabi SAW pernah bersabda, 'Tanah selanjutnya menjadi pembersihnya.'" (Shahih: Shahih Ibnu Majah no: 430, Muwaththa' hal 27 no:44, 'Aunul Ma'bud II: 44 no: 379, Sunan Tirmidzi I: 95 no: 143, Ibnu Majah I: 177 no: 531).

5. Mensucikan Pakaian dari Anak Kecil yang Masih Menetek
Caranya sebabagaimana yang diriwayatkan berikut ini, dari Abus Samh, pembantu Nabi saw., ia berkata, bahwa Nabi SAW bersabda, "Dicuci (pakaian badan) yang terkena kencing anak perempuan dan (cukup) disiram dipercik air dari kencing anak laki-laki." (Shahih: Shahih Nasa'i no: 293, 'Aunul Ma'bud II: 36 no: 372 dan Nasa'i I: 158').

6. Membersihkan Pakaian dari Air Madzi
Dari Shal bin Hunaif, ia berkata, "Dahulu aku biasa mendapati kesulitan dan kepayahan karena madzi sehingga aku sering mandi karenanya. Lalu aku utarakan hal tersebut kepada Rasulullah SAW, maka Beliau bersabda, 'Sesungguhnya cukuplah bagimu hanya dengan berwudhu.' Kemudian aku bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana dengan madzi yang mengenai pakaianku?' Maka jawabnya, 'Cukuplah bagimu mengambil setelapak tangan air lalu tuangkanlah pada pakaianmu (yang terkena madzi) sampai lihat air itu membasahinya.' (Hasan: Shahih Ibnu Majah no: 409, 'Aunul Ma'bud 1: 358 no: 207, Tirmidzi I: 76 no:115 dan Ibnu Majah I: 169 no: 506).

7. Membersihkan Bagian bawah Sandal
Sebagaimana yang diriwayatkan berikut ini, dari Abus Said ra bahwa Nabi saw. bersabda, "Apabila seorang di antara kamu datang ke masjid, maka baliklah kedua sandalnya dan perhatikan keduanya: kalau Ia melihat kotoran (pada sandalnya), maka gosokkanlah ke tanah kemudian shalatlah dengan keduanya." (Shahih: Shahih Abu Daud no: 605 dan 'Aunul Ma'bud II:353 no:636).

8. Mensucikan Tanah/Lantai
Dari Abu Hurairah ra ia berkata, "Telah berdiri seorang Arab Badui di (pojok) dalam masjid lalu kencing, maka kemudian para sahabat hendak menghentikannya, lalu Nabi saw. bersabda kepada mereka, 'Biarkan dia (sampai selesai) dan (kemudian) tuangkanlah di atas kencingnya setimba air atau seember air, karena kalian diutus (ke permukaan bumi) sebagai pemberi kemudahan, bukan ditampilkan untuk menyulitkan.'" (Muttafaqun 'alaih: Irwa-ul Ghalil no: 171, Fathul Bari I: 323 no: 220, Nasa'i I:48 dan 49 dan diriwayatkan secara panjang lebar oleh Abu Dawud, 'Aunul Ma'bud II:39 no:376, dan Tirmidzi I:99 no:147).

Nabi saw.memerintah para sahabat berbuat demikian hanyalah sebagai tindakan cepat agar tanah yang dikencingi segera suci kembali. Kalau tanah yang dimaksud dibiarkan sampai kering dan bau pesingnya hilang maka ia menjadi suci. Ini didasarkan pada riwayat Ibnu Umar ra. Ia berkata: "anjing-anjing sering kencing di dalam masjid, dan biasa keluar masuk (masjid) pada era Rasulullah SAW, dan para sahabat tidak pernah menyiramnya sedikitpun." (shahih: Shahih Abu Daud no:368, Fathul Bari secara mu'allaq 1:278 no:174 dan 'Aunul Ma'bud II:42 no: 378). (jamaahmasjid.blogspot.com)

Sumber: Diadaptasi dari 'Abdul 'Azhim bin Badawi al-Khalafi, Al-Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitabil 'Aziz, atau Al-Wajiz Ensiklopedi Fikih Islam dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah, terj. Ma'ruf Abdul Jalil (Pustaka As-Sunnah), hlm. 62 --67.

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Download File2 Islami | Baca Artikel Lainnya | Bangun Masjid di Sumbar! | Pasang Iklan Murah

Berlangganan Artikel

Cara Menangkal dan Menanggulangi Sihir




Alloh Subhanahu wa Ta’ala telah mensyari’atkan kepada hamba-hamba-Nya supaya mereka menjauhkan diri dari kejahatan sihir sebelum terjadi pada diri mereka. Alloh Subhanahu wa Ta’ala juga menjelaskan tentang bagaimana cara pengobatan sihir bila telah terjadi. Ini merupakan rahmat dan kasih sayang Alloh Subhanahu wa Ta’ala, kebaikan dan kesempurnaan nikmat-Nya kepada mereka.

Berikut ini beberapa penjelasan tentang usaha menjaga diri dari bahaya sihir sebelum terjadi, begitu pula usaha dan cara pengobatannya bila terkena sihir, yakni cara-cara yang dibolehkan menurut hukum syara’.Pertama: Tindakan Preventif, yakni usaha menjauhkan diri dari bahaya sihir sebelum terjadi. Cara yang paling penting dan bermanfaat ialah penjagaan dengan melakukan dzikir yang disyari’atkan, membaca do’a dan ta’awudz sesuai dengan tuntunan Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, diantaranya seperti di bawah ini:


Membaca ayat Kursi setiap selesai shalat lima waktu, sesudah membaca wirid atau ketika akan tidur. Karena ayat Kursi termasuk ayat yang paling besar nilainya di dalam Al Qur’an. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda dalam salah satu hadits shahihnya, yang artinya: “Barangsiapa membaca ayat Kursi pada amalam hari, Alloh senantiasa menjaganya dan syetan tidak mendekatinya sampai shubuh”. Ayat Kursi terdapat dalam surat Al Baqoroh ayat 255 yang artinya: “Alloh tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Dia, Yang Hidup Kekal lagi terus menerus mengurus (mahluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur, Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa’at di sisi Alloh tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengtahui apa –apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Alloh tidak merasa berat memelihara keduanya dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”.

Membaca surat Al-Ikhlas, surat Al-falaq, dan surat An-naas pada setiap selesai shalat lima waktu, dan membaca ketiga surat tersebut sebanyak tiga kali pada pagi haru sewsudang shalat shubuh, dan menjelang malam sesudah shalat maghrib, sesuai dengan hadits riwayat Abu Dawud, At-Tirmidzi dan An-Nasa’i.

Membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh yaitu ayat 285 – 286 pada permulaan malam, sebagaimana sabda Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, yang artinya: “Barangsiapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqoroh pada malam hari, maka cukuplah baginya”.

Banyak berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna. Hendaklah dibaca pada malam hari dan siang hari ketika berada di suatu tempat, ketika masuk ke dalam suatu bangunan, ketika berada di tengah padang pasir, di udara atau di laut. Sabda Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang artinya: “Barangsiapa singgah di suatu tempat dan dia mengucapkan:’ A’udzu bi kalimaatillahi attaammaati min syarri maa khalaq’ (Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Alloh yang sempurna dari kejahatan makhluk ciptaan-Nya), maka tidak ada sesuatupun yang membahayakannya sampai ia pergi dari tempat itu”. (HR: Muslim).

Membaca do’a di bawah ini masing-masing tiga kali pada pagi hari dan menjelang malam: “Bismillahilladziilaa ya dhurru ma’asmihi syai-un fiilardhi w alaa fiissamaaa’i wa huwassamii’ul ‘aliim. (Dengan Nama Alloh, yang bersama namaNya, tidak ada sesuatupun yang membahayakan, baik di bumi maupun di langit dan Dia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui). (HR: Abu Daud dan At-Tirmidzi).

Bacaaan dzikir dan ta’awwudz ini merupakan sebab-sebab yang besar untuk memperoleh keselamatan dan untuk menjauhkan diri dari kejahatan sihir dan kejahatan lainnya. Yaitu bagi mereka yang selalu mengamalkannya secara benar disertai keyakinan yang penuh kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala, bertumpu dan pasrah kepada-Nya dengan lapang dada dan hati yang khusyu’

Kedua: Bacaan-bacaan seperti ini juga merupakan senjata ampuh untuk menghilangkan sihir yang sedang menimpa seseorang, dibaca dengan hati yang khusyu’, tunduk dan merendahkan diri, seraya memohon kepada Allah agar dihilangkan bahaya dan malapetaka yang dihadapi.

Do’a-do’a berdasarkan riwayat yang kuat dari Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk menyembuhkan penyakit yang disebabkan oleh sihir dan lain sebagainya adalah sebagai berikut:

Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam me-ruqyah (mengobati dengan membaca ayat-ayat Al-Qur’an atau do’a-do’a syar’i) sahabat-sahabatnya dengan bacaan: “Allahumma robbinnaasi adzhibil ba-sa wasyfi antasy syaafii laa syifaa-a illaa syfaa-uka syifaa-allaa yughoodiru saqomaa” (Ya Alloh, Tuhan segenap manusia..! Hilangkanlah sakit dan sembuhkanlah, Engkau Maha Penyembuh, tidak ada penyembuhan melainkan penyembuhan dari-Mu, penyembuhan yang tidak meninggalkan penyakit”.(HR: Muslim).

Do’a yang dibaca Jibril ‘Alaihi Sallam, ketika me-ruqyah Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. “Bismillahi arqiika min kulli syai-in yu-dziika wa min syarriin kulli nafsinn aw ‘aini khaasid. Allahu yasyfiika bismillaho arqiika” (Dengan Nama Alloh, Aku meruqyahmu dari segala yang meyakitkanmu, dan dari kejahatan setiap diri atau dari pandangan mata yang penuh kedengkian, semoga Alloh menyembuhkanmu, dengan Nama Allah aku Meruqyahmu”. Bacaan ini hendaknya diulang tiga kali.


Pengobatan sihir cara lainnya, terutama bagi laki-laki yang tidak dapat berjima’ (hubungan seks) dengan istrinya karena terkena sihir. Yaitu, ambillah tujuh lembar daun bidara yang masih hijau, ditumbuk atau digerus dengan batu atau alat tumbuk lainnya, sesudah itu dimasukkan ke dalam bejana secukupnya untuk mandi; bacakan ayat Kursi pada bejana tersebut; bacakan pula surat Al-Kafirun, Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, dan ayat-ayat sihir dalam surat Al-A’raf ayat 117-119, surat Yunus ayat 79-82 dan surat Thaha ayat 65-69.

Cara pengobatan lainnya, sebagi cara yang paling bermanfaat ialah berupaya mengerahkan tenaga dan daya untuk mengetahui dimana tempat sihir terjadi, di atas gunung atau di tempat manapun ia berada, dan bila sudah diketahui tempatnya, diambil dan dimusnahkan sehingga lenyaplah sihir tersebut.

Inilah beberapa penjelasan tentang perkara-perkara yang dapat menjaga diri dari sihir dan usaha pengobatan atau cara penyembuhannya, dan hanya kepada Allah kita memohon pertolongan.

