Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Amalan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 November 2012

Renungan Ketika Mendapatkan Musibah

Jika kita mendapatkan musibah, hendaknya kita merenung / introspeksi diri, bukannya malah mengutuk, atau tidak memikirkan mengapa kita diberi musibah oleh Allah. Berikut ini beberapa renungan yang bisa kita lakukan ketika mendapatkan musibah:
1- Renungkanlah bahwa manusia dan hartanya semuanya milik Allah, semuanya hanya titipan di sisi kita. 2- Setiap orang akan kembali pada Allah dan akan meninggalkan dunia. 3- Allah akan memberi yang semisal dan yang lebih baik bagi yang telah hilang. 4- Ingatlah bahwa mengeluh dan menggerutu hanya menambah derita, bukan menghilangkan musibah. 5- Jika mau bersabar dan yakin semuanya kembali pada Allah, maka itu lebih besar pahalanya dibanding dengan tidak sabar. 6- Berkeluh kesah hanya membuat musuh kita senang dan membuat Allah murka. 7- Sabar dan mengharap pahala itu lebih besar ganjarannya daripada mengharap yang telah hilang itu kembali. 8- Jika kita ridho terhadap musibah, Allah pun senang dengan sikap kita. Sebaliknya jika kita benci, Allah pun akan murka. 9- Ketahuilah bahwa Allah yang menurunkan musibah Maha Hakim dengan hikmah yang ia beri, Penuh Rahmat dengan kasih sayang yang ia beri. Allah tidaklah menimpakan cobaan untuk membinasakan hamba, bahkan untuk menguji seberapa kuat imannya. 10- Musibah itu datang untuk menhindarkan diri kita dari penyakit jelek yaitu ujub dan sombong. 11- Ingatlah bahwa mending merasakan pahit di dunia namun dapat merasakan lezatnya kehidupan akhirat. Diringkas dari penjelasan Ibnul Qayyim dalam kitab Zaadul Ma’ad, penjelasan tentang petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat mengobati musibah. Semoga Allah memberikan kita kesabaran ketika menghadapi setiap ujian dan cobaan. Referensi: Mukhtashor Zaadul Ma’ad, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan keempat, 1429 H, hal. 265-267. - rumaysho.com

Jumat, 10 Februari 2012

Siksa bagi yang meninggalkan shalat: kepalanya dilempari dengan batu terus menerus

Siksa bagi yang meninggalkan shalat: kepalanya dilempari dengan batu terus menerus.

سَمُرَةُ بْنُ جُنْدَبٍ -رضى الله عنه- قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِمَّا يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لأَصْحَابِهِ «هَلْ رَأَى أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنْ رُؤْيَا» قَالَ فَيَقُصُّ عَلَيْهِ مَنْ شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُصَّ، وَإِنَّهُ قَالَ ذَاتَ غَدَاةٍ «إِنَّهُ أَتَانِى اللَّيْلَةَ آتِيَانِ، وَإِنَّهُمَا ابْتَعَثَانِى، وَإِنَّهُمَا قَالاَ لِى انْطَلِقْ. وَإِنِّى انْطَلَقْتُ مَعَهُمَا، وَإِنَّا أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مُضْطَجِعٍ، وَإِذَا آخَرُ قَائِمٌ عَلَيْهِ بِصَخْرَةٍ، وَإِذَا هُوَ يَهْوِى بِالصَّخْرَةِ لِرَأْسِهِ، فَيَثْلَغُ رَأْسَهُ فَيَتَهَدْهَدُ الْحَجَرُ هَا هُنَا، فَيَتْبَعُ الْحَجَرَ فَيَأْخُذُهُ، فَلاَ يَرْجِعُ إِلَيْهِ حَتَّى يَصِحَّ رَأْسُهُ كَمَا كَانَ، ثُمَّ يَعُودُ عَلَيْهِ، فَيَفْعَلُ بِهِ مِثْلَ مَا فَعَلَ الْمَرَّةَ الأُولَى. قَالَ قُلْتُ لَهُمَا سُبْحَانَ اللَّهِ مَا هَذَانِ.

