Tampilkan postingan dengan label Penistaan Agama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penistaan Agama. Tampilkan semua postingan

Senin, 14 November 2016

Pola Pembalasan Allah



Ada orang (politikus, pelawak, dll) yg kalau ngomong suka nyakitin orang lain, mereka dikasih sakit parah dulu sebelum akhirnya wafat.

Sebenarnya Allah gak pernah zalim kpd hambaNya, krn saat sakit itulah penghapus dosa dan ada kesempatan bertaubat.

Raja Namrud, Raja Firaun dikasih perlawanan terhadap apa yg dulu mereka banggakan tapi yg mereka banggakan itu tdk bisa mengalahkan pembalasan Allah.

Raja Namrud punya wajah ganteng dan fisik yg sangat kuat, ia mengaku Tuhan dan tdk terima Nabi Ibrahim 'mempermalukan' dirinya di hadapan rakyatnya. Singkat cerita, Namrud mati setelah Allah kirim seekor lalat masuk ke dalam hidungnya dan menetap di otaknya selama 3 hari. Bisa ia melawan lalat itu meski ia besar dan kuat?

Firaun punya kekuasaan yg luas dan ditakuti, tapi Allah tenggelamkan ia ke dalam laut dan ketika hendak bertaubat sudah keburu mati.

Qarun memiliki harta yg sangat banyak, ia bangga dan sombong dgn itu. Bahkan kuncinya pun mesti diangkat oleh orang2 terkuat di jamannya. Tapi oleh Allah dibenamkanNya Qarun beserta harta2nya ke dalam bumi.

Itu contoh2 dahsyat yang jadi pelajaran bagi semua umat.

Contoh kecil yg biasa kita lihat terkait pola 'pembalasan' Allah:

Ada sepasang suami istri (pengusaha) tdk punya cukup uang utk hidup 'nikmat' katanya. Kufur nikmat. Akhirnya mereka pinjam duit ke bank dan bisnisnya jadi lancar. Ingin makin besar lagi mereka pinjam lagi. Sampai akhirnya roda kehidupan ada di bawah, customer/klien mereka mengalami macet bayar. hingga singkat cerita mereka pun gak bisa bayar juga cicilan hutang ke bank. Riba adalah haram. Balasannya ngeRI BAnget.

Yang terjadi berikutnya rumah tangga mereka kacau, jual macam2 hingga akhirnya bangkrut, diteror terus sana-sini, puncaknya adl menjadi lebih miskin daripada kehidupan yg sebelumnya mereka tdk pinjam uang ke bank.

Mungkin yg akan kita lihat nanti di republik ini, kalau belajar dari pola sejarah, akan seru melihat pemimpin yg sangat kemaruk dgn proyek dan kekuasaan (dgn cara menindas, menipu, menzhalimi, menistakan agama). Ia memiliki uang yg tiada habisnya, mampu mendatangkan penjaga2 ke rumahnya, pengawal2 di kampanyenya sangat banyak yg belum pernah ada sebelumnya, pembantu2 yg setia, dll.

Maka benarlah. Yang ia banggakan itu (kekuatan, kekuasaan, kekayaan) akan terus kita lihat sampai pada masanya nanti itu HABIS dan ia bisa menjadi seperti contoh di atas yg di akhir hayatnya semua yang ia banggakan itu tdk bisa melawan 'Perlawanan' dari Tuhan. Semoga kita mati dalam keadaan khusnul khotimah.

Jadi bersabarlah kawan seperjuangan, sampai duit dia nanti habis dan itu masih panjang kelihatannya, kita akan melihat perlawanan2. Dia Yang Bisa Memberi Uang Tiada Habisnya, Dia pula Yang Bisa menghentikan suplai uang untuknya, sangat mudah bagiNya. Tapi sebenarnya semakin panjang pula kesengsaraan dia dan ia makin jauh dari angan-angannya, seandainya kamu mengetahui.

Sebenarnya sudah banyak yg mendoakan agar ia mendapat hidayah, tdk perlu ditanyakan lagi. Kalau lihat polanya seperti ini, saya jadi tertarik melihat endingnya nanti. Ada banyak hikmah yang bisa diambil (baik kemenangan ataupun kekalahan), dan Allah sudah tunjukkan sebagian kemenangan2 kecil: ada yg ketakutan kabur, ada yg mengadakan demo tandingan tapi sangat sedikit dan diguyur hujan pula, datangin saksi ahli dari Mesir eh dianya pulang.