Adapun pengobatan dengan cara-cara yang dilakukan tukang-tukang sihir, yaitu dengan mendekatkan diri kepada jin disertai dengan penyembelihan hewan, atau cara-cara mendekatkan diri lainnya, maka semua ini tidak dibenarkan karena termasuk perbuatan syirik paling besar yang wajib dihindari.

Demikian pula pengobatan dengan cara bertanya kepada dukun, ‘arraf (tukang ramal) dan menggunakan petunjuk sesuai dengan apa yang mereka katakan. Semua ini tidak dibenarkan dalam islam, karena dukun-dukun tersebut tidak beriman kepada Allah; mereka adalah pendusta dan pembohong yang mengaku mengetahui hal-hal ghaib, dan kemudian menipu manusia. Rasululloh Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memperingatkan orang-orang yang mendatangi mereka baik hanya menanyakan apalagi yang membenarkan apa yang mereka katakan.

Kepada Alloh Subhanahu wa Ta’ala kita memohon, agar seluruh kaum muslimin dilimpahkan kesejahteraan dan keselamatan dari segala kejahatan, dan semoga Alloh melindungi mereka, agama mereka, dan menganugerahkan kepada mereka pemahaman dan agama-Nya, serta memelihara mereka dari segala sesuatu yang menyalahi syari’at-Nya. (jamaahmasjid.blogspot.com)

Wallahu 'alam.

(Sumber Rujukan: Hukum Sihir Dan Perdukunan, Syaikh Abdul Aziz bin Abdul Aziz bin Baaz, Ditjen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Depag RI bekerjasama dengan Al Haramain Islamic Foundation)

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Download File2 Islami | Baca Artikel Lainnya | Bangun Masjid di Sumbar! | Pasang Iklan Murah

Berlangganan Artikel

Rabu, 28 Juli 2010

Siapkan Fisik dan Mental dalam Menyambut Ramadhan


Tidak lama lagi, akan datang tamu agung ke tengah-tengah kehidupan kita, yakni bulan Ramadhan, bulan yang penting bagi ummat Islam. Bulan itu merupakan ajang kita untuk bertadharru’, meratap kepada Allah agar segala kesusahan, kedlaliman dan diskriminasi dijauhkan dari kita. Dan semoga umat ini juga ditunjukkan jalan yang benar, yaitu jalan dimana para pejuang kebenaran diberikan kejayaan atas orang-orang pembuat kerusakan. Semoga Allah menggandeng tangan umat ini kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Tinggal beberapa hari lagi, kita kedatangan bulan Romadhan. Sudah sewajarnya kita menyambutnya dengan suka cita.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang istimewa bagi umat muslim. Pertama karena al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan. Selain itu di dalam bulan yang Ramadhan ini Allah menjauhkan semua penyebab kehancuran dan kemaksiatan, syaitan diikat, hingga tidak kuasa untuk membujuk manusia melakukan kemaksiatan yang keji dan terlarang, karena manusia sibuk melakukan ibadah, mengekang hawa nafsu mereka dengan beribadah, berdzikir dan membaca al-Qur’an. Ini sekaligus penggugah hamba beriman bahwa tidak ada alasan lagi untuk meninggalkan ibadah dan taat kepada Allah ataupun melakukan maksiat karena sumber utama penyebab kemaksiatan, yaitu syetan telah dibelenggu.

Maka sangat beruntunglah bagi mereka yang mau memanfaatkan kesempatan tersebut, dan mudah-mudahan menjadi salah satu dari mereka yang dimuliakan dan diselamatkan dari api neraka di bulan suci tersebut. Sesungguhnya Allah membebaskan hamba-Nya dari siksa neraka karena beberapa amal : ada yang karena mentauhidkan Allah, ada yang karena sholat dan zakat, dan pembebasan pada bulan Ramadhan adalah karena puasa dan barakah yang terkandung di dalamnya, dengan banyaknya dzikir dan taubat yang di lakukan dalam bulan suci itu. Nabi Muhammad s.a.w. telah menceritakan dari tuhannya (Allah).;

“Barang siapa berpuasa di bulan suci itu dengan beriman dan mengharap pahala dari sisi Allah maka diampuni segala dosa yang telah ia lakukan di masa lalu”

Dan dalam riwayat yang lain dikatakan,

“Barang siapa menghidupkan malam lailatul qadar dengan beriman dan bertulus hati maka diampunilah dosa yang telah ia lakukan”.

Nah, agar ramadhan yang akan datang kita bisa menjalaninya dengan sukses, maka perlu ada persiapan-persiapan yang baik. Sekarang apa saja yang perlu kita siapkan untuk menjamu tamu kita? Di sini akan diutarakan beberapa hal yang harus kita siapkan dalam menghadapi tamu idaman kita itu, bukan bermaksud untuk menggurui pembaca, tapi mungkin ada terselip sedikit manfaat yang dapat kita ambil dari apa yang ada.

Di antara persiapan tersebut adalah:

a. Persiapan Mental

Islam selalu mengajarkan kita dalam melaksanakan amal shaleh harus diawali dengan niat yang tulus. Bahkan dalam beberapa amal shaleh, niat itu merupakan syarat atau rukun dari amal yang akan dilaksanakan. Secara psikologis niat sangat membantu amal yang akan dilakukan dan memberikan dampak yang sangat positif. Niat akan memunculkan sebuah semangat dan ketahanan seorang muslim dalam melaksanakan ibadah. Oleh karena itulah niat menjadi pilar utama dalam beribadah. Ramadhan adalah bulan yang dipenuhi oleh ibadah yang akan dilakukan orang-orang beriman selama sebulan. Oleh karenanya, diperlukan kesiapan mental dalam menyongsong pelbagai macam bentuk ibadah tersebut, khususnya puasa, bangun malam, tarawih dan lain-lain. Tanpa persiapan mental yang prima, maka orang-orang beriman akan cepat loyo dalam beribadah atau bahkan meninggalkan sebagian ibadah sama sekali. Kesiapan mental sangat dibutuhkan pada saat menjelang hari-hari terakhir, karena tarikan keluarga yang ingin belanja mempersiapkan hari raya, pulang kampung dan sebagainya, sangat mempengaruhi umat Islam dalam menunaikan kekhusyukan ibadah Ramadhan. Padahal, kesuksesan ibadah Ramadhan seorang muslim dilihat dari akhirnya. Jika akhir Ramadhan diisi dengan ‘i`tikâf dan taqarrub serta ibadah lainnya, maka insya Allah, dia termasuk yang sukses dalam melaksanakan ibadah Ramadhan.

b. Persiapan spiritual

Persiapan ruhiyah dapat dilakukan dengan memperbanyak ibadah, seperti memperbanyak membaca al-Qur’an, puasa sunnah, dzikir, do’a dan lain-lain. Dalam hal ini Rasulullah saw. mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya`ban, sebagaimana yang diriwayatkan `A’isyah ra.:

“Saya tidak melihat Rasulullah saw. menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya`ban.” (HR Muslim).

Bulan Sya`ban adalah bulan di mana amal shaleh diangkat ke langit. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis:

“Dari Usamah bin Zaid berkata, saya bertanya: “Wahai Rasulullah, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya`ban”. Rasul saw. bersabda: “Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkatnya amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam keadaan berpuasa.” (Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan Ibnu Huzaymah).

Sebenarnya inilah hal-hal yang selama ini sering kita lupakan. entah itu karena kita tidak tahu, karena lalai, dan bahkan kita tahu, tapi berpura-pura tidak tahu.

c. Persiapan Fisik dan Materi

Fisik dan materi sangat menopang ibadah di bulan Ramadhan yang dilakukan seorang Muslim. Seorang Muslim tidak akan maksimal dalam berpuasa jika fisiknya lemah. Oleh sebab itu kita dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan diri sendiri, rumah, dan bahkan lingkungan kita. Rasulullah saw. justru mencontohkan kepada umatnya agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan dalam berpuasa jika fisiknya lemah. Oleh sebab itu kita dituntut untuk menjaga kesehatan fisik, kebersihan diri sendiri, rumah, dan bahkan lingkungan kita. Rasulullah saw. justru mencontohkan kepada umatnya agar selama berpuasa tetap memperhatikan kesehatan.

Menjaga kesehatan adalah bagian dari ajaran agama. Oleh karena itu berulang kali Rasulullah saw. mengingatkan umatnya agar meminta kesehatan kepada Allah dan menjaganya supaya tidak merugi, karena kesehatan adalah salah satu modal terpenting kita untuk bisa beribadah.

Orang yang merugi adalah yang tidak menggunakan kesehatannya untuk kebaikan dan yang lebih rugi lagi tidak menjaga kesehatannya. Rasullah saw. bersabda dalam hadist sahih riwayat Tirmidzi

“Dua nikmat Allah yang di situ banyak orang merugi, yaitu nikmat kesehatan dan waktu luang”

Ya karena banyak orang menyia-nyiakan kesehatan dan waktu luangnya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat.

d. Persiapan Ilmu.

Yang satu ini jangan dianggap remah. Jangan mentang-mentang sudah setiap tahun melakukan puasa, lalu menganggap semua persoalan puasa sudah diketahui. Ingatlah bahwa salah satu syarat diterimanya amal adalah mutaba’ah. Yakni mengikuti sunnah dan tuntunan Rasulullah saw. Ibadah yang dilakukan tidak sesuai dengan tuntunan Rasulullah tidak ada nilainya, sebagaimana sabda Rasulullah saw;

Barangsiapa mengamalkan suatu amal perbuatan, yang bukan merupakan perintah kami, maka ia tertolak (HR Muslim)

nah, agar ibadah bisa sesuai dengan sunnah Rasulullah itulah, kita dituntut untuk senantiasa mempelajari amal kita. berkaitan dengan amaliyah bulan ramadlan ini, maka kita pun harus persiapkan ilmu yang berkaitan dengan persoalan Ramadlan. Agar kita bisa menjalani kewajiban agung di bulan yang penuh dengan berkah ini dengan optimal. dan pahala kita diterima oleh Allah swt. [jamaahmasjid.blogspot.com - muslimdaily]

Oleh Ustad Budi Prasetyo, Pengajar di Ponpes Assalam Surakarta

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan mereferensikan URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com/. Jazakumullah khairan katsiraa telah membaca dan mereferensikan.

Ingin mencoba toolbar Islami yang baru & unik di Firefox/Internet Explorer Sobat? Klik link http://berjamaah.ourtoolbar.com/

Download File2 Islami | Baca Artikel Lainnya | Infaq | Pasang Iklan Murah

Berlangganan Artikel

Mewaspadai Sikap Kaum Munafik


Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. Apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati (TQS Ali Imran [3]: 119).

Dalam pergaulan kehidupan, setiap Muslim harus mengetahui siapa yang sesungguh-nya menjadi kawan atau lawan mereka. Apabila salah meng-indentifikasi perkara ini, yakni menganggap dan memper-lakukan kawan sebagai lawan atau sebaliknya; bisa berakibat fatal.