Artinya: “Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anhu berkata: “Senantiasa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sering bertanya kepada para shahabatnya: “Apakah salah seorang dari kalian ada yang bermimpi?”, maka berceritalah yang ingin bercerita (tentang mimpinya). Dan pada suatu pagi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tadi malam telah datang kepadaku dua tamu, mereka mengajakku keluar dan berkata kepadaku: “Ayo jalan”, lalu akupun pergi bersama keduanya, lalu kami mendatangi seorang yang lagi berbaring terlentang dan seorang lagi berdiri sambil memegang sebongkah batu, ia melemparkan batu tersebut ke kepalanya (orang yang berbaring terlentang tadi), batu tadi akhirnya memecahkan kepalanya dan batu tersebut menggelinding kesana kemari, lalu ia mengikuti batunya dan mengambilnya, tidaklah ia kembali kepada orang yang berbaring terlentang tadi sampai kepalanya kembali seperti semula, kemudian ia kembali kepada orang yang berbaring terlentang tadi dan mengulangi perbuatannya, seperti yang ia lakukan ketika pertama kali. Lalu aku bertanya kepada dua yang membawaku: “Maha suci Allah, Apa yang mereka berdua ini lakukan?”…



Di akhir cerita dalam hadits ini disebutkan:

قُلْتُ لَهُمَا فَإِنِّى قَدْ رَأَيْتُ مُنْذُ اللَّيْلَةِ عَجَبًا ، فَمَا هَذَا الَّذِى رَأَيْتُ قَالَ قَالاَ لِى أَمَا إِنَّا سَنُخْبِرُكَ ، أَمَّا الرَّجُلُ الأَوَّلُ الَّذِى أَتَيْتَ عَلَيْهِ يُثْلَغُ رَأْسُهُ بِالْحَجَرِ ، فَإِنَّهُ الرَّجُلُ يَأْخُذُ الْقُرْآنَ فَيَرْفُضُهُ وَيَنَامُ عَنِ الصَّلاَةِ الْمَكْتُوبَةِ ،

“Aku (Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam) berkata kepada dua orang yang membawaku: “Sungguh malam ini aku telah melihat sesuatu yang sangat menakjubkan, kiranya apakah yang telah aku lihat?”, dua orang ini menjawab: “Sungguh kami akan memberitahukanmu, adapun orang pertama yang engkau datangi, yang kepalanya dipecahkan dengan batu, dialah yang mengambil Al Quran lalu membuangnya dan tidur (tidak mengerjakan) shalat yang wajib, …”. HR. Bukhari.

Maksud dari "Mengambil Al Quran lalu membuangnya": Meninggalkan hafalan Al Quran dan tidak mengamalkan maknanya. Lihat Syarh Shahih Al Bukhari, karya Ibnu Baththal, Umdat Al Qari, karya Badruddin Al 'Ainy.

Maksud dari "Tidur (tidak mengerjakan) shalat yang wajib": Melalaikan shalat sehingga keluar waktunya. Lihat Syarh Shahih Bukhari, karya Ibnu Baththal.

Minggu, 20 November 2011

Hukum Edarkan Kotak Infak Saat Khutbah Jum'at

Salah satu keistimewaan hari jum'at karena di dalamnya terdapat shalat Jum'at. Shalat Jum'at harus dikerjakan secara berjama'ah dan diawali dengan khutbah. Bahkan para Malaikat, ketika imam naik mimbar, akan menutup buku catatannya guna mendengarkan khutbah.



Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallah 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

“Maka apabila imam telah keluar (dan memulai khutbah), malaikat hadir dan ikut mendengarkan dzikir (khutbah).” (Muttafaq 'alaih; al Bukhari no. 881 dan Muslim no. 850)

Yakni, para malaikat menutup buku catatan mereka dan tidak mencatat tambahan pahala bagi orang-orang yang datang dan masuk ke masjid setelah imam naik mimbar.

Masih dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا كَانَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ كَانَ عَلَى كُلِّ بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْمَسْجِدِ الْمَلَائِكَةُ يَكْتُبُونَ الْأَوَّلَ فَالْأَوَّلَ فَإِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ طَوَوْا الصُّحُفَ وَجَاءُوا يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ

"Apabila hari Jum'at tiba, pada pintu-pintu masjid terdapat para Malaikat yang mencatat urutan orang datang, yang pertama dicatat pertama. Jika imam duduk, merekapun menutup buku catatan, dan ikut mendengarkan khutbah." (HR. Bukhari dan Muslim)

Menurut Syaikh Abdul Aziz bin Bazz rahimahullah, "saat pertama dimulai, sejak naiknya matahari. Karena orang yang akan mengerjakan shalat Jum'at dianjurkan duduk di masjid setelah shalat Shubuh sampai terbit matahari." (Dituturkan oleh DR. Sa'id bin Ali al Qahthahi dalam Shalah al Mukmin: 3/351)

Para malaikat menutup buku catatan mereka dan tidak mencatat tambahan pahala bagi orang-orang yang datang dan masuk ke masjid setelah imam naik mimbar.


Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Ghalib, Abu Umamah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

"Para Malaikat duduk pada hari Jum'at di depan pintu masjid dengan membawa buku catatan untuk mencatat (orang-orang yang masuk masjid). Jika imam keluar (dari rumahnya untuk shalat Jum'at), maka buku catatan itu dilipat."