Jadi memang telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Allah terangkan kepada kita ayat-ayatNya, jika kamu memahaminya. See QS. 3:118

Jika ada yg merasa kasihan kepadanya, ketahuilah itu berarti di lubuk hati kecilnya sudah turut bisa merasakan kesengsaraannya dan tipu dayanya.
Semua itu ada polanya. Sukses ada polanya. Pertolongan Allah ada polanya. Pembalasan Allah pun ada polanya.

Terima kasih sudah membaca tulisan panjang ini, jika dirasa bermanfaat buat kita yg peduli dgn agama kita, boleh dishare. Nuhun

Senin, 07 November 2016

Ini Dia 10 Karakter Pembela Penista Qur'an




1. MUNAFIK. Dalam al Qur`an surat An Nisaa ayat 139 dan 140 dengan jelas divonis sebagai kaum munafik oleh Allah  bagi yang menjadikan kaum kafir teman dan pemimpin dengan meninggalkan kaum beriman, bahkan justru mendekati kaum kafir yang telah memperolok al Qur`an. Ditegaskan di akhir ayat 140 bahwa Allah akan mengumpulkan kaum kafir dan munafik di neraka jahannam.  

2. PENGKHIANAT. Membela orang kafir yang menghina Al Qur`an adalah bentuk pengkhianatan terhadap Islam hanya karena ingin mendapatkan keuntungan materi. Pengkhianat ditandai oleh hatinya yang selalu condong kepada kaum kafir, apalagi jika telah diberi makan oleh mereka. Pengkhianatan bisa disembunyikan, namun juga bisa terang-terangan.

3. PENISTA Kaum muslimin yang dengan sengaja membela, berteman dan bahkan menjadikan pemimpin para penista agama dari golongan orang kafir, maka diapun adalah serupa dengan orang yang dibela. Pembela penista al Qur`an adalah termasuk golongan penista juga.  Pembela penista adalah penista, lihat QS An Nisaa : 140.

4. PELACUR INTELEKTUAL. Banyak kaum intelektual muslim yang bergelar akademik tinggi (biasanya kuliah di Barat) dengan berbagai apologi dan fantasi intelektual membuat analogi-analogi yang seolah rasional, padahal sebenarnya hanya karena hatinya telah terjangkiti penyakit. Mereka biasanya terjebak oleh pragmatisme dan balas jasa, namun agar tidak terlihat dibungkus dengan kajian-kajian ilmiah. Mereka hakekatnya mirip dengan perilaku pelacur. Karena itu mereka layak disebut sebagai pelacur intelektual.

5. PECUNDANG. Pecundang adalah orang yang dalam hatinya tidak mau menghargai perjuangan kaum muslimin karena hatinya telah dipenuhi oleh penyakit iri dan dengki kepada kaum muslimin. Seorang yang bermental pecundang akan rela bergabung dengan kaum kafir demi memuaskan kedengkiannya. Dia akan senang jika melihat kaum muslimin menderita dan bersedih jika melihat kaum muslimin memperoleh kemenangan.

6. PENDUSTA. Salah satu karakter pendusta agama adalah mereka yang menolak memberikan bantuan kepada perjuangan kaum muslimin, sebaliknya dia justru dengan ringan memberikan bantuan kepada kaum kafir.



7. PENIPU. Seorang muslim yang cenderung kepada kaum kafir yang menghina Islam bermaksud menipu Allah, Rasulullah dan kaum muslimin. Padahal sebenarnya dia sedang menipu dirinya sendiri. Dirinyalah yang telah tertipu oleh hawa nafsunya. Dia sesungguhnya telah menyembah hawa nafsunya sendiri, tanpa dia sadari.  Dialah penipu yang tertipu. Terlebih lagi jika dia bermaksud menipu kaum muslimin, maka akibatnya adalah kehinaan dirinya.

8. PENJUAL AGAMA. Allah dengan tegas melarang kaum muslimin menjual agama dengan harga duniawi yang sangat sedikit. Allah mengancam dengan keras bagi seorang muslim yang menjual agama  untuk mendapatkan keuntungan materi duniawi.  Membela penista ayat Qur`an biasanya diakibatkan aqidahnya telah terbeli oleh orang kafir, dengan kata lain perutnya terisi makanan dari orang kafir yang mengakibatkan tumpulnya akidah dalam hatinya. inilah karakter muslim yang telah menggadaikan akidahnya demi materi duniawi.