Ayat ini adalah di antara ayat yang memberikan panduan kepada kita mengenai siapa yang sesungguhnya menjadi musuh dan lawan kita berikut sikap yang harus diambil.

Jangan Mencintai Kaum Membenci
Allah SWT berfirman: Hâ antum ûlâi tuhibbûnahum wa lâ tuhibbûnakum (beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka tidak menyukai kamu). Tema ayat ini masih berkait erat dengan ayat sebelumnya. Dalam ayat sebelumnya, kaum Mukmin dilarang mengangkat orang-orang kafir sebagai bithânah (orang dalam yang menjadi kepercayaan). Ditegaskan bahwa mereka tidak henti-hentinya menimbulkan kemudaratan dan menyukai apa yang menyusah-kan kaum Mukmin. Kebencian mereka terhadap kaum Mukmin juga telah nyata dari mulut-mulut mereka. Bahkan apa yang disembunyikan dalam hati mere-ka jauh lebih besar.

Huruf al-hâ' di awal ayat ini bermakna tanbîh (peringatan). Sedangkan dhamîr antum (kali-an) dalam ayat ini pun merujuk kepada mukhâthab (pihak yang diseru) dalam ayat sebelumnya: al-ladzîna âmanû. Oleh karena itu, seruan ayat ini ditujukan kaum Mukmin. Atau secara lebih khusus, sebagaimana dipapar-kan al-Syaukani dan al-Baidhawi, mereka adalah kaum Mukmin yang salah dalam ber-muwâlah dengan non-Muslim.

Ayat ini kemudian menje-laskan tentang kesalahan tin-dakan tersebut, yakni: tuhib-bûnahum wa lâ tuhibbûnakum (kalian menyukai mereka, pada-hal mereka tidak menyukai kalian). Jika dibaca secara keselu-ruhan, dhamîr hum (mereka) yang berkedudukan sebagai maf'ûl (objek) adalah kaum Munafik. Memang ada yang membatasi bahwa mereka ada-lah munafik dari kalangan Yahudi atau munafik dari kalangan Ahli Kitab. Alasannya, ketika ayat ini turun kaum Anshar masih yang memiliki hubungan khusus de-ngan kaum Yahudi. Akan tetapi, sebagaimana diterangkan Abu Hayyan al-Andalusi dalam Tafsîr al-Bahr al-Muhîth, kata ganti mereka itu merujuk kepada bithânah selain Muslim dalam ayat sebelumnya. Sehingga, kata ganti mereka mencakup seluruh munafik, termasuk di dalamnya munafik dari kalangan musyrikin.

Menurut Abu Hayyan al-Andalusi, al-mahabbah di sini berarti kecenderungan manusi-awi yang disebabkan oleh keke-rabatan, persusuan, atau perse-kutuan. Fakhruddin al-Razi me-maknai lebih luas. Semua hal yang menyebabkan kecintaan kaum Muslim terhadap kaum kafir tercakup dalam ayat ini. Sebaliknya, sebagaimana dijelas-kan al-Baghawi, mereka tidak menyukai kalian lantaran perbe-daan agama di antara kalian dengan mereka. Realitas ini me-nunjukkan, mereka tidak layak dicintai. Menurut al-Razi, pembe-ritahuan tentang kebencian me-reka itu menjadi pendorong baik secara thabi'î maupun syar'i agar kaum Mukmin membenci me-reka.

Apabila masih saja mencin-tai mereka, kerugianlah yang akan didapat. Berkaitan dengan ini, menarik juga disimak QS al-Mumtahanah [60]: 1. Dalam ayat tersebut Allah SWT melarang kaum Mukmin karena dorongan kasih sayang-- menjadikan kaum kafir sebagai wali (teman setia) seraya membocorkan rahasia kaum Muslim kepada mereka. Padahal, keimananlah yang menjadi penyebab munculnya permusuhan mereka terhadap Rasulullah SAW dan kaum Muk-min. Oleh karena itu, orang yang mengangkat musuh Allah SWT dan kaum Mukmin itu akan menuai kerugian besar. Bukan hanya mendapatkan dosa, tetapi kecintaannya juga tidak berbalas. Lebih dari itu, dia bahkan diperlakukan sebagai musuh. Allah SWT berfirman: Jika mereka menangkap kamu, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagimu dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepadamu dengan menyakiti (mu); dan mereka ingin supaya kamu (kembali) kafir (TQS al-Mumtahanah [60]: 2).

Selain itu, juga: wa tu'mi-nûna bi al-Kitâb kullihi (dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya). Kata al-Kitâb di sini mengandung makna li al-jins, sehingga mencakup semua jenis kitab yang diturunkan Allah SWT. Itu artinya, demikian papar al-Syaukani, kalian telah beriman terhadap semua kitab Allah SWT, termasuk kitab mereka. Lalu, mengapa kalian mencintai mere-ka, padahal mereka tidak ber-iman kepada kitab kalian? Ini merupakan tawbîkh syadîd (te-guran keras) terhadap mereka. Sebab, orang yang berada dalam kebenaran seharusnya lebih berhak untuk bersikap tegas dan keras daripada orang yang berada dalam kebatilan. Bertolak dari realitas ini, Ibnu Katsir juga menyatakan bahwa seharusnya kalianlah yang lebih benci kepa-da mereka; melebihi kebencian mereka terhadap kalian.

Besarnya Kebencian Mereka
Kemudian Allah SWT mem-buka kedok mereka yang sebe-narnya dengan firman-Nya: Wa idzâ laqûkum qâlû âmannâ (apabila mereka menjumpai ka-mu, mereka berkata: "Kami beriman"). Ayat ini memberi-takan bahwa tatkala bertemu dengan kaum Mukmin, mereka tidak menunjukkan permusuhan sama sekali. Bahkan, mereka pun berani berdusta dengan meng-aku sebagai sebagai orang yang beriman. Namun karena peng-akuan mereka didasarkan pada sikap nifaq, maka setelah per-temuan usai, sikap mereka berubah seratus delapan puluh derajat. Allah SWT berfirman: Wa idzâ khalaw 'azhzhû 'alaykum al-anâmil min al-ghayzh (dan apa-bila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci terha-dap kamu). Inilah sikap mereka yang sesungguhnya. Ini adalah sikap kaum Munafik sebagai-mana diberitakan dalam QS al-Baqarah [2]: 14.

Kata al-anâmil berarti athrâf al-ashâbi' (ujung jari). Sedangkan al-ghayzh berarti al-hanaq atau al-ghadhab (marah). Ungkapan bahwa mereka meng-gigit jari lantaran marah bisa menunjukkan besarnya kema-rahan mereka. Demikian penje-lasan Ibnu Katsir dan al-Jazairi. Kata menggigit, menurut al-Qurthubi, merupakan ungkapan untuk menunjukkan dahsyatnya kemarahan mereka, akan tetapi tidak mampu melampiaskannya.

Terhadap besarnya keben-cian mereka Allah SWT berfir-man: qul mûtû bighayzhikum (katakanlah [kepada mereka]: "Matilah kamu karena kemara-hanmu itu"). Beberapa mufassir, seperti al-Razi, al-Zamkhsyari, al-Samaqandi, dan al-Baidhawi perintah ini berarti doa. Ada pula yang menafsirkannya, sebagai-mana disitir Abu Hayyan, kalimat tersebut bukan doa, tetapi seba-gai al-tawbîkh wa al-taqrî' (tegur-an dan celaan keras). Alasannya, seandainya doa, maka mereka semua akan mati dalam keadaan demikian. Padahal ada di antara yang beriman kemudian setelah ayat ini turun. Ibnu Katsir me-ngatakan, "Selama kalian men-dengki dan membenci kaum Mukmin, maka ketahuilah bahwa Allah memenuhi kenikmatan-Nya kepada hamba-Nya yang Muk-min, menyempurnakan agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan memenangkan agama-Nya, maka matilah kalian dengan kebencian kalian."

Mereka pun diingatkan ten-tang sia-sianya kedustaan dan kemunafikan mereka. Allah SWT berfirman: Innal-Lâh 'Alîm bi dzât al-shudûr (sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati). Jangankan yang tampak lahir, yang masih tersimpan di dalam dada pun Allah SWT mengeta-huinya. Sebagaimana dijelaskan al-Razi, yang dimaksud dengan dzât al-shudûr adalah segala yang timbul dalam hati, berbagai motif dan perilaku hati. Termasuk besarnya kebencian mereka yang disembunyikan dalam hati mereka (lihat QS Ali Imran [3]: 118).

Ayat ini menunjukkan ke-pada kita secara jelas siapa musuh kita, dan bagaimana memperlakukan mereka. Jangan sampai kita salah menempat-kannya menjadi orang yang dicintai, teman setia. atau pe-mimpin yang ditaati. Jika demikian, masih adakah yang menganggap mereka sebagai kawan karena alasan pluralisme? Wal-Lâh a'lam bi al-shawâb.

Ikhtisar:
1. Kebencian kaum kafir terhadap kaum Mukmin amat besar. Bagaimana mungkin kaum Mukmin bisa mencintai mereka?

2. Kita tidak boleh terlena dengan sikap nifaq dan manis muka mereka.

Oleh: jamaahmasjid.blogspot.com - Rokhmat S. Labib, M.E.I.

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan mereferensikan URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com/. Jazakumullah khairan katsiraa telah membaca dan mereferensikan.

Ingin mencoba toolbar Islami yang baru & unik di Firefox/Internet Explorer Sobat? Klik link http://berjamaah.ourtoolbar.com/

Download File2 Islami | Baca Artikel Lainnya | Infaq | Pasang Iklan Murah

Berlangganan Artikel

Sabtu, 05 Juni 2010

Rahasia Menangani Kejahilan Setan, Raih Semangat Pagi


Allah yang menciptakan manusia dan setan - melalui RasulNya - telah membuka rahasia yang amat berharga kepada manusia untuk menangani kejahilan setan sbb:

“Setan melilit leher seseorang di antara kalian dengan tiga lilitan ketika ia tidur. Dengan setiap lilitan setan membisikkan, “Nikmatilah malam yang panjang ini”. Apabila ia bangun dan mengingat Allah, maka lepaslah lilitan itu. Apabila ia berwudhu, lepaslah lilitan kedua. Kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak (dilakukan), ia akan terbawa lamban dan malas” (HR Bukhari – Muslim)

Jadi, untuk menangani kejahilan setan waktu kita tidur, ada 3 tahapan:

Tahap 1
Ingatlah Allah saat mendengar weaker (baca doa: Alhamdulillahi lladzii ahyaana ba'da maa amaatana wa ilaihi nusuur *). Walaupun ketika itu kita masih ngantuk berat, pastikan kita lakukan tahap yang mudah ini! Tahap 1 ini akan melepas belenggu lilitan setan pertama. Karena lilitan setan telah berkurang satu, maka beban kita menjadi lebih ringan. Hal ini akan mempermudah untuk melakukan tahap 2. Inilah bukti kemurahan sang Maha Pemurah, karena untuk mengawali penanganan lilitan setan cukup dengan mengingat Allah. Bukankah ini hal yang sangat mudah?