Kemudian Abu Ghalib bertanya, "wahai Abu Umamah, bukankah orang yang datang sesudah imam keluar mendapat Jum'at? Ia menjawab, "tentu, tetapi ia tidak termasuk golongan yang dicatat dalam buku catatan." (Dihasankan oleh Syaikh al Albani rahimahullah dalam Shahih al Targhib, no. 710)

Maka kondisi terbaik ketika imam menyampaikan khutbah Jum'at adalah diam dan mendengarkan dengan seksama. Tidak boleh melakukan hal-hal yang bisa memalingkan konsentrasi dari mendengarkan khutbah.


Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

"Barangsiapa berwudlu, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudlunya, kemudian mendatangi shalat Jum'at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum'at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum'atnya." (HR. Muslim)

Imam an Nawawi rahimahullah menjelaskan dalam Syarh Shahih Muslim, "dalam hadits tersebut terdapat larangan memegang-megang krikil dan lainnya dari hal yang tak berguna pada waktu khutbah. Di dalamnya terdapat isyarat agar menghadapkan hati dan anggota badan untuk mendengarkan khutbah. Sedangkan makna lagha (perbuatan sia-sia) adalah perbuatan batil yang tercela dan hilang pahalanya."

Diriwayatkan dalam Shahihain, dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

"Jika engkau berkata pada temanmu pada hari Jum'at, "Diamlah!", sewaktu imam berkhutbah, berarti kamu telah berbuat sia-sia." (Muttafaq 'Alaih, lafadz milik al Bukhari)

Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari berkata, "dalam hadits ini, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam telah menetapkan bahwa memerintahkan diam saat khutbah adalah bentuk lahwun, walaupun bentuknya perintah yang ma'ruf dan melarang dari yang munkar. Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap perkataan yang mengganggu dari mendengarkan khutbah, hukumnya lahwun. Dan bila ingin memerintahkan diam orang yang bicara, dengan isyarat."

. . . menunjukkan bahwa setiap perkataan yang mengganggu dari mendengarkan khutbah, hukumnya lahwun. . .

Beliau menambahkan, “Hadits di atas dijadikan dalil larangan terhadap seluruh macam perkataan pada saat khutbah, dan demikian itu pendapat mayoritas ulama terhadap orang yang mendengarkan khutbah.”

Sedangkan makna laghauta, menurut Imam al Shan'ani dalam Subulus Salam, ". . . makna yang paling mendekati kebenaran adalah pendapat Ibnul Muniir, yaitu yang tidak memiliki nilai baik. Adapula yang mengatakan, (maknanya) batal keutamaan (pahala-pahala) Jum’atmu dan nilainya seperti shalat Dhuhur.”

Dari Ibnu 'Abbas radliyallah 'anhu bercerita, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَكَلَّمَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَهُوَ كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا وَاَلَّذِي يَقُولُ لَهُ : أَنْصِتْ لَيْسَتْ لَهُ جُمُعَةٌ

"Siapa yang berbicara pada hari Jum'at, padahal imam sedang berkhutbah, maka dia seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Dan orang berkata kepada (saudara)-nya, 'diamlah!', tidak ada Jum'at baginya." (HR. Ahmad, dengan sanad la ba-tsa bih).

Maksud dari penyerupaan orang yang berbicara saat imam berkhutbah dengan keledai yang membawa kitab yang tebal-tebal adalah karena dia tidak mendapat manfaat yang besar, padahal dia telah susah-susah datang dan capek untuk sampai ke masjid.

Sedangkan Makna "tidak ada Jum'atan baginya" berarti dia tidak mendapatkan Jum'at secara sempurna. Nilai Shalat Jum'atnya seperti shalat Dzuhur. (lihat Fathul Baari: II/184 dan Subulus Salam: III/172)

Makna "tidak ada Jum'atan baginya" berarti dia tidak mendapatkan Jum'at secara sempurna. Nilai Shalat Jum'atnya seperti shalat Dzuhur. .

Mengedarkan kotak infak saat Imam berkhutbah

Dari ulasan di atas, sangat jelas sikap yang harus dilakukan oleh Jama'ah Jum'ah, yaitu diam dan mendengarkan khutbah yang disampaikan imam dengan seksama. Sehingga dia bisa mengambil manfaat dari khutbah yang disampaikan. Jangan dia berbicara kepada kawannya atau melakukan perbuatan yang bisa mengganggu dari mendengarkan dan memperhatikan khutbah.

Realitas berbeda sering ditemukan di kebanyakan masjid, kotak amal/kotak infaq diedarkan saat imam naik mimbar dan khutbah sedang berlangsung. Ini adalah kesalahan besar, karena mengganggu kekhusyu'an dalam mendengarkan khutbah.