9. PENGEMIS. Mental seorang pengemis adalah mental menghinakan diri demi mendapat secuil materi. Mental pengemis adalah bentuk kehinaan yang dilarang Islam. Jika menjadi pengemis materi saja dianggap sebuah kehinaan, apalah lagi jika menghinakan diri dengan cara membela kaum kafir yang menista Al Qur`an demi mendapatkan secuil isi perut. Maka seorang muslim yang seperti ini harganya tidak lebih dari apa yang dikeluarkan dari perutnya.

10. DUNGU. Orang kafir yang menista al Qur`an adalah nyata-nyata sebuah perbuatan jahat dan akan mendapat siksa dari Allah. Seorang muslim yang justru membelanya adalah bentuk kedangkalan akalnya. Akal pembela kaum kafir yang menista al Qur`an telah mengalami disfungsi intelektual. Disfungsi intelektual inilah yang melahirkan kedunguan dan kebodohan dalam dirinya. Jika orang kafir membela orang kafir, itu wajar. Namun jika orang muslim membela orang kafir yang menghina Islam, itulah bentuk kedunguan sejati



Ahmad Sastra (dakwatuna)

Catat Ya! Tidak Pernah Ada Sejarahnya RI-1 Menemui Tukang Demo

 
 
JamaahMasjid - Begini ya....
Dalam 71 tahun Indonesia merdeka, tidak pernah ada cerita RI-1 menemui perwakilan demonstran....
RI-1 akan mengundang secara RESMI siapa-siapa saja yang dianggap sebagai Tokoh formal maupun informal
Catat yaa : RI-1 yang dalam posisi "mengundang".

Dari sisi Jokowi :
Jokowi sudah mendatangi Prabowo.
Jokowi sudah mengundang NU, Muhammadiyah, MUI dan juga FUI.

Tapi jangan berharap bahwa Jokowi sebagai RI-1 akan mau menemui demonstran yang berteriak mengancam.
Karena itu secara SIMBOLIS bisa disalah artikan bahwa pemimpin tertinggi NKRI akhirnya tunduk pada tekanan.

Bahwa JK sebagai RI-2 atas PERINTAH Jokowi akhirnya bersedia menemui demonstran, sesungguhnya dikhawatirkan bisa menjadi presiden.
Bahwa sebelumnya Menko Polhukam dan Mensesneg sudah menawarkan diri untuk menemui demonstran, sesungguhnya itu sudah LEBIH DARI CUKUP.


Minggu, 06 November 2016

Penjelasan Saksi Ahli Pidana Kasus Ahok Yang Akan Bungkam Pernyataan " Sebenarnya Ahok Tak Menghina"

TajukIndonesia - Prof Mudzakkier, saksi ahli hukum pidana kasus dugaan penodaan agama oleh Gubernur DKI Ahok, yang dihadirkan pihak pelapor mengisyaratkan unsur tindak pidana penodaan agama memang telah dilakukan.

Kepada Aktual, dirinya menjelaskan bahwa ucapan Ahok yang dinilai sebagai penodaan agama cukup pada pernyataan intinya saja, tidak semuanya. “Kalau ada yang bilang lihat dari awal sampai akhir, menurut saya malah kurang pas,” ujar guru besar hukum pidana UII Yogyakarta ini, Minggu (6/11).
Seperti diketahui, ucapan penodaan agama oleh Ahok dilakukan saat kunjungan kerja sebagai Gubernur. Maka motivasi Ahok mengebut ayat Al-Qur’an terlebih menjurus konteks pilkada patut dipertanyakan, hal inilah menurut Mudzakkier yang jadi pokok persoalan.
“Jika Ahok berbicara dalam (acara) perbandingan agama, tentang bagaimana memilih pemimpin menurut Kristen, Hindu, Buddha, Islam dan lain-lain tentu nggak akan jadi akan masalah, tapi ini kan tidak,” kata dia.
Lebih lanjut, Mudzakkier menganggap Ahok tidak punya kompetensi untuk mengutip dan mengintepretasi ayat Al-Qur’an sebab Ahok pribadi tidak mengimani Al-Qur’an sebagai kitab suci.
“Apabila Ahok ceramah di acara keagamaan yang dia anut kemudian berucap kitab suci agama lain adalah bohong, itu dapat dimaklumi. Asalkan di komunitas mereka saja,” tegasnya.
Hal tersebut sama halnya ketika umat Muslim dalam acara keagamaannya mengatakan Nabi Isa As bukan Tuhan, bagi Mudzakkier itu tidak jadi soal sebab memang diatur dalam Al-Qur’an.
“Namun Ahok mengintepretasikan ayat Al-Qur’an didepan komunitas umum yang didalamnya ada Muslim. Kalau dia (Ahok) mau mengutip ayat ya dari kitab suci dia saja, tidak usah kitab suci orang lain. Jangan lompat pagar orang lain,”
Mudzakkier juga menyoroti sejumlah pihak yang membuat opini bahwa Ahok sebenarnya tidak bermaksud menghina. Dirinya lantas mempertanyakan siapa orang yang ditunjuk Ahok ‘memakai’ ayat 51 Al-Maidah, sebab konteks ini harus jelas karena jika tidak, tentu yang disasar Ahok adalah ayat 51 Al-Maidah itu sendiri.
“Harus dipahami duduk persoalannya seperti apa, biar nggak dipelintir sana-sini,”
Oleh sebab itu, pernyataan Ahok menurut Mudzakkier telah penuhi unsur tindak pidana yang dimaksud dalam pasal 156 (a) KUHP, penodaan agama terhadap ajaran kitab suci Al-Qur’an yang termuat pada Surah Al-Maidah ayat 51. (akt)
Sumber: Tajuk Indonesia