Tahap 2
Berwudhu adalah hidroteraphy yang dahsyat. Ribuan syaraf penting diteraphy dengan sentuhan tangan dan rangsangan air segar pada saat kita berwudhu. Inilah saat melepas belenggu lilitan setan yang kedua! Dengan telah berkurangnya dua lilitan, maka kitapun akan lebih bersemangat untuk melakukan tahap 3.

Tahap 3
Shalatlah dua rakaat, maka lepaslah semua belenggu lilitan setan. Kata Nabi: "...kemudian apabila ia shalat, lepaslah lilitan ketiga, sehingga ia menjadi bersemangat. Tetapi kalau tidak (dilakukan), ia akan terbawa lamban dan malas” (HR Bukhari – Muslim)

Mulai malam ini, mari kita selalu lakukan tahap-tahap penting ini. Inilah salah satu tabir rahasia yang telah Allah bukakan untuk kepentingan manusia. Resep mahal, yang tak seorangpun mampu membuatnya. Petunjuk dari sang Maha Menunjukkan... petunjuk yang tak mungkin salah!

Setelah itu, jangan lupa untuk shalat Shubuh berjamaah di masjid...

*) Artinya: segala puji bagi Allah yang menghidupakan kami setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kami kembali. (http://jamaahmasjid.blogspot.com)

Oleh: Akhmad Tefur - shalatsempurna.com | Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan mereferensikan URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com. Jazakumullah khairan katsiraa telah membaca dan mereferensikan.

Download File2 Islami |Baca Artikel Lainnya

Berlangganan Artikel

Minggu, 30 Mei 2010

Kesalahan Seputar Shaf dalam Sholat Berjamaah


1. Tidak bersegera menempati shaf pertama bagi orang yang datang lebih dahulu
Sebagian orang datang bersegera ke masjid dan melihat banyak tempat yang masih kosong di shaf pertama, hanya saja ia lebih berlambat-lambat untuk menempati shof kedua atau ketiga agar bisa bersandar pada tiang, misalnya, atau terbelakang di belakang masjid agar bisa bersandar pada dinding misalnya. Semua ini menyelisihi perintah Nabi SAW agar bersegera menempati shof pertama.

Rosululloh SAW bersabda:
لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي النِّدَاءِ وَالصَّفِّ الْأَوَّلِ ثُمَّ لَمْ يَجِدُوا إِلَّا أَنْ يَسْتَهِمُوا عَلَيْهِ لَاسْتَهَمُوا
"Seandainya manusia mengetahui pahala yang terdapat dalam adzan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mendapatkan kecuali dengan diundi, niscaya mereka melakukannya"(HR. Bukhori dari Abu Huroiroh RA )

لَوْ تَعْلَمُونَ أَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لَكَانَتْ قُرْعَةً
"Seandainya kalian tahu atau mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shaf pertama, niscaya telah menjadi undian" (HR. Muslim dari Abu Huroiroh RA )

Dan Rosululloh mengancam bagi orang yang sengaja bahkan senang membuat shaf belakang/akhir.

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى فِي أَصْحَابِهِ تَأَخُّرًا فَقَالَ لَهُمْ تَقَدَّمُوا فَأْتَمُّوا بِي وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ لَا يَزَالُ قَوْمٌ يَتَأَخَّرُونَ حَتَّى يُؤَخِّرَهُمُ اللَّهُ
Rosululloh SAW melihat ada yang mengambil shaf belakang. Maka Nabi SAW bersabda: majulah kalian dan ikutilah aku, dan hendaklah yang setelah kalian mengikuti kalian. Kaum yang senantiasa mengambil shof akhir akan diakhirkan Ta'ala dari rahmat-Nya. (HR. Muslim dari Abu Sa'id al Khudriy)

2. Melangkahi leher-leher Jamaah karena ingin menempati shaf pertama
Sebagian kaum muslimin datang terlambat, kemudian terus menerus melangkahi leher-leher banyak orang hingga sampai shaf pertama. Ini kesalahan. Tetapi mestinya ia duduk di akhir majelis itu.

Rosululloh SAW bersabda:
أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَعَلَ يَتَخَطَّى النَّاسَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اجْلِسْ فَقَدْ آذَيْتَ وَآنَيْتَ
"Seseorang masuk masjid pada hari jum'at saat Rosululloh SAW berkhutbah. Lalu ia melangkahi orang-orang, maka Rosululloh SAW bersabda: Duduklah ! sesungguhnya kamu telah mengganggu dan kamu telah terlambat" (HR. Ibnu Majah dari Jabir bin Abdillah RA , di shohihkan oleh Albani)

3. Tidak menegakkan (meluruskan dan merapatkan) shof sholat berjama'ah
Sebagian kaum muslimin mengira bahwa sholat jama'ah bisa sempurna meskipun dengan berbaris seadanya saja. Hal ini tidak betul, karena menegakkan shaf adalah hal yang sangat prinsip (mendasar) dalam sholat berjama'ah.

Sabda Rosululloh SAW :
أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ وَتَرَاصُّوا فَإِنِّي أَرَاكُمْ مِنْ وَرَاءِ ظَهْرِي
"Tegakkanlah dan luruskanlah shaf-shaf kalian, sesungguhnya aku melihat kalian dari belakang punggungku" (HR. bukhori dari Anas bin Malik RA )

سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ
"Luruskanlah Shaf-shaf kalian, sesungguhnya meluruskan shaf adalah termasuk menegakkan sholat" (HR. Bukhori dari Anas bin Malik RA )

أَقِيمُوا صُفُوفَكُمْ ثَلَاثًا وَاللَّهِ لَتُقِيمُنَّ صُفُوفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللَّهُ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ قَالَ فَرَأَيْتُ الرَّجُلَ يَلْزَقُ مَنْكِبَهُ بِمَنْكِبِ صَاحِبِهِ وَرُكْبَتَهُ بِرُكْبَةِ صَاحِبِهِ وَكَعْبَهُ بِكَعْبِهِ
"Tegakkanlah shaf-shaf kalian (diucapkan Rosul sebanyak tiga kali), Demi Alloh Ta'ala sungguh kalian tegakkan shaf-shaf kalian atau sungguh Alloh Ta'ala akan memperselisihkan hati-hati kalian. Ia (Nu'man bin Basyir) berkata: kemudian aku melihat seseorang melekatkan pundak dengan pundak temannya, lututnya dengan lutut temannya dan mata kakinya dengan mata kaki temannya" (HR. Abu Dawud dari Nu'man bin Basyir RA )

Dalam hal ini seorang imam berperan penting dalam kesempurnaan sholat berjamaah. Hendaklah ia tidak memulai dulu sholat jama'ahnya sebelum menghadap ke makmum dan memberi aba-aba pada makmum agar menegakkan shaf.

Menegakkan shaf sebagaimana hadits Nu'man di atas adalah: meluruskan dan merapatkan (melekatkan kaki dengan kaki temannya, pundak dengan pundak temannya, dan lutut dengan lutut temannya) dan bukan hanya salah satunya. Wallohu waliyyut taufiq

4. Membangun shof dari arah kiri
Fenomena yang muncul di kalangan masyarakat muslim, sebagian mereka punya kecenderungan membuat shaf dari arah kiri. Atau ketika imam memberi instruksi agar menyeimbangkan shaf kanan dan kiri. Ini seharusnya tidak terjadi karena yang benar adalah menempati shaf dari sebelah kanan imam, kemudian sebelah kiri. Dari Barro' bin Ajib RA berkata:

كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْبَبْنَا أَنْ نَكُونَ عَنْ يَمِينِهِ
Sesungguhnya Apabila kami sholat bersama Nabi SAW kami senang berada disebelah kanan beliau SAW (Dikeluarkan oleh Nasa'I dari Baro' bin 'Ajib RA )

Sabda Rosululloh SAW :
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى مَيَامِنِ الصُّفُوفِ
Sesungguhnya Ta'ala dan malaikat-Nya bersholawat atas sebelah kanan shof (HR. Abu Dawud dan Ibnu Majah dari Aisyah RA )

5. Membuat shaf baru, padahal shaf depan belum rapat
Kesalahan ini yang banyak dilakukan kaum muslimin. Padahal jika ia masuk ke dalam shaf depannya ia masih cukup, meskipun kelihatannya sudah penuh. Namun jika shaf dirapatkan, maka sesungguhnya masih mencukupi 2 hingga 3 orang. Maka hendaklah ia masuk shaf yang didepannya tersebut. Dan kalau tidak mencukupi, padahal sudah dirapatkan sesuai dengan ketentuan menegakkan shaf (melekatkan pundak, tumit dan lutut temannya), maka baru diperkenankan membuat shof baru. http://jamaahmasjid.blogspot.com

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan mereferensikan URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com. Jazakumullah khairan katsiraa telah membaca dan mereferensikan.

Download File2 Islami |Baca Artikel Lainnya

Berlangganan Artikel

Selasa, 25 Mei 2010

Cara Mengajarkan Shalat Pada Anak


Menurut syari’at Islam yang mulia, anak-anak tidak dikenai beban syari’at selagi dia belum baligh. Namun mereka harus dididik dan dilatih sejak masa anak-anak agar menjadi terbiasa melakukan syari’at ketika telah dewasa. Apabila syari’at memerintahkan para orang tua dan wali agar memerintah anak-anak mereka untuk menunaikan sholat, maka wajib bagi orang tua dan para murobbi untuk mengajarkan kepada mereka perihal thoharoh sesuai dengan thoharohnya Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, menjelaskan kepada mereka sifat wudhu Nabi shalallahu alaihi wassalam, syarat sah, rukun-rukunnya dan hal-hal yang membatalkannya.

Demikian pula harus mengajarkan tata cara sholat sesuai degan sholat Rasulullah shalallahu alaihi wassalam karena sabda beliau:
“ Tunaikanlah sholat seperti kalian melihat aku sholat “.1

Hendaknya anak diajari teori sekaligus praktiknya dengan diajak memperhatikan tata cara berwudhu dan sholat bapak ibunya atau mengajaknya melakukan sholat dan berdiri di samping orang tuanya untuk mengambil secara langsung tata cara sholat yang benar.

Ini mengingatkan orang tua, para murobbi dan para guru TK dan SD agar mengajarkan do’a dan dzikir-dzikir dalam wudhu dan sholat sebelum yang lainnya. Hal ini perlu kita perhatikan sebab sebagian guru ada yang lebih mendahulukan do’a dan dzikir yang lain, seperti do’a berpakaian atau yang lainnya, daripada do’a dan dzikir dalam wudhu dan sholat.

Sistem pengajaran seperti itu tentu salah bila ditinjau dari sisi ini, sebab syari’at belum memerintahkannya. Dan jikalau anak mengamalkannya pun tidak terlalu berarti bila dibandingkan dengan do’a dalam wudhu dan sholat yang dituntut untuk dihafal dan diamalkan setelah mencapai usia 7 tahun, sebagaimana anjuran Rasulullah shallahu alaihi wassalam. Bila bisa didapat kedua-duanya tentu lebih baik.