Di sebagian masjid, kotak amal diedarkan oleh petugas. Ia berdiri saat khutbah kedua untuk menjalankan kotak amal kepada Jama'ah, shaf demi shaf. Maka ia telah melakukan kesalahan besar, tapi merasa telah berbuat kebaikan.

Dalam hal ini, kesalahan bukan hanya dilakukan oleh petugas tadi. Orang yang berinfaq juga melakukan kesalahan, karena melakukan kegiatan yang menyibukkan dari memperhatikan khutbah. Ia memasukkan tangannya ke saku, mengeluarkan uang, dan memasukkannya ke kotak amal. Ini adalah perbuatan sia-sia yang dilarang pada saat imam berkhutbah.

Barangsiapa yang ingin berinfak, hendaknya melakukannya sebelum dimulainya khutbah Jum'at atau sesudah pelaksanaan shalat.

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Barangsiapa mengusap-usap kerikil, maka ia telah melakukan yang sia-sia."

Jika sekedar mengusap-ngusap kerikil atau tikarnya saja dinilai sia-sia, lalu bagaimana dengan orang yang berdiri mengedarkan kotak infak atau sibuk memindahkan atau menjalankannya ke sampingnya? Lalu bagaimana juga dengan kondisi orang yang sibuk mengambil uang di sakunya, mengeluarkannya, lalu memasukkan ke kotak amal? Tentu jauh lebih dianggap sia-sia. (Syaikh Wahid Abdul Salam Bali dalam Al Kalimaat al Naafi'ah fi Akhtha' al Sya-i'ah -diterjemahkan dengan 474 Kesalahan Umum dalam akidah dan Ibadah beserta koreksinya- hal. 349)

Jika sekedar mengusap-ngusap kerikil atau tikarnya saja dinilai sia-sia, lalu bagaimana dengan orang yang berdiri mengedarkan kotak infak atau sibuk memindahkan atau menjalankannya ke sampingnya?


Jadi, memutar kotak amal pada saat shalat jum’at di saat imam berkutbah hukumnya tidak boleh, karena mengganggu seseorang dari mendengarkan dan memperhatikan khutbah. Akibatnya, orang yang melakukan kesalahan ini akan kehilangan keutamaan shalat Jum'at. Ibadah Jum'atnya seperti melaksanakan shalat dzuhur.

Sebagai gantinya, kotak amal bisa diletakkan di samping pintu sehingga setiap orang yang ingin bersedekah bisa memanfaatkannya, baik sebelum khutbah dimulai atau sesudah shalat.

Rabu, 17 Agustus 2011

Permainan Terorganisir di Dunia Fana



DUNIA dalam PANDANGAN ALLAH (ISLAM)



" Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? " (Qs al an'aam : 32)




" Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan " (Qs ali imran : 185)




Yup! Dunia itu penuh dengan permainan dan senda gurau. Dunia juga penuh dengan kesenangan yang memperdayakan.

Coba kita bayangkan!

Sejak bangun tidur hingga akan tidur kembali, kehidupan dunia fana yang kita jalani penuh dengan permainan dan senda gurau serta kesenangan yang memperdayakan.

~ Kita beraktivitas :

1. Menyalakan TV, membaca koran, majalah, media online (internet)

Apa yang kita lihat? Suguhan berupa :

- Berita, baik dan buruk

- Hiburan semacam gosip infotainment (insert,go show,dsb), musik (MTV, inbox, dahsyat, dsb), film (telenovela, sinetron, film (bolly/holly)wood, dsb), komedi (srimulat, extravaganza, opera van java, bukan empat mata, awas ada sulee...dsb), reality show (tolong, termehek-mehek, orang ke 3, dsb), ajang kompetisi bakat (indonesian idol, IMB,dsb), ajang biro jodoh mengumbar syahwat (take me/him out, dsb)

2. Pergi ke :

Pasar/mall

Apa yang kita lakukan?

- Belanja__>belanja yang dibutuhkan atau tak dibutuhkan

- Belanja plus__>window shopping alias cuci mata, nonton pertunjukkan/hiburan yang ada dalam pasar/mall, belanja sambil ngerumpi/nge-gosip

Sekolah/kampus

Apa yang kita lakukan?

- Belajar

- Belajar plus__>refreshing semisal ikut ekskul,bermain,berteman dan bersenda gurau dengan teman, dari yang halal hingga haram semisal berteman tapi mesra, berpacaran, bahkan berzina

3. Kita merayakan :

Hari keagamaan semisal idul fitri, idul adha atau tahun baru

Apa yang kita lakukan?