Bantahan Sederhana terhadap Makan Pakai Sendok vs Makan Sendok

Pasca Aksi 4 Nov, Ahok Mulai Tersudut dan Kembali Menyerang Buni Yani

 
 
JamaahMasjid - Pasca Aksi Bela Islam II di Jakarta 4 november lalu, aktor penista Alquran Ahok mulai tersudut dan mulai kembali menyerang Buni Yani.

Dalam pemberitaan yang di posting oleh detik.com sabtu kemarin, Ahok sebut Buni Yani telah memfitnah dirinya dan membuat gaduh negara.

Ahok berkilah jika dirinya siap dihukum jika terbukti bersalah dalam dugaan kasus penistaan agama. Namun Ahok menginginkan hukum juga harus ditegakkan kepada Buni Yani, orang yang pertama kali mengunggah video dirinya saat melontarkan pernyataan terkait Surat Al Maidah 51 di Kepulauan Seribu.

Ahok menuding, ada kesengajaan yang dilakukan oleh Buni Yani ketika memotong ucapannya dan memposting di akun Facebook. Ahok merasa tak ada yang salah dengan pernyataannya, namun Buni Yani-lah aktor yang membuat gaduh karena salah membuat transkrip Ahok terkait Surat Al Maidah 51.
Padahal sebelumnya, sudah sangat jelas jika dalam video tersebut Direktorat Tindak Pidana Hukum Badan Reserese Kriminal Polri menyatakan tidak ada pengeditan dalam video terkait pernyataan Gubernur DKI Ahok yang mengutip Al Maidah ayat 51.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigadir Jenderal Agus Andrianto mengatakan, polisi telah membandingkan video yang beredar di media sosial dengan yang asli. Hasilnya, tak ada pengeditan yang mengubah isi pernyataan Ahok dalam video tersebut.

"Hanya dipotong dari video panjang jadi pendek, tidak ada pengurangan atau penambahan," kata Agus di Markas Besar Polri, Jakarta Selatan pada Selasa (25/10).  
Hal tersebut di beritakan oleh CNN seketika Bareskrim mengungkapkan hasil penyelidikan video Ahok di Kepulauan Seribu.


Saat ini Buni Yani terus diserang oleh pendukung Ahok, sehingga Buni Yani meminta kepada pendukung Ahok agar tidak melakukan provokasi. Karena menurutnya itu hanya akan memperburuk suasana.

"Buat kawan-kawan pendukung Ahok yang terus memanasi suasana agar saya diproses secara hukum, tolong provokasi kalian dihentikan. Yang kalian lakukan ikut memperburuk kondisi. Ini bukan kata saya, tapi kata orang lain," ujar Buni Yani lewat lamaman Facebook-nya, Sabtu (5/11).


Sejak Ia dilaporkan ke polisi sebulan lalu, Buni Yani mengaku dukungan berdatangan tak henti-henti. Ini karena ia dianggap tak bersalah. Justru mereka menganggap apa yang ia lakukan bagian dari tugas sesama warga negara untuk saling mengingatkan.