POKOK – POKOK PENGAJARAN SHOLAT
Pokok-pokok pengajaran yang harus diberikan kepada anak berkaitan dengan masalah sholat adalah sebagai berikut:

- Ilmu tentang syarat sahnya sholat, rukun, wajib dan sunnah-sunnahnya.

- Tata cara pelaksanaanya dari takbirotul ihrom hingga salam, meliputi gerakan-gerakannya, bacaan dan dzikir-dzikirnya, jumlah gerakan atau jumlah bacaan dan dzikir.

- Sifat-sifat gerakan, seperti sifat tangan atau jari-jari tangan ketika takbirotul ihrom atau ketika posisi yang lainnya, apakah dengan menggenggam jari-jari atau dengan membuka dan rapat, ataukah membuka dengan merenggangkan jari-jari lurus ke atas atau melengkung ke bawah.

- Sifat bacaannya, antara yang sir dan yang jahr, juga panjang pendeknya suatu gerakan dan bacaan, seperti gerakan tangan ketika takbirotul ihrom apakah perlahan-lahan hingga beberapa menit baru sampai ke bahu dan daun telinga ataukah bagaimana. Demikian juga dengan bacaan-bacaannya, misalnya apakah melafazhkan takbir dengan bacaan panjang seperti “ Allooooohuuuuu Akbaaaaar “ ataukah tidak.

- Mengajarkan yang shohih dari Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan meninggalkan yang tidak shohih.

- Mengajarkan nama-nama sholat dan waktu-waktunya serta bilangan roka’atnya.

- Mengajarkan tata cara berpakaian yang wajar di dalam sholat.

- Menanamkan akidah ( keyakinan ) bahwa orang yang sholat itu sedang menghadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Maka, apabila kita menghadap kepala desa atau orang kaya saja tidak boleh bermain-main, tentunya menghadap Alloh, Sang Penguasa langit dan bumi dan seluruh alam semesta, lebih sangat tidak layak untuk bermain-main.

- Mengajarkan syarat syahnya sholat yang paling utama, yaitu thoharoh dan berwudhu, hal ini meliputi:

a. Tata cara membersihkan najis tinja dan kencing sehingga benar-benar suci dan tidak membawa najis dalam sholat. Mengenalkan kepada mereka benda-benda yang najis agar mereka jauhi, terutama ketika sholat.

b. Mengajarkan tata cara berwudhu, dzikir sebelum dan sesudahnya, tata cara penggunaan air yang sesuai dengan sunnah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam, tidak boleh boros sekalipun banyak air, urut-urutannya dan bilangan-bilangannya.

c. Tata cara membasuh, apakah membasuh dengan menyiramkan air ataukah cukup dengan mengusap tanpa menyiramkan air. Juga menjelaskan tentang sifat membasuh dan mengusap.

d. Mengajarkan kepada mereka anggota-anggota wudhu dan hal-hal yang berkaitan dengannya, apakah yang penting anggota wudhu tersebut terkena air sehingga cukup dicelupkan ke dalam air ataukah harus diusap da diratakan dengan tangan.

e. Mengajarkan kepada mereka batas-baras anggota wudhu, dari mana hingga ke mana.

f. Mengajarkan kepada mereka tata cara adzan dan iqomat, lafazh-lafazhnya dan bagaimana menjawab jika mendengar adzan dan do’a sesudah adzan bagi yang mendengar. Juga tentang tata cara melafazhkannya, yaitu tidak boleh berlebihan dengan memanjangkan lafazh yang seharusnya pendek atau sebaliknya, atau lafazh yang panjang dilebihkan dari kadarnya sehingga terlalu panjang, atau dengan merusak lafazah, seperti “ Allohu Akbar “ menjadi “ Aulohuu Akbaruu “.

g. Mengajarkan kepada mereka tentang batas-batas aurat dalam sholat, sebab aurat itu ada 2: aurat yang berkaitan dengan pandangan mata dan aurat yang berkaitan dengan hak Alloh. Atau dengan istilah lain, berbeda antara aurat di luar sholat dengan aurat di dalam sholat. Contoh, anak kecil yang belum baligh tidak ada auratnya sehubungan dengan pandangan mata, meski begitu ia tidak boleh menunaikan sholat dalam keadaan telanjang.

Nabi shalallahu alaihi wassalam bersabda:
“ Janganlah salah seorang diantara kalian melakukan sholat dengan mengenakan satu pakaian saja, yang ( dengan begitu ) kedua pundaknya tidak tertutup “.2
Sabda Rasulullah shalallahu alaihi wassalam lainnya:
“ Alloh tidak menerima sholat wanita yang telah baligh kecuali dengan penutup kepala”.3

PENTINGNYA KETELADANAN
Semua orang sepakat bahwa mengajar dengan praktik dan memberi contoh secara langsung jauh lebih berpengaruh positif pada pemahaman anak daripada hanya teori semata. Karena itulah hendaknya para murobbi tidak lalai dari manhaj ta’lim ( metode pengajaran ) ini sebab inilah yang dicontohkan Nabi shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya.
Suatu ketika, Ustman bin Affan radiyallahu anhu meminta air wudhu dan mengajak para sahabat untuk memperhatikan cara wudhu beliau dari awal hingga akhir lalu berkata, “ Seperti inilah aku melihat Nabi shalallahu alaihi wassalam berwudhu “.

Dalam kisah yang lain, salah seorang sahabat pernah mempraktikkan sholat dari awal hingga akhir dihadapan para sahabat yang lain, seraya mengatakan, “ Kemarilah kalian! Akan aku perlihatkan kepada kalian sifat sholat Nabi shalallahu alaihi wassalam “.
Rosulullah shalallahu alaihi wassalam terkadang juga melakukan sholat ( sebagai imam ) dengan berdiri dan ruku’ diatas mimbar untuk memperlihatkan sholatnya kepada para sahabat, beliau mengatakan, “ Aku melakukan ini agar kalian mengikutiku dan mengetahui sholatku”.

Contoh metode pengajaran seperti ini sangat sering diterapkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wassalam dan para sahabatnya. Demikian itu karena teori semata sulit untuk dipahami dan membutuhkan waktu yang lama bahkan mudah terlupakan, berbeda dengan apa yang dialami dan dilihat secara langsung. Ini berarti orang tua dan para pendidik tidak cukup hanya menyediakan buku-buku bacaan seputar wudhu dan sholat atau hanya memerintahkan anak untuk melakukan sholat, namun mereka juga dituntut untuk memberikan keteladanan berupa praktik amali di hadapan anak-anak mereka seperti yang dicontohkan Rosululloh shalallahu alaihi wassalam, sebaik-baik pendidik, dan para sahabat beliau.

MENGAJARKAN SHOLAT YANG BENAR

Para pendidik dan orang tua harus mengajarkan sholat yang benar kepada anak-anak mereka. Sholat yang benar artinya sholat yang sesuai dengan sholat Rosululloh shalallahu alaihi wassalam, sebagaimana sabda beliau diatas. Oleh karena itu, sebelum melakukan pengajaran, para pendidik harus memiliki ilmu tentang sifat sholat Nabi shalallahu alaihi wassalam dan tidak cukup dengan mengikuti sholat kebanyakan orang zaman sekarang, sebab diantara mereka masih banyak yang melakukan bid’ah dalam sholat, baik dengan mengurangi atau menambahi sebagaian dari sholat mereka yang tidak ada contohnya dari Rosululloh shalallahu alaihi wassalam. Padahal sholat merupakan amal yang paling utama yang pelakunya sangat berharap agar sholatnya bisa diterima oleh Alloh, sementara Alloh tidak akan menerima sebuah amal kecuali yang ikhlas karena Alloh semata dan sesuai dengan sunnah ( petunjuk / contoh ) dari Rosululloh shalallahu alaihi wassalam.

TIDAK MENDIAMKAN KESALAHAN
Sebagian orang beranggapan bahwa tidak mengapa membiarkan anak sholat dalam keadaan tidak benar, toh juga masih anak-anak, misalnya membiarkan anak sholat tanpa berwudhu atau berwudhu hanya dengan membasuh telapak tangan, wajah dan kaki saja dengan alasan bahwa anak masih kecil dan belum baligh. Anggapan ini jelas salah. Perlu diketahui bahwa meskipun hukum-hukum syari’at belum berlaku bagi anak, namun Allah Subhanahu Wata’ala memerintahkan dan memberi beban kepada para wali untuk memberlakukan hukum-hukum syari’at kepada anak-anak mereka. Anggapan yang salah ini jelas bertentangan dengan perintah Rosululloh shalallahu alaihi wassalam:

“Perintahkan anak-anak kalian untuk menunaikan sholat ketika mereka berusia 7 tahun dan pukullah mereka jika meninggalkannya ketika mereka telah berusia 10 tahun.“. (HR. Abu Dawud)

Maksud dari perintah Rosululloh tersebut adalah agar para orang tua menyuruh anak-anaknya untuk thoharoh dan berwudhu dengan sempurna, berpakaian menutup aurat dan pundak, berdiri menghadap kiblat, di tempat yang tidak haram untuk sholat di dalamnya, melakukan tata cara sholat dari takbirotul ihrom hingga salam lengkap dengan rukun-rukunnya, fardhu dan sunnah-sunnahnya.

Rosululloh pernah melakukan sholat malam, lalu Abdulloh bin Abbas datang mengikuti dan berdiri di sebelah kiri beliau. Maka beliau shalallahu alaihi wassalam memutarnya dari arah kiri lewat belakang kea arah kanan beliau.

Pernah salah seorang Arab Badui datang ke masjid lalu melakukan sholat. Setelah selesai dari sholatnya, Rosululloh shalallahu alaihi wassalam mengatakan,
“ Ulangi sholatmu, karena sesungguhnya engkau belum sholat “. Maka orang tersebut mengulangi sholatnya seperti sholatnya yang semula hingga 3 kali, sampai akhirnya orang itu berkata, “ Wahai Rosululloh, ajarilah aku sholat, sebab aku tidak bisa sholat kecuali dengan cara yang seperti ini ( yakni sholat dengan gerakan yang sangat cepat, tanpa thuma’ninah ). Maka Rosululloh shalallahu alaihi wassalam mengajarinya sholat seraya menyampaikan bahwa wajib baginya untuk thuma’ninah pada setiap gerakan sholat.

Rosululloh shalallahu alaihi wassalam menganggap sholat orang ini batal karena meninggalkan salah satu rukun sholat, yaitu thuma’ninah. Sholat yang dianggap batal oleh Nabi shalallahu alaihi wassalam yang dilakukan oleh orang ini banyak sekali dilakukan oleh anak-anak.6Sehingga kewajiban para orang tua dan para pendidik adalah membenarkan sholat mereka yang masih salah ini.

Oleh : Ustadz Abdur Rohman al-Buthoni | Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan mereferensikan URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com. Jazakumullah khairan katsiraa telah membaca dan mereferensikan.