- Merayakan nya dengan khidmat__> zikrullah, bermajelis ta'lim, dan meningkatkan ilmu dienul Islam

- Merayakan nya dengan euforia berlebihan hingga bersikap berlebih-lebihan dan boros

- Meniup terompet, menyalakan kembang api, petasan

- Ikut 'track-track'an

- Hang out semalaman bahkan berhari-hari

- Berpesta pora

- Bahkan bermaksiyat padaNya di malam tahun baru dengan berzina, dsb

4. Kita bermain dan menonton olah raga dan permainan :

Sepak bola, berkuda, bertinju, dsb

Apa yang kita lakukan?

- Sekedar bermain dan berolah raga atau refreshing

- Bermain dan berolah raga plus__>ikut menjadi bonek mania berakibat pada fanatisme buta, permusuhan, pertikaian, ikut taruhan alias berjudi hingga melalaikan kewajiban kita pada Allah dan orang lain serta hakikat persoalan manusia dalam segala bidang (poleksosbudhankam)



SIKAP KITA?




Melihat begitu banyak aktivitas manusia diatas, bisa kita bayangkan betapa banyaknya aktivitas tersebut dipenuhi dengan senda gurau, permainan, dan kesenangan yang memperdayakan bagi sebagian para pelaku aktivitas tersebut.



Bermain dan bersenda gurau serta menikmati dunia dengan segala perhiasannnya tak mengapa asalkan tak melalaikan kita dari tujuan hidup kita di dunia sebagai seorang muslim dan mu'min.



Dalam islam, memang kita tak dilarang nonton bola via televisi atau main bola itu sendiri. Asal jangan kemudian melalaikan kewajiban yang telah dibebankan oleh agama kita. Dan diharamkan di dalam aktivitas permainan tersebut adanya sebuah kemaksiyatan pada Allah

Allah Swt, berfiman:

"...sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan." [TQS al-Mâidah [5]: 90]



Imam Asy Syathibi menyatakan:

"Hiburan, permainan, dan bersantai adalah mubah atau boleh asal tidak terdapat suatu hal yang terlarang." Selanjutnya beliau menambahkan, "Namun demikian hal tersebut tercela dan tidak disukai oleh para ulama. Bahkan mereka tidak menyukai seorang lelaki yang dipandang tidak berusaha untuk memperbaiki kehidupannya di dunia dan tempat kembalinya di akhirat kelak, karena ia telah menghabiskan waktunya dengan berbagai macam kegiatan yang tidak mendatangkan suatu hasil duniawi dan ukhrawi". Sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Al Hakim dengan sanad shahih: Setiap permainan di dunia ini adalah bathil, kecuali tiga hal; memanah, menjinakan kuda, dan bermain dengan istri... Yang dimaksud bathil di sini, adalah sia-sia atau yang semisalnya, yang tidak berguna dan tidak menghasilkan buah yang dapat dipetik (Al Muwaafaqaat, Jilid I, hlm 84).




Semua bentuk aktivitas yang melenakan dan memperdayakan kita terkategori dalam permainan yang terorganisir (lahwun munadhomun) dan telah dirancang oleh orang-orang kafir (Zionis) untuk melenakan kaum muslimin.

Hal ini bisa disimak dalam Protocol of Zion poin ke-13 yang diterbitkan Prof. Sergyei Nilus di Rusia pada 1902. Intinya, "Zionisme merencanakan hendak mengundang masyarakat melalui surat-surat kabar waktu itu, untuk mengikuti berbagai lomba yang sudah diprogram. Diharapkan kesenangan baru yang diciptakan itu secara perlahan akan melenakan kaum muslimin dari konflik-konflik kaum muslimin dengan bangsa Yahudi."



0leh karena itu, hendaknya kita jangan terpedaya oleh tipu daya musuh-musuh Allah dalam melenakan dan memperdayakan manusia, termasuk diri kita sebagai muslim dan mu'min.

Alangkah baiknya kita senantiasa fokus pada tujuan penciptaan diri kita oleh Allah dan pada aktivitas yang semakin mendekatkan diri kita pada Allah. Termasuk membentengi diri kita dengan mengkaji Islam untuk kita amalkan dalam kehidupan ber-individu, bermasyarakat, dan bernegara.Serta aktif dalam kegiatan muhasabah, dan da'wah islam/amar ma'ruf nahi munkar

" Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku."(Qs ad dzariyat (51) : 55)


1. Demi Masa.

2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,

3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan menasehati supaya menetapi kesabaran. " (QS. Al 'Ashr: 1-3)

Sabtu, 12 Februari 2011

Taubat Nasuha




Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.


Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: "Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut)."


Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat.



Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160

"Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."




Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam



surat Al-Baqarah: 222, "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri."




Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya.



Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari: "SesungguhnyaAllah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat."



Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.



Tepatlah kiranya firman Allah dalam



surat Ali Imran ayat: 133, "Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui."




Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah "Taubat Nasuha", yaitu taubat yang murni.



Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66, "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan 'Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu'".