Sumber: beritaislam24h.net

Jumat, 04 November 2016

Rakyat Ada Ketika Jokowi Butuh Dukungan, Tapi Jokowi Pergi Ketika Rakyat Membutuhkannya



RILIS

FahriHamzah :

Wakil Ketua DPR RI, Fahri Hamzah mengatakan Presiden Jokowi melakukan kesalahan fatal tidak mau menemui masyarakat dan para ulama yang ingin bertemu dalam aksi damai hari ini. Jokowi menurut Fahri nampaknya tidak paham bahwa aspirasi masyarakat itu penting.

“Masyarakat utamanya itu secara keseluruhan hanya menggugat dan menuntut penegakan hukum dan secara spesifik terkait dengan Ahok. Meninggalkan masyarakat dari berbagai elemen dan para ulama adalah kesalahan fatal Jokowi ,” ujar Fahri ketika dihubungi, Jumat (4/11).

Terlebih menurut Fahri alasan Jokowi meninggalkan para pendemo damai itu hanya untuk melihat proyek yang sebenarnya sangat bisa diwakilkan oleh menteri-menterinya. “Presiden mengambaikan demo terbesar dalam sejarah indonesia, hanya untuk melihat proyek yang bisa dilakukan menteri,” tambahnya.

Fahri sendiri takjub melihat jutaan pendemo yang melakukan aksi hari ini dengan damai. ”Ini kalau dihitung saja jumlah orang dari Istiqlal ke istana tidak putus dan menutup semua ruas jalan bisa mencapai sejuta orang. Belum lagi yang ada di bundaran HI,Bundaran Bank Indonesia,” imbuhnya.
Fahri sendiri merasa Jokowi tidak memiliki kepemimpinan dan tidak memiliki perasaan karena telah mengabaikan para pendemo yang datang dari seluruh daerah di Indonesia. Jokowi dinilainya juga tidak memiliki kepribadian timur karena tidak mau menerima tamu yang sudah hadir didepan pintu kediamannya.

”Para pendemo itu datang dari seluruh Indonesia, seperti Aceh, Padang, Medan, Jogjakarta, Solo, NTB, Makasar dan lain-lain menggunakan biaya sendiri untuk menyampaikan aspirasi mereka dan yang mereka tuntut itu memang kewajiban pemerintah menegakkan hukum, tapi tidak diacuhkan. Jelas Jokowi tidak punya leadership dan tidak punya perasaan,” ujar Fahri.

Penolakan Jokowi terhadap para peserta aksi diyakini Fahri akan berdampak pada Jokowi sendiri. Dia akan terima akibat dari sikapnya karena telah menganggap remeh sesuatu yang besar. ”Ini akan fatal akibatnya buat Jokowi sendiri,” tegasnya.

Jokowi dinilainya juga tidak memahami sejarah, hukum maupun konstitusi Indonesia. Semua langkah Jokowi ini diyakini Fahri menjadi pertanda keberadaannya sebagai presiden apakah kedepan dia masih tetap ada atau tidak. Dukungan pada Jokowi yang ditegaskan oleh Jokowi sendiri secara sukarela karena rakyat merasa Jokowi ada untuk mereka sehingga rakyat ada untuk dia, akan hilang karena kini ketika rakyat membutuhkannya, Jokowi pergi.

“Volunterianisme yang menjadikan Jokowi besar datang dari perasaan rakyat memiliki pemimpin yang akan ada untuk mereka, makanya mereka pun mau mendukung dan berkorban. Sekarang perasaan itu tak ada lagi dan hilang karena sikap Jokowi sendiri yang tidak ada bagi rakyat. Orang tidak akan lagi mau mendukungnya,” imbuhnya.

Terakhir Fahri mengatakan bahwa ketika jutaan orang sudah merasa mereka tidak punya pemimpin, karena pemimpinnya tidak ada dan tidak hadir buat mereka,maka tunggu saja nanti. ”Menjadi pemimpin itu panggilan jiwa,kalau tidak ada panggilan jiwanya begini jadinya,” tandasnya.

Sumber: Fahri Hamzah Fanpage

Kamis, 03 November 2016

Satu Tetes Saja Darah Pendemo Tumpah, Jokowi TURUN!