Download File2 Islami |Baca Artikel Lainnya

Berlangganan Artikel

Minggu, 23 Mei 2010

Respon Tepat terhadap Halaman/Grup Anti-Islam (Two Languages)


Saudara-saudari, (yang berasal dari orang-orang kafir yang suka mengejek dan memfitnah) akan terus menciptakan lebih banyak lagi dan lagi halaman-halaman anti-Islam penghujat karena mereka tidak tahu apa-apa selain pelecehan dan fitnah. Semakin kita bereaksi terhadap mereka, semakin mereka diminta oleh setan mereka untuk membuat halaman tersebut. Ingatlah bahwa ini adalah sesungguhnya rencana mereka untuk membuat kita mendidih dengan kemarahan dan kehilangan fokus pada Dakwah dan kegiatan Islah kita.

Ketika kita menemukan Page/Grup Anti-Islam apapun di Facebook, hal pertama yang kita lakukan adalah memberitahukan kepada teman kita untuk melaporkannya. Tapi hanya sedikit dari kita yang menyadari bahwa dengan begitu kita justru sebenarnya sangat membantu Page / Group Anti-Islam yang sedang kita coba untuk lawan itu.

Di dalam dunia klik-mengklik di Internet, hal pertama kebanyakan orang yang akan lakukan adalah meng-klik URL-nya, sehingga meningkatkan jumlah hit dan membuat moral pemilik situs itu menjadi tinggi. Kedua, dengan cara begitu, hal tersebut juga akan memudahkan mesin pencari untuk melakukan index dan membuat isu menjadi semakin besar, karena beberapa dari mereka menggunakan traffic yang meningkat dari rasa keingintahuan Anda sebagai tanda popularitas. Anda hanya malah membantu menciptakan raksasa yang ingin Anda lawan!

Sangat mudah untuk membuat Fan Page / Group di Facebook. Tapi sangat sulit untuk menarik pembaca ke Page / Group tersebut. Halaman / Group Yang paling anti- Islam akan mati jika tidak ada lalu-lintas pembacanya. Itu akan terjadi jika Anda hanya membiarkannya saja. Tetapi jika Anda di luar sana memberitahu semua orang tentang hal ini dan meminta mereka untuk melaporkan, Anda adalah relawan publisitas (promotor) mereka. Itulah apa yang sebenarnya mereka butuhkan.

Ini adalah akal sehat. Jika Anda tidak ingin orang-orang untuk mengunjungi situs / halaman / kelompok tersebut, yang Anda perlu lakukan hanyalah tidak memberitahu mereka tentang hal itu.


Jika ada sebuah situs mapan (seperti CNN), masuk akal untuk melakukan kampanye protes. Tetapi bagi kebanyakan situs, berhati-hati adalah kuncinya. Biarkan saja. Biarkan Page/Grup Anti-Islam tersebut mati karena diabaikan. Sebuah kematian yang alami. Semakin besar kurangnya perhatian, semakin cepat pula kematian Page/Grup Anti-Islam itu.

Jadi nanti pada saat Anda menerima surat peringatan tentang sebuah situs atau Page/Grup Facebook anti-Islam, langsung saja menghapusnya. Jika Anda merespon ke pengirim, jangan sertakan teks asli dari email pemberitahuan, karena bahkan itu dapat membantu pengindeksan mesin pencari.

Ada ribuan situs anti-Islam dan Page / Grup anti Islam di Facebook yang muncul baru-baru ini, tetapi mati tak lama setelah berdirinya karena, untungnya, antusiasme kita tidak melihat mereka dan tidak mempublikasikan mereka melalui surat peringatan mereka. Sayangnya, orang-orang yang menerima surat peringatan ada yang menyebarkannya dan membuat Anti-Islam tersebut dapat bertahan dan bahkan berkembang.

Jadi, apa alternatif yang lebih baik?
1. Kita harus langsung melaporkan halaman itu tanpa memberitahu orang lain.
2. Kita harus berbagi atau mempromosikan ke teman kita untuk bergabung ke halaman favorit Islam kita di Facebook.

Lalu, apa yang akan dicapai ini?
1. Kita akan mendapati halaman Anti-Islam dilaporkan.
2. Kita tidak akan secara tidak sengaja menjadi agen pemasaran/promosi mereka.
3. Kita mencegah Halaman/Page tersebut menjadi popular karena jumlah klik / suka yang mereka dapatkan, sehingga meningkatkan kemungkinan Page itu tidak akan dihapus oleh facebook.
4. Kita akan menyelamatkan Saudara/Saudari kita di Islam dari melihat materi yang tidak patut.
5. Kita akan menyelamatkan Saudara/Saudari kita di Islam dari rasa marah.
6. Kita akan menyelamatkan Saudara/Saudari kita di Islam dari merespon ajaran yang bertentangan terhadap Islam.
7. Dengan berbagi link ke halaman Islami favorit kita & meminta teman-teman FB kita untuk bergabung, kita akan melakukan Dakwah - yang merupakan kewajiban atas semua Muslim.
8. Untuk semua teman-teman yang bergabung di Halaman favorit Islam kita dan mengikuti/mempelajari ajaran-ajaran Islam, Insya Allah kita akan mendapatkan pahala yang sama dari perbuatan baik mereka tanpa usaha apapun.
9. Kita semua akan menggunakan waktu kita dengan bijaksana dan benar.
10. Kita semua akan menjadi Muslim yang lebih baik Insya Allah.

Mungkin ada lebih banyak lagi manfaatnya, tetapi mari kita mulai dari sekarang dan seterusnya dapat mencegah situasi anti-Islam lainnya (misalnya Draw Muhammad Day) - setidaknya di Facebook. Insya Allah.

Di Internet, penggunaan terbaik energi Anda adalah untuk mempromosikan situs Islam yang baik. Biarkan yang baik menyingkirkan yang jahat.

Harap membantu menyebarkan pesan ini dengan berbagi pada profil / halaman /Grup Islam Anda. Sertakan pula sumber URL blog ini. Jazakumullah khairan katsiraa :)

dan Allâh (Subhanahu Wa Ta'ala) tahu apa yang terbaik. (http://jamaahmasjid.blogspot.com)

Oleh Parvez Khan Shakir, Shadman Saquib dan Manners in Islam. Terjemahan Indonesia dari Page I LOVE ALLAH oleh: Hudza Indra http://facebook.com/sholat.berjamaah.di.masjid.yuk

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan mereferensikan URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com. Jazakumullah khairan katsiraa telah membaca dan mereferensikan.

Download File2 Islami |Baca Artikel Lainnya

Berlangganan Artikel

English Version:

Brothers and Sisters, (those from the disbelievers who love to mock and slander) would continue to create more and more of such blasphemous anti-Islamic pages as they know nothing else but to abuse and slander. The more we react to them the more they are prompted by their Shaytaan to create such pages. Remember that this is exactly their plot to make us boil with anger and in the process lose our focus on our Da'wah and Is'lah activities.

When we come across to any Anti-Islamic Page/Group on Facebook, the first thing we do is tell our friends to report it. But little of us do realize that we are actually helping the very Anti-Islamic Page/Group that we are trying to fight.

In the click-click world of the Internet, the first thing most people will do is click on the URL, thereby increasing the hit counts and boasting the morale of the site owners. Second, it will help it with search engine placement, as some of them will use the increased curiosity traffic as a sign of popularity. You just helped create the monster you wanted to fight!

It is very easy to setup a Facebook Fan Page/Group. It is very difficult to draw traffic to it. The most anti-Islamic Page/Group will die if it faces a frozen counter. That would happen if you just leave it alone. But if you are out there telling everyone about it and asking them to report, you are in effect volunteering as their publicity department. That is exactly what they need.

It is a common sense. If you don't want people to visit a site/page/group, just don't tell them about it.

If there is a well-established site (like CNN) it makes sense to launch a protest campaign. But for most of the sites the prudent course is just the opposite. Leave it alone. Let it die of neglect. A natural death. The greater the lack of attention, the faster will be the death of this would be monster.

So the next time you receive an alert letter about an anti-Islamic site Facebook Page or Group, just delete it. If you respond to the sender, do not include the original text of his alert email, because even that may help some search engine ranking.

There were thousands of anti-Islamic websites sites and anti Islamic Facebook Page/Group that sprang up recently but died soon after because, luckily, our enthusiasts had not noticed them and had not publicized them through their alert letters. The ones that receive the alert letter mention will, unfortunately, survive and may thrive.

So, then what is a better alternative?

1. We should instantly report the page without informing others.
2. We should instantly share instead a link to our favorite Islamic page here on facebook as our status and ask our friends to join.

So, what will this accomplish?

1. We will have the page reported.
2. We will not unintentionally become its marketing agents.
3. We will prevent the page from becoming popular by the number of clicks/likes it would have gotten, therefore increasing the probability of it getting deleted by facebook.
4. We will save our Brothers/Sisters in Islam from seeing inappropriate material.
5. We will save our Brothers/Sisters in Islam from getting angry.
6. We will save our Brothers/Sisters in Islam from responding against the teachings of Islam.
7. By sharing the link to our favorite Islamic page instead & asking our fb friends to join, we will be doing Da'wah - which is an obligation upon all Muslims.
8. For all the friends who join our favorite Islamic page & learn/follow the teachings, we will Insha'Allah gain the same amount of good deeds as them without any extra effort.
9. We will all instead use our time wisely and properly.
10. We will all become better Muslims Insha'Allah.


There maybe more benefits, but let's start following this from now onwards so that we can prevent another anti-Islamic (e.g Draw Muhammad Day) situation - at least on Facebook. Insha'Allah.

On the Internet, the best use of your energies is to promote the good Islamic sites. Let the good drive out the evil.

Please help spread this message by sharing it on your profile/Islamic pages. JazakumAllahu khayran. : )

and Allâh (Subhanahu Wa Ta'ala) knows best.

By Shakir Parvez Khan, Shadman Saquib and Manners in Islam

Jumat, 21 Mei 2010

Nasehat untuk Para Pemuda-pemudi dan Orangtua


Kecintaan terhadap lawan jenis merupakan fitrah yang ada pada setiap manusia yang sempurna. Inilah hikmah diciptakannya manusia dengan jenis yang berbeda, berupa laki-laki dan wanita.

"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)". (Q.S. Ali Imran: 14).

Namun kecintaan kepada lawan jenis, harus diletakkan pada tempatnya sesuai aturan syari’at. Jika tidak, maka di sinilah manusia akan hidup seperti binatang, bahkan lebih keji lagi. Cara dan tipsnya yang syar’i, bina dan tumbuhkan cinta ini dalam rumah tangga melalui gerbang nikah[1], bukan sebelum berumah tangga, karena ini terlarang dalam agama kita.

Pembaca yang budiman, kecintaan terhadap lawan jenis inilah yang menjadi alasan dua anak manusia terjerumus dalam perkara haram, hina dan keji dengan menjalin hubungan, memadu kasih, mengukir kisah asmara dan berjanji setia sehidup dan semati, atau lebih akrab disebut dengan istilah "pacaran" !!!

Betapa banyak harta yang terbuang karenanya, betapa banyak manusia menjadi gila karena ulahnya, betapa banyak kemaksiatan yang terjadi karena melakukannya, dan jiwapun melayang disebabkan olehnya. Namun sangat sedikit manusia yang mau mengambil pelajaran.