RUKUN TAUBAT



TAUBAT NASUHA
(bukan TAUBAT 'SAMBAL')



Sebagai Antisipasi/pencegahan ---sebelum terjadi dosa:

1. Iman pada Allah

2. Takut pada azhabNya akibat dosa kita

3. Menjauhi dosa/maksiyat



Sebagai Penanggulangan ---setelah terjadi dosa:

4. Menyesali diri karena terlanjur berbuat maksiyat

5. Berjanji pada Allah untuk tidak mengulangi perbuatan dosa

6. Jika kita bersalah pada Allah,banyak istighfar dan bertaubat padaNya,Allah maha pengampun



Jika kita bersalah pada manusia,selain banyak istighfar,segera akui kesalahan kita dan mohon maaf padanya.Ampunan Allah akan kita dapatkan seiring dengan keridhoan manusia yang kita zholimi untuk memaafkan kesalahan kita.

(seandainya kesalahan tersebut dilakukan dalam lingkup sistem islam,yakni khilafah,baik menyangkut dosa penguasa pada umat/rakyatnya,maupun dosa seorang manusia terhadap manusia lain,semacam kriminalitas : pembunuhan,pencurian,perzinahan,dll; selain banyak istighfar dan mengakui kesalahannya,ia juga harus melalui step hukuman dunia versi syariah Allah,yakni sanksi / uqubat islam yang berfungsi sebagai : penebus dosa manusia di akhirat dan pencegah bagi manusia lain dari berbuat dosa di dunia)

7. Resapi secara mendalam istighfar kita dari lesan hingga amalan kita. Allah tak sekedar butuh lesan tapi juga perbuatan kita dengan :

8. Tetap istiqamah dalam menerapkan upaya 'preventif' lebih baik daripada menanggulangi selain tetap menanggulangi terjadinya dosa (no 1-9)

9. Sempurnakan kewajiban dan perbanyak amal sunnah dan sholih lainnya untuk meminimalisir dosa-dosa kita serta memperberat timbangan kebajikan kita di akhirat kelak





FUNGSI TAUBAT



1. Menambah kemudahan bagi kita untuk mendapatkan hidayahNya

(Qs an Nisa : 26-27)



" Allah hendak menerangkan syariahNya kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan hendak menerima taubatmu.Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan Allah hendak menerima taubatmu,sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran"




Sebagai seorang muslim,kita tetap berharap hidayahNya karena tak semua muslim dibukakan oleh Allah untuk melapangkan hatinya dalam menerima hidayahNya (kecuali jika mereka berusaha membuka pintu hidayah Allah dengan selalu mengkaji dan ingin segera berubah menjadi pribadi muslim yang baik dengan melaksanakan syariah Allah,yakni Islam)



2. Menyongsong kedatangan hidayah

Allah telah memberikan pada kita nikmat berupa kelimpahan rizqi materi dan spiritual tak terhingga.

Perbedaanya :

Rizqi materi bisa diberikan oleh Allah pada siapapun diantara manusia,tak peduli apakah ia seorang mu'min/kafir,fasik ataukah munafik.Karena Allah maha pemberi

Namun kasih sayang Allah hanya untuk orang-orang yang mengimaniNya dan melapangkan hatinya untuk menerima hidayah Allah,dengan memberikannya nikmat Rizqi spiritual berupa iman,islam,Al Qur'an,sifat-sifat baik yang harus ada pada dirinya sebagai seorang muslim dan mu'min, kesehatan,waktu dan usia,serta ketundukan dan kepasrahannya pada Allah dan syariahNya.



3. Memberi kesenangan hidup dunia akhirat

(Qs Huud : 3)



" Dan hendaklah kamu meminta ampun pada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya.Jika kamu mengerjakan demikian,niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik terus menerus kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.Dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang memiliki keutamaan balasan atas keutamaannya "




Orang yang gemar beristighfar dan bertaubat-dengan sebenar-benarnya istighfar dan taubat-pada Allah,akan dimudahkan olehNya untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan hidup dunia akhirat



4. Melapangkan rizqi Allah

(Qs Huud : 61)



" Dan kepada Tsamud Kami utus saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata," Hai kaumku,sembahlah Allah.Sekali-kali tidak ada Tuhan selain Dia.Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.Karena itu mohonlah ampunanNya kemudian bertaubatlah kepadaNya.Sesungguhnya Tuhanku amat dekat rahmatNya lagi memperkenankan doa hambaNya "




Beristighfar dan bertaubat adalah salah satu cara yang dilakukan seorang muslim agar Allah melapangkan rizqiNya kepadanya yang telah menciptakannya dari bumi (tanah) dan menjadikannya sebagai pemakmur serta pemeliharanya.