JamaahMasjid - Sinyal kuat Basuki Tjahaja purnama akan menjadi tersangka dalam kasus dugaan penistaan agama semakin kencang. Salah satunya, soal pernyataan Presiden Joko Widodo yang tidak akan mengintervensi aparat penegak hukum dalam kasus yang ditangani Bareskrim Polri itu.

Hal itu seperti diutarakan Wakil Ketua Umum Gerindra, Arief Poyouno dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Rabu 2 November 2016..

"Tetapi pertanyaannya apakah ucapan Joko Widodo bisa dipegang," jelas dia.

Arief menjelaskan, bisa saja pernyataan itu cuma statement politik Presiden Jokowi untuk menenangkan umat Islam yang ingin menuntut penegakan hukum yang sama terhadap siapa pun karena diduga menistakan agama.

Presiden Jokowi, kata dia lagi, seharusnya mengambil langkah cepat untuk memerintahkan Polisi memeriksa Ahok dalam kasus ini. Sejauh ini, Polisi menjadwalkan melakukan pemeriksaan terhadap sepuluh orang saksi ahli, 6 diantaranya sudah dimintai keterangan.

"Presiden harus mengintervensi penegak hukum dalam hal ini Polisi untuk cepat memeriksa Ahok secara maraton dan mengirimkan ke Kejaksaan Agung untuk segera di Meja hijaukan. Intervensi Presiden sangat perlukan agar tidak menciptakan sebuah kebencian rasial secara nasional yang bisa menyulut kerusuhan secara massive," terangnya.

"Tentu saja jika terjadi rusuh seperti 1998 akibat Ahok tidak bisa diseret ke Pengadilan maka akan merugikan banyak masyarakat dan bisa berdampak hancurnya image Joko Widodo karena gagal menciptakan Demokrasi yang jujur dam setara akibat hukum tidak bisa ditegakan."

Arief menegaskan, aksi bela Islam II yang berlangsung 4 November mendatang sangat wajar. Sebab, rakyat merasa penegakan hukum dan rasa keadilan sudah mati rasa.

"Karena itu tidak boleh ada sedikit pun darah jatuh saat aksi demo. Satu tetes saja darah pendemo jatuh, maka jangan salahkan rakyat, akan kami Gulingkan Pemerintahan Joko Widodo-JK," tandasnya.

Sumber: RMOL

Rabu, 02 November 2016

Ketika Ahok Ditempatkan di Atas Negara



Indonesia Siaga 1? Begitulah opini yang terbentuk saat ini ditengah publik. Apakah benar saat ini Indonesia Siaga 1? Publik tidak tahu pasti karena semua informasi yang didapat ditengah publik selalu terjadi bantah lisan maupun bantah tulisan. Nota dinas atas mama Brimob yang di tanda tangan oleh Wakil Komandan Korps Brimob maupun telegram Kapolri yang ditanda tangan oleh Asisten Operasi untuk mobilisasi pasukan Brimob semua dibantah baik lisan maupun tulisan.

Dibalik bantah berbantah laksana berbalas pantun tentang kebenaran nota dinas dan telegram tersebut, menyeruak pertanyaan yang membuat kepala gatal dan harus digaruk meski sesungguhnya kepala tidaklah kutuan atau ketombean sehingga harus gatal. Sudah separah itukah bangsa ini hingga ada yang nekad memalsukan nota dinas dan telegram polri serta memalsukan tanda tangan pejabat kepolisian? Hanya dimasa rejim ini hal itu bisa terjadi andai nota dan telegram itu memang adalah palsu.

Degradasi kehormatan lembaga negara sepertinya sudah jatuh ke titik paling nadir di era rejim ini. Presiden menanda tangan dokumen negara yang tidak dibaca, dari DPR beredar surat berlogo Ketua DPR semasa Setya Novanto yang berisi katabelece ke Pertamina dan sekarang beredar dokumen atas nama lembaga penegak hukum POLRI.

Inilah potret  pemerintah kita yang sesungguhnya, Pemerintahan yang tidak mencerminkan sebuah negara besar, dan lembaga lembaga negara jatuh kehormatannya ketitik paling nadir.
Penegakan hukum terhadap Ahok yang dilaporkan oleh beberapa pihak dan ormas hingga kini macet dan sedang diutak atik supaya bisa menenuhi keinginan sang tangan-tangan kekuasaan yang mengabdikan diri kepada kepentingan. Proses penegakan hukum terhadap Ahok yang mengabaikan rasa keadilan masyarakat telah membawa bangsa kepada kondisi yang tidak baik. Indonesia Siaga 1 hanya karena penegakan hukum terhadap satu Ahok yang mengabaikan rasa keadilan masyarakat dan melecehkan gerakan sosial dan gerakan sipil.