Lalu kenapa produk barat yang bermerek "pacaran" ini masih menjadi "virus" yang menjangkiti hampir semua kalangan, mulai dari Sekolah Dasar, SMP, SMA, sampai di bangku kuliahan. Mereka merasa malu, bila masih sendiri alias belum punya pacar. Semua ini disebabkan karena hawa nafsu yang sudah berkuasa pada diri seseorang, kurangnya perhatian orang tua, dan jauhnya mereka dari agama.


Berbagai macam dalih dan beribu merek alasan yang sering dilontarkan untuk menghalalkan produk haram ini. Yah, "alasanya mengikuti perkembangan zaman", "cara untuk mencari dan memilih pasangan hidup, agar bisa saling mengenal karakter dan sifat masing-masing sebelum menjalani bahtera kehidupan rumah tangga". Ini adalah jerat-jerat setan. Lalu sampai di mana kalian akan saling mengenal pasangan? Apakah sampai harus melanggar batasan-batasan Allah !!? Ini adalah pintu kebinasaan yang akan menghinakan dirimu.

Dalil Haramnya Pacaran
Allah -Azza wa Jalla- Yang Maha Penyayang kepada hamba-Nya telah menutup segala celah yang bisa membinasakan hamba-Nya, di antaranya adalah zina, dan segala pengantar menuju zina. Allah –Azza wa Jalla- berfirman:

"Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk". (QS. Al-Isra’ : 32)

Allah telah melarang hamba-Nya untuk mendekati perzinaan, karena zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. Maka segala hal yang bisa mengantarkan kepada bentuk perzinaan telah diharamkan pula oleh Allah. Sedangkanpacaran adalah sebesar-besar perkara yang bisa mengantarkan ke pintu perzinaan !!! Data dan realita telah membuktikan; tak perlu kita sebutkan satu-persatu kisah buruk dan menjijikkan, dua insan yang dimabuk asmara.

Jika Allah dalam ayat ini mengharamkan pengantar menuju zina (diantaranya pacaran), maka tentunya Allah mengharamkannya karena hal itu akan menimbulkan mafsadah (kerusakan) di atas permukaan bumi, seperti kerusakan nasab, harga diri, rumah tangga, dunia, dan akhirat.

Para Pembaca yang budiman, Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- telah menjelaskan firman Allah di atas, kenapa Allah mengharamkan pacaran? Jawabnya, berdasarkan hadits-hadits yang ada, bahwa pacaran mengandung beberapa perkara maksiat lainnya; satu dengan lainnya saling mengundang, seperti:

Memandang Lawan Jenis yang Bukan Mahram
Saling memandang antara satu dengan yang lainnya sudah menjadi perkara yang lumrah bagi dua insan yang dimabuk cinta. Sementara memandang lawan jenis bisa membangkitkan syahwat apalagi bila sang wanita berpakaian ketat yang menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya. Oleh karena itu "bohong" bila seorang laki-laki tidak tergiur dengan penampilan wanita yang menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya, apa lagi sang wanita tergila-gila kepadanya dan tiap hari berada di sisinya. Sebenarnya sang laki-laki bejat tinggal menunggu waktu dan kesempatan saja untuk bisa melampiaskan nafsu setannya. Setelah itu terjadilah apa yang terjadi… naudzu billahi min dzalik.

Oleh karena itu, hendaknya seorang muslim menjaga matanya dari memandang perkara-perkara yang diharamkan untuk dilihat. Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya (dari hal yang haram); yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman, "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya (dari yang haram)". (QS. An-Nur: 30-31).


Jarir bin Abdillah -radhiyallahu ‘anhuma- berkata,

سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ عَنْ نَظَرِ الْفَجْأَةِ ؟ فَقَالَ: اِصْرِفْ بَصَرَكَ

"Aku bertanya kepada Rasulallahi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- tentang pandangan yang tiba-tiba (tanpa sengaja)? Maka beliau bersabda, "Palingkan pandanganmu". [HR. Muslim (2159), Abu Dawud (2148), At-Tirmidziy (2776)]

Memandang wanita yang tidak halal untuk dipandang (bukan mahram), meskipun tanpa syahwat, maka ia adalah zina mata. Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

كُتِبَ عَلَى ابْنِ اَدَمَ نَصِيْبُهُ مِنَ الزِّنَا مُدْرِكٌ ذلِكَ لَا مَحَالَةَ: الْعَيْنَانِ زَنَاهُمَا النَّظَرُ ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الْاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهُ الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهُ الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ أَوْ يُكَذِّبُهُ

"Telah ditulis bagi setiap bani Adam bagiannya dari zina, pasti dia akan melakukannya, kedua mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zinanya adalah mendengar, lidah (lisan) zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang, kaki zinanya adalah melangkah, sementara qalbu berkeinginan dan berangan-angan, maka kemaluanlah yang membenarkan (merealisasikan) hal itu atau mendustakannya". [HR. Al-Bukhoriy (5889) dari Ibnu Abbas, dan Muslim (2657) dari Abu Hurairah]

Syaikh Ibnu Baz Råhimahullåh ditanya: Bagaimana hukumnya laki-laki memandangi wajah dan tubuh kaum wanita peragawati atau penyanyi yang tampil di layar televisi, bioskop, video atau gambar yang dicetak di atas kertas?

Beliau Råhimahullåh menjawab: Haram memandangnya karena bisa menyebabkan timbulnya fitnah. Ayat yang mulia dalam surat An-Nur telah menyatakan,

"Katakanlah kepada laki-laki yang beriman. 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang de-mikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat'." (An-Nur: 30).

Ayat ini mencakup semua wanita baik dalam bentuk gambar maupun lainnya, baik itu di atas kertas, di layar televisi ataupun lainnya. [2]

Saling Merayu, dan Menggoda dengan Suara Lembut
Lalu bagaimana lagi jika yang dilakukan bukan hanya sekedar memandang, tapi juga dibumbui dengan cumbu rayu, berbalut suara yang mengundang syahwat dan sejuta godaan dusta!!

Allah -Subhanahu wa Ta’ala- berfirman,

"Maka janganlah kamu tunduk (bersuara lembut) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik". (QS. Al-Ahzab:32).

Al-Hafizh Ibnu Katsir-rahimahullah- berkata menafsirkan ayat ini, "Maknanya hal ini, seorang wanita berbicara (di balik tirai dan penghalang, -pent) dengan orang lain dengan ucapan yang di dalamnya tak terdapat kemerduan suara, yakni seorang wanita tidak berbicara dengan orang lain sebagaimana ia berbicara dengan suaminya (dengan penuh kelembutan)". [Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Karim (3/636)]

Jadi, seorang lelaki atau wanita terlarang untuk saling menggoda, merayu, dan bercumbu dengan ucapan-ucapan yang membuat salah satu lawan jenis tergoda, dan terbuai sehingga pada gilirannya membuka jalan menuju zina, baik itu zina kecil (seperti memandang, saling memikirkan, dan lainnya), maupun zina besar !!

Menemui Wanita Tanpa Mahram, dan Tanpa Pembatas
Sehari bagaikan sepekan, sepekan bagaikan sebulan, dan sebulan bagaikan setahun bila sepasang anak manusia yang sedang dimabuk cinta tidak bertemu. Ketika mereka bertemu, pastilah berduaan. Sang pria berusaha sebisa mungkin menemui si wanita, tanpa ada mahram, dan tanpa pembatas berupa tirai yang melindungi mereka dari pandangan syahwat.

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

إَيَّاكُمْ وَالدُّخُوْلَ عَلَى النِّسَاءِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ: أَفَرَأَيْتَ ألْحَمْوَ؟ قَالَ : الْحَمْوُ الْمَوْتُ

"Hati-hatilah kalian dari masuk menemui wanita". Seorang lelaki dari kalangan Ashar berkata, "Bagaimana pendapatmu dengan kerabat suami?" Maka Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda, "Mereka adalah kematian (kebinasaan)". [HR. Al-Bukhoriy (5232), Muslim (2172), dan At-Tirmidziy (1171)]

Berduaan antara Pria dan Wanita
Lebih para lagi, jika pria dan wanita yang berpacaran ini saling berduaan, karena setan sudah hampir berhasil menjerumuskan keduanya dalam zina. Makanya, kasus zinanya orang yang berpacaran, itu terjadi di saat mereka berduaan; saat mereka bebas mengungkap isi hatinya, dan syahwatnya yang bergejolak kepada lawan jenisnya.

Sebab itu, kedua pasangan yang haram ini berusaha mencari tempat yang tersembunyi, dan jauh dari jangkauan manusia; ada yang pergi ke daerah wisata; ada yang lebih elit lagi sewa hotel, villa, dan lainnya. Untuk apa? Agar bebas berduaan melampiaskan birahinya yang keji !!! Di lain sisi, sebagian wanita tak sadar jika ia akan dihinakan dengan perbuatan itu, karena hanya sekedar janji-janji muluk dan dusta. Sadarlah wahai kaum wanita, jika seorang lelaki yang mengungkapkan cintanya kepadamu, tanpa melalui pintu nikah, maka ketahuilah bahwa itu adalah "cinta palsu", dan "janji dusta"

Seorang dilarang berduaan dengan lawan jenisnya yang bukan mahramnya, karena hal itu akan membuat setan lebih leluasa menggoda dan menjerumuskan seseorang dalam zina, dan pengantarnya.

Rasulllah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَا يَخْلُوَنَّ أَحَدُكُمْ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ ثَالِثُهُمَا

"Jangan sekali-sekali salah seorang di antara kalian (kaum pria) berduan dengan seorang wanita, karena setan adalah pihak ketiganya". [HR. At-Tirmidziy (2165), dan Ahmad (114). Hadits ini di-shohih-kan oleh Al-Albaniy dalam Al-Irwa’ (6/215)]

Memegang dan Menyentuh Pacar
Pacaran tidaklah lepas dari bersentuhan, entah dengan cara berjabat tangan, berboncengan di atas kendaraan, atau berpegangan, berpelukan, berciuman dan lainnya. Ketahuilah bahwa memegang dan menyentuh wanita yang bukan mahram kita adalah perbuatan yang diharamkan dalam agama kita.

Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wasallam- bersabda,

لَأَنْ يُطْعَنَ فِيْ رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيْدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لَا تَحِلُّ لَهُ

"Andaikan kepala seseorang di cerca dengan jarum besi, itu lebih baik (ringan) baginya dibandingkan menyentuh seorang wanita yang tak halal baginya". [HR. Ar-Ruyaniy dalam Al-Musnad (227/2), dan Ath-Thobroniy dalam Al-Kabir (486, & 487)]

Nasihat bagi Orang Tua
Suatu perkara yang membuat kita sedih, orang tua tidak peduli lagi dengan anak gadisnya ketika keluar rumah bersama laki-laki yang bukan mahramnya. Keluar dengan berpakaian serba ketat, kemudian dibonceng,. Tidak tahu kemana anak gadisnya dibawa pergi. Lalu terjadilah apa yang terjadi. Si gadis terkadang pulang larut malam, namun orang tua hanya membiarkan kemungkaran terjadi di dalam rumah tangga, dan keluarganya. Inilah Dayyuts yang diharamkan baginya jannah (surga).