5. Menjadikan para pelakunya (mustaghfirun) memperoleh salah satu haknya sebagai orang-orang mu'min.(Qs at Taubah : 11)



" Jika mereka bertaubat,mendirikan shalat dan menunaikan zakat,maka mereka itu adalah saudara-saudaramu seagama "


Hak sebagai orang mu'min tersebut adalah diakui oleh sesama muslim sebagai saudara seiman dan seagama mereka.





RENUNGAN




Kehidupan di dunia meskipun diibaratkan Allah sebagai senda gurau dan permainan belaka,sementara Allah juga menerangkan kehidupan sejati adalah kehidupan akhirat,implementasi menjalani kehidupan dunia sangat serius dan tidak main-main.Pemahaman seorang muslim harus berbeda dari pemahaman non muslim sebagaimana islam berbeda dari non islam-tentang hakikat kehidupan dunia dan akhiratnya serta implementasi menjalaninya.

Senda gurau dan permainan kehidupan dunia fana ini justru harus mendorong seorang muslim untuk serius dan bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupannya di dunia untuk mendapatkan kebahagiaan kekal di akhirat sesuai dengan konstitusi umat Islam,yakni Al Qur'an selain juga as sunnah.



Yaa Allah

Jangan Kau biarkan kami
sebagai hamba pemberontak tapi hamba yang taat pada tuannya,Allah
Jadikanlah ketaan kami sebagai hambaMu hanya untuk membela dan mentaatiMu
Jadikanlah pemberontakan kami hanya untuk menentang para pemberontak yang menentang dan anti syariahMu,baik tersembunyi dan terang-terangan.


Jangan Kau biarkan hidup kami
mengalir seperti arus sungai yang deras mengalir kemanapun yang sungai itu kehendaki
Bimbinglah hidup kami
sesuai arah yang Kau inginkan dalam kitabullah dan as sunnah


Jangan Kau biarkan kami
untuk menduakanMu dengan menjadikan hawa nafsu kami sebagai tuhan
yang akan menghinakan kami lebih rendah dari binatang ternak (Qs al Furqan : 43-44)
Bimbinglah dan Mudahkanlah kami
untuk mengesakanMu dengan menjadikanMu sebagai Tuhan bahkan Ilah bagi kami
yang akan meninggikan dan memuliakan kami pada derajat orang-orang bertaqwa
Amiin...

Kamis, 20 Januari 2011

4 Hal Yang 'LEBIH BAIK' dalam 4 Hal



Aku mengamati semua SAHABAT,

dan tidak menemukan sahabat yang lebih baik daripada MENJAGA LIDAH


Aku memikirkan tentang semua PAKAIAN,

dan tidak menemukan pakaian yang lebih baik daripada TAQWA


Aku merenungkan tentang semua jenis AMAL,

namun tidak mendapatkan yang lebih baik daripada MEMBERI NASIHAT BAIK


Aku mencari semua bentuk RIZQI,

namun tidak menemukan rizqi yang lebih baik daripada SABAR



(Umar Bin Khaththab)



Umar bin Khaththab salah seorang sahabat dekat nabi Muhammad SAW. Dan beliau adalah khalifah kedua setelah wafatnya Abu Bakar ash Shiddiq. Jasanya terhadap penyebaran Islam sangat besar sehingga penulis Michael H.Heart menempatkannya sebagai orang paling berpengaruh nomor 51 sedunia. Beliau lahir di Makkah dari bani Ad dengan nama lengkap Umar bin Khaththab bin Nafiel bin Abdul Uzza. Selama masa jabatannya, kekuatan Islam maju pesat. Mesopotamia, sebagian Persia, Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara, dan Armenia berhasil ditaklukkan. Umar syahid setelah ditikam oleh Abu Lukluk, seorang budak Persia (yang dendam atas kekalahan Persia) di suatu subuh 25 Dzulhijjah 23 H saat Umar sedang menunaikan shalat subuh.

Semoga Allah merahmati dan meridhoi Umar bin Khaththab dan jasa-jasanya bagi Islam dan umatnya sepanjang masa.

Jumat, 07 Januari 2011

Mari Bersyukur Setiap Waktu




Pernahkah Anda berpikir berapa kekayaan setiap orang jika dihargai dengan uang? Berapakah harga tubuh manusia jika diuangkan? Berapa harga mata, hidung, telinga, mulut, otak, kepala, lidah, tangan kaki dan apa saja yang menjadi bagian dari tubuh manusia jika dirupiahkan?