Ahok ditempatkan diatas negara. Ahok ditempatkan lebih penting dari negara. Hampir semua lembaga dibawah rejim berkuasa bekerja untuk melindungi Ahok sang terlapor penistaan agama sebagaimana yang diatur KUHP Pasal 156. Dan upaya perlindungan kepada Ahok harus dibayar mahal dengan pengerahan pasukan besar-besaran untuk menghadapi aksi massa umat Muslim yang direncakan pada tanggal 04 Nopember 2016 mendatang.

Negara akan mengeluarkan biaya ratusan milyar dan ribuan mungkin puluhan ribu pasukan untuk berhadap-hadapan dengan aksi massa yang menuntut penegakan hukum secara berkeadilan dan menghargai rasa keadilan sosial masyarakat. Sebuah pilihan yang terlalu sadis memilih mempertaruhkan nasib bangsa demi perlindungan sempurna kepada Ahok dari penegakan hukum.

Pemerintah atas nama kekuasaan memilih untuk menghadapkan ekspektasi penegakan hukum publik kedepan kekuatan aparat. Pemerintah memilih melawan tuntutan penegakan hukum hanya untuk melindungi satu orang bernama Ahok. *Pemerintah memilih mempertaruhkan kondusifitas dan keamanan serta kestabilan bangsa demi melindungi sang terlapor peninstaan agama bernama Ahok*.
Mengapa rejim ini tidak memilih menegakkan hukum supaya bangsa kembali tentram dan hubungan harmonis bentuk toleransi keragaman bangsa yang berbhineka. Ada apa dengan presiden yang sangat terkesan vulgar membela Ahok sang musuh toleransi? Ahok yang selalu mendefinisikan diri dengan konstitusi dan Pancasila sesungguhnya tidak paham tentang Pancasila dan Konstitusi.
Siapapun pejabat negara tidak boleh arogan atas nama aturan dan jabatan menjadi semena-mena dan bisa bicara apapun serta boleh menistakan ajaran agama. Ini kekeliruan berpikir Ahok sehingga dia merasa lebih tinggi dari negara dan negara harus kalah kepadanya. Sungguh ini pelecehan terhadap Indonesia yang besar.

Kita minta dan memohon kepada TNI POLRI agar bersikap mengutamakan keselamatan bangsa dan negara diatas keselamatan seorang Ahok. Secara fisik, Ahok harus dilindungi dan dijaga karena itu hak konstitusi mendapatkan rasa aman. Namun secara hukum, Ahok tidak boleh dilindungi atas perilakunya yang diduga menistakan ajaran agama Islam.

Hukum harus ditegakkan setara terhadap semua orang. Yurisprudensi atas kasus yang sama sudah banyak. MUI sebagai wadah berhimpunnya Ulama sudah tegas menyatakan bahwa Ahok menistakan ajaran agama Islam. Jika pendapat ulama tidak didengar lagi, pendapat siapa lagi yang dijadikan rujukan oleh kepolisian?


Jakarta, 30/10/2016
Oleh  :  Ferdinand Hutahaean
citizenjurnalism.com

Begini Detik-detik Evakuasi Ahok Saat Dihadang Massa

JamaahMasjid - Sekelompok massa menghadang dan menolak kampanye Calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Rawa Belong, Jakarta Barat, Rabu (3/11/2016).Aksi ini membuat Ahok harus dievakuasi dari lokasi menggunakan angkutan mikrolet. 

 

Staf ahli anggota DPR RI Darmadi Durianto, Keny Gintinng, yang berada di lokasi saat kejadian menyatakan, penghadangan terhadap Ahok sudah diperkirakan sebelumnya.

“Sejak kedatangan Pak Ahok saya dan rekan-rekan dari Rumah Aspirasi DPR RI Darmadi Durianto bersama pihak kepolisian sudah melakukan pengawalan. Sebab, sudah udah ada tanda-tanda beberapa warga menolak kedatangan Pak Ahok. Saat situasi mulai tidak kondusif, maka Pak Ahok kami evakuasi," cerita Keny kepada TeropongSenayan di Kompleks Parlemen Jakarta, Kamis (3/11/2016).

Melihat kondisi yang kian tidak kondusif akhirnya tim dan jajaran kepolisian mengamankan Ahok ke tempat yang lebih aman.