Nabi -Shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

ثَلَاثَةٌ قَدْ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِمُ الْجَنَّةَ : مُدْمِنُ الْخَمْرِ وَ الْعَاقُّ وَ الدَّيُّوْثُ الَّذِيْ يُقِرُّ فِيْ أَهْلِهِ الْخُبْثَ

"Ada tiga golongan yang sungguh Allah haramkan baginya surga: pecandu khomer, orang yang durhaka (kepada orang tuanya), dan dayyuts yang membiarkan perbuatan keji dalam keluarganya".

[HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/69/no. 5372). Hadits ini di-shohih-kan oleh Syaikh Al-Albaniy dalam Shohih Al-Jami’ (3047)]

Akhirnya mari kita saling menasihatkan kepada kaum yang dilanda asmara agar segera bertaubat kepada Allah sebelum nyawa meregang. Hentikan pacaran yang akan menjatuhkan kalian dalam jurang kenistaan. Jagalah kehormatan kalian yang suci dengan tameng ketaqwaan kepada Allah -Ta’ala-. (http://jamaahmasjid.blogspot.com)

Data: Buletin Jum’at Al-Atsariyyah edisi 67 Tahun II.
Footenote:

[1] Simak dan baca mengenai hal ini: Apa yang menghalangimu untuk menikah?
[2] Majalah Ad-Da'wah, edisi 922, Syaikh Ibnu Baz. Disalin dari buku Fatwa-Fatwa Terkini Jilid 2, penerbit Darul Haq, Kategori: Hiburan Sumber: http://fatwa-ulama.com

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan mereferensikan URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com. Jazakumullah khairan katsiraa telah membaca dan mereferensikan.


Download File2 Islami |Baca Artikel Lainnya

Berlangganan Artikel

Kamis, 29 April 2010

Bersinku Berpahala


Bersin, siapapun dia tentu pernah melakukan aktivitas yang satu ini.
Sepintas memang kelihatan sepele. Tapi kalau tahu tekniknya, bersin bisa memberikan manfaat baik bagi empunya. Tidak hanya menfaat di dunia, melainkan juga di akhirat kelak.

Ingin tahu caranya?
Islam adalah agama komprehensif. Islam mengatur semua aktivitas hidup manusia. Dari perkara kecil (seperti buang hajat) sampai perkara besar (seperti jihad fisabilillah).

Di antara perkara ringan dalam aktivitas keseharian manusia adalah bersin. Perkara ini oleh sebagian orang dianggap sesuatu yang remeh. Sehingga banyak yang tidak memperdulikan. Karenanya sering kita lihat orang-orang bersin seenaknya. Misalnya dengan mengeluarkan suara keras yang mengganggu orang-orang sekitar, atau tidak menutup mulut yang menyebabkan "hujan lokal" di dekatnya.

Padahal Islam telah memberikan aturan tentang bersin. Jika aturan ini dilaksanakan, maka kemaslahatan akan didapat. Baik bagi yang bersin maupun orang lain yang ada di sekitarnya.

Etika Bersin
Bersin agar berbuah pahala harus mengikuti etika yang telah digariskan syariat.
Diantara etika bersin adalah sebagai berikut:

1. Merendahkan suara bersin
Telah diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, "Adalah Nabi jika bersin, maka Beliau menutup wajah dengan tangan atau bajunya, sambil merendahkan suaranya."(Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).

2. Menutup mulut dan wajah ketika bersin
Bisa dilakukan dengan tangan atau kain. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu orang lain di dekatnya.

3. Tidak memalingkan leher ketika bersin.
Sebaiknya seseorang tidak menekukkan leher saat bersin, yaitu tidak memalingkan wajah ke kanan maupun ke kiri. Hal ini maksudkan agar tidak membahayakan kesehatan.

4. Mengeraskan bacaan "hamdalah"
Seorang yang bersin dianjurkan untuk mengeraskan bacaan "hamdalah", baik di dalam maupun di luar sholat.
Adapun bacaan "hamdalah" seusai bersin ada bermacam-macam, yang intinya adalah memuji Allah. Dan diperbolehkan bagi orang yang bersin untuk memilih diantara berbagai bacaan tersebut dalam rangka menghidupkan sunnah Rasulullah. Bacaan-bacaan tersebut sebagai berikut:

•Bacaan: "Alhamdulillah"
Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya Allah mencintai bersin dan membenci menguap. Jika seseorang bersin hendaklah ia memuji Allah (membaca "Alhamdulillah"). Dan kewajiban atas muslim lain yang mendengarnya untuk mendoakannya." (Riwayat Al-Bukhari dalam shahihnya)

• Bacaan:"Alhamdulillahi robbil'aalamiin"
Seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Masud dari Rasulullah saw bahwa Beliau bersabda: "Jika seseorang diantara kalian bersin, maka hendaklah ia mem baca:"Alhamdulillahi Robbil 'aalamiin" (segala puji hanya untuk Allah Robb semesta alam. " (Riwayat Al-Bukhari dalam al-adabul mufrad bab kaifa yabdau aathis (11/389 no. 394)

•Bacaan: "Alhamdulillah 'alaa kulli haal"
Seperti yang diriwayatkan Ali ra, dari Rasulullah saw Beliau bersabda, 'jika seseorang di antara kalian bersin, maka hendaklah ia membaca "Alhamdulillah 'alaa kulli haal" (segala puji bagi Allah atas setiap keadaan)."(Riwayat Ahmad dalam kitab al-musnad (1/120, 122), Ad-Darimi dalam sunannya (11/283), at-Tirmidzi dalam sunannya (X/200-201), dan Al-Hakim dalam al-mustadrak kitab al-adab (IV/66)

•Bacaan: "Alhamdulillah hamdan katsiiron thayyiban mubaarokan fiihi mubarokan 'alaihi kama yuhibbu Robbuna wa yardhoo."
Seperti riwayat yang dikeluarkan Abu Dawud dalam sunannya (1/205 no. 773), At-Tirmidzi dalam sunannya (11/193-194), Al-Baihaqi dalam sunannya (11/95), dan Al-Hakim dalam al mustadrak (111/232)

Tasymit (mendoakan orang yang bersin)
Wajib bagi yang mendengarkan bacaan "hamdalah" untuk mengucapkan tasymit (yaitu ucapan "yarhamukallah"). Bacaan tasymit ini berlaku umum, bagi yang kecil maupun yang besar. Tidak ada ucapan tasymit yang khusus. Dan tasymit ini termasuk hak seorang muslim terhadap muslim lainnya yang wajib dipenuhi. Rasulullah saw bersabda, "Hak seorang muslim terhadap sesama muslim ada 6, yaitu: (1) jika engkau berjumpa dengannya ucapkanlah salam; (2) jika ia mengundangmu, maka penuhilah undangannya; (3) jika ia minta nasehat kepadamu maka nasehatilah; (4) jika ia bersin dan mengucapkan hamdalah, maka bertasymitlah kepadanya; (5) jika ia sakit maka jenguklah; kemudian (6) jika ia meninggal dunia maka hantarkanlah jenazahnya. " (Riwayat Muslim)

Manfaat Tasymit
Tasymit mempunyai manfaat yang banyak dan agung, diantaranya:
1. Melahirkan kasih sayang dan kelemahlembutan kepada sesama muslim
2. Menuntun setiap muslim yang bersin kepada adab yang mulia dan menghilangkan rasa takabbur (sombong) yang mungkin ada pada dirinya
3. Membiasakan setiap Muslim untuk selalu bersikap tawadhu (rendah hati)
4. Saat diucapkan kalimat tasymit, maka terlintas pada diri seorang Muslim yang bersin itu akan dosa yang tidak luput menimpa kebanyakan anak cucu Adam." (Lihat Fathul Bari (X/618)

Jawaban Tasymit
Apabila seseorang bersin dan mengucapkan hamdalah yang kemudian orang-orang yang mendengarnya bertasymit, maka dianjurkan bagi yang bersin untuk kembali mengucapkan kepada mereka salah satu doa berikut:
1. 'Yandiikumullah wa yuslihu baalakum" (Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian)." (Riwayat Ahmad, Ad-Darimi, At-Tirmidzi dan Al-Hakim)
2. "Yaghfirullahu lanaa wa lakum" (Mudahmudahan Allah a mengampuni kita dan kalian semua). (Riwayat Abu Dawud, An-Nasai, At-Tirmidzi , Al-Hakim)
3. "Yaghfirullahu lakum" (Semoga Allah mengampuni kalian semua).."(Riwayat Al-Bukhari dalam al-adabul mufrod bab kaifa yabdau aathis (11/389 no. 394)
4. "Yarhamunallah wa iyyakum wa yaghfirullahu lanaa wa lakum."(Semoga Allah memberi rahmat kepada kami dan kamu sekalian dan meng-ampuni kami dan kamu sekalian). (Riwayat m Malik dalam al- muwatho hal. 598 no.5)
5. "Afaanallaah wa iyyaakum minan-naari y a r h a m u k u I I a a h " (Semoga Allah Qw- mengampuni kami dan kamu sekalian dari api neraka dan memberi rahmat kepada kamu sekalian."(Riwayat Al-Bukhari dalam kitab al adabul mufrad (11/386 no. 929)

Wajib Tasymit, Kecuali...
Wajib hukumnya untuk mengucapkan tasymit kepada seorang muslim yang bersin yang dia mengucapkan hamdalah, kecuali kepada beberapa orang/keadaan yang menggugurkan kewajiban kita untuk mengucapkan kalimat itu, yaitu:
1. Kepada yang bersin dan tidak mengucapkan hamdalah
2. Kepada yang bersin lebih dari tiga kali
3. Kepada yang membenci tasymit
4• Kepada orang kafir. Cukup bagi kita mengucapkan "Yahdiikumullah wa yuslihu baalakum" (Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian.), sebagaima yang diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ari d, " Pernah beberapa orang Yahudi berpura-pura bersin di dekat Rasulullah saw, mereka mengharapkan untuk diucapkan kepadanya "yarhamukallah". Namun Beliau mengucapkan "Yahdiikumullah wa yuslihu baalakum" (Mudah-mudahan Allah memberikan hidayah kepada kalian dan memperbaiki keadaan kalian.)(Riwayat Ahmad, AlBukhari, Abu-Dawud, An-Nasai, dan At-Tirmidzi). Sebab kita tidak boleh untuk memohon rahmat bagi mereka, sebagaimana firman Allah dalam Surat At-Taubah:113.
5. Ketika kita sedang shalat
6. Kepada yang pada saat itu dalam keadaan terlarang untuk menyebut kalamullah (firman Allah), seperti ketika di toilet dan sebagainya.

Demikian diantara adab-adab Islam yang berkaitan dengan bersin. Mudah-mudahan kita diberi kemampuan untuk mengamalkannya, sekaligus untuk memasyarakatkannya. Amin ya mujibas sailiin! (Shohibul Kitaabah) (Majalah elFata Vol.7 thn 2007)


Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan menyebutkan sumber URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Klik di sini untuk mendownload file-file Islami.

Berlangganan Artikel