Saat mata kita sehat, kita tak pernah berpikir betapa berharganya mata kita. Coba saja jika suatu ketika mata Anda, karena satu sebab kecelakaan tertentu, menjadi buta. Kebetulan Anda memiliki tabungan milyaran rupiah. Apa yang Anda lakukan? Anda pasti akan membayar berapa milyar pun untuk mengembalikan penglihatan Anda. Tak peduli jika untuk itu tabungan Anda terkuras nyaris habis. Saat tangan atau kaki kita sehat dan normal, kita pun mungkin jarang berpikir betapa bernilainya kedua anggota tubuh kita itu. Namun, pernahkah Anda membayangkan andai suatu saat, karena satu sebab musibah tertentu, tangan atau kaki Anda itu harus diamputasi? Pasti, jika kebetulan Anda orang kaya, Anda akan sanggup mengeluarkan ratusan juta atau bahkan milyar rupiah asal tangan atau kaki Anda tidak diamputasi dan kembali sehat serta normal seperti sedia kala. Bagaimana pula jika satu sebab bencana tertentu wajah Anda yang ganteng/cantik tiba-tiba harus menerima kenyataan rusak parah tak berbentuk akibat terbakar hebat atau terkena air keras? Pasti, Anda pun dengan ikhlas dan rela akan melepaskan harta apa saja yang Anda miliki asal wajah Anda bisa kembali ganteng/cantik seperti sedia kala.



Sudah banyak bukti, orang-orang yang berpunya sanggup mengorbankan hartanya sebanyak apapun demi mengembalikan kesehatannya; demi sembuh dari penyakit jantung, kanker, kelumpuhan, kecacatan dll. Bahkan demi mengembalikan agar kulitnya menjadi kencang, atau agar keriput di wajahnya bisa hilang, banyak orang rela merogoh sakunya dalam-dalam.



Jika sudah demikian, semestinya kita sadar, betapa kayanya setiap diri kita; hatta jika secara materi kita bukan orang berpunya. Bukankah kita akan tetap mempertahankan mata atau hidung kita meski ada orang mau menawar dan membelinya seharga ratusan juta rupiah? Bukankah kita tak akan rela melepas jantung atau paru-paru kita walau ada orang berani menawarnya seharga semilyar rupiah? Bukankah kita tak akan sudi kehilangan tangan atau kaki kita meski untuk itu kita mendapatkan kompensasi harta yang melimpah-ruah? Bukankah kita pun tak akan pernah rela menyewakan nafas kita barang lima atau 10 menit meski harga sewanya jutaan rupiah? Sebab, kita amat paham, tidak bernafas lima atau 10 menit berisiko menjadikan kita mati lemas.



Belum lagi jika kita berusaha meneliti udara yang kita hirup saat bernafas. Pikirkan pula air yang kita minum; yang digunakan untuk mandi, mencuci, memasak; dll. Renungkan pula bumi yang kita pijak, sinar matahari yang menyinari setiap hari, air hujan yang turun ke bumi, sinar bulan yang menghiasai malam, jalanan yang kita lalui, pemandangan alam yang kita nikmati, dll. Bagaimana jika semua itu harus kita beli? Berapa ratus juta bahkan berapa puluh milyar rupiah uang yang harus kita keluarkan?



Namun, alhamdulillah, semua kekayaan dan kemewahan itu Allah berikan kepada kita secara cuma-cuma alias gratis! Tak sepeser pun kita dipungut oleh Allah SWT untuk membayar nikmat yang luar biasa itu. Amat pantaslah jika Allah SWT dalam Alquran surat ar-Rahman berkali-kali mengajukan pertanyaan retoris kepada manusia: Fa bi ayyi âlâ’i Rabbikumâ tukadzibân (Nikmat Tuhan manakah yang kalian dustakan)? Lebih dari itu, Dia-lah Tuhan Yang mengurus kita siang-malam tanpa pernah meminta upah secuil pun.



Mahabenar Allah Yang berfirman (yang artinya): Katakanlah, “Siapakah yang dapat memelihara kalian pada waktu malam dan siang hari selain Zat Yang Maha Pemurah?”(TQS al-Anbiya’ [21]: 42).




Pertanyaannya: Sudahkah atas semua itu kita bersyukur? Ataukah kita malah sering berlaku sombong dan takabur? Sudah berapa milyar kali hamdalah kita ucapkan untuk-Nya? Ataukah kita malah gemar berkhianat kepada-Nya? Na’udzu billah.



Semoga kita semua menjadi hamba Allah SWT yang selalu bersyukur setiap waktu atas segala karunia-Nya yang luar biasa itu, bukan hamba yang takabur apalagi kufur kepada-Nya. Paling tidak, hal itu dibuktikan dengan keseriusan dan ketekunan kita dalam beribadah dan ber-taqarrub kepada-Nya; dalam menaati segala titah-Nya; dalam mengorbankan apa saja untuk agama-Nya; serta dalam berjuang menegakkan akidah dan syariah-Nya demi kemuliaan Islam dan umatnya. Amin