"Saya bersama rekan-rekan dan pihak kepolisian langsung menyetop Mikrolet M24 jurusan Srengseng-Slipi Kemanggisan-Pasar Kopro Tanjung Duren. Para penumpang saya minta untuk turun demi keamanan, dan akhirnya Pak Ahok berhasil kami evakuasi," ujar dia.

Padahal rencananya, kata Kenny, Ahok akan mendatangi kawasan Salam Raya untuk meninjau Kali Sekretaris.

"Saat itu, Pak Ahok menyusuri gang-gang kecil, menyalami para warga dan sempat mempertanyakan soal banjir," jelasnya.

"Saat mengunjungi salah satu bengkel milik warga di gang sempit, puluhan warga mendatangi Ahok dan meneriaki penolakan mendatangi daerahnya," tambah Sekretaris PAC PDI Perjuangan Kecamatan Kembangan Jakarta Barat ini. (plt)

Editor : Redaktur | teropongsenayan.com

Selasa, 01 November 2016

Bareskrim : "Tinggal 4 Saksi", Nasib Ahok Ditentukan Pekan Depan



 JamaahMasjid- Bareskrim Mabes Polri memastikan pemeriksaan terhadap 15 saksi kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Gubernur Basuki Tjahaja Purnama, hampir selesai.
Pekan depan, akan ditentukan bagaimana posisi kasus tersebut. Apakah ditingkatkan ke penyidikan atau justru memerlukan tambahan pemeriksaan saksi lainnya.
Kadivhumas Mabes Polri Irjen Boy Rafli Amar mengatakan, saat ini telah diperiksa 11 saksi. Namun, masih ada empat saksi ahli lain yang akan diperiksa.
”Pekan ini pemeriksaan terhadap saksi akan selesai,” paparnya.
Dengan begitu, kelanjutan kasus tersebut tentu akan ditentukan dengan gelar perkara pekan depan.
Dalam gelar perkara itu akan dipertimbangkan bagaimana kelanjutan kasus tersebut. ”Ada beberapa opsi kesimpulan,” paparnya.
Selain meningkatkan kasus dari penyelidikan ke penyidikan, ada kemungkinan penyidik mempertimbangkan pemeriksaan pada saksi lainnya.
Hal tersebut bergantung dari hasil gelar perkara. ”Apakah bukti sudah lengkap atau tidak,” tegasnya.
Secara umum akan ditinjau apakah dalam pristiwa yang diduga menistakan agama itu tersedapat sejumlah unsur, diantaranya, adanya niat untuk melakukan kejahatan berupa menistakan agama.
Secara teknis, semua kalimat dan kata yang disebut oleh Ahok akan dianalisa oleh ahli.
”Ahli bahasa menganalisa apa yang diucapkan dan ahli tafsir memberikan keterangan apakah memang terjadi penistaan atau tidak. Semua itu akan mengarahkan bagaimana kasus tersebut,” papar mantan Kapolda Banten tersebut.
Yang lebih utama, Boy mengatakan bahwa masyarakat diharapkan bersabar dengan pengusutan kasus tersebut.
Kepolisian pasti akan memproses kasus tersebut dengan profesional. 

Kalau ada yang menyampaikan pendapat di muka umum terkait kasus tersebut, silahkan. Tapi dihimbau untuk mentaati hukum,” paparnya.
Menurutnya, hingga saat ini kepolisian belum mendapatkan informasi berapa jumlah orang yang akan terlibat dalam penyampaian pendapat di muka umum tersebut.
Tentu, Korps Bhayangkara berharap peserta unjuk rasa bisa memberikan informasi itu.
”Peralatan peraga yang dibawa juga perlu untuk diinformasikan,” ujarnya.
Hingga kemarin kepolisian masih menunggu informasi jumlah peserta unjuk rasa. Sebab, hal tersebut berhubungan dengan rencana pengamanan.
”Kami tunggu kerjasamanya untuk berkoordinasi, agar bisa menentukan berapa jumlah pengamanan yang diperlukan,” terangnya.
Boy mengungkapkan, saat ini telah ada 18 ribu personil Polri dan TNI dalam posisi standby.
Ada yang sudah bersiap di lokasi dan ada yang masih di lokasi yang cukup jauh.
”Kami akan gerakkan sesuai dengan kondisi yang berkembang,” jelasnya.[jpnn]