Jumat, 26 Maret 2010

Menyuruh Anak Mengerjakan Sholat

Menyuruh Anak Mengerjakan Sholat

1.) "Jika seorang laki-laki bangun pada malam hari lalu dia membangunkan istrinya dan kemudian mereka berdua mengerjakan sholat dua rakaat, maka keduanya akan ditetapkan termasuk orang-orang yang banyak berdzikir kepada Allah, baik laki-laki maupun perempuan." (HR. Ibnu Majah).

2.) "Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan sholat ketika mereka berusia tujuh tahun." (HR. Abu Dawud).

3.) "Sesungguhnya sholat seseorang dengan satu orang lainnya lebih suci daripada sholatnya seorang diri. Dan sholatnya dengan dua orang lebih suci daripada sholatnya dengan satu orang. Dan yang lebih banyak akan lebih disukai oleh Allah yang Mahatinggi." (Shahih Sunan Abi Dawud, I/110)

Jangan diklik kalau tidak benar-benar Penggerak & Simpatisan Sholat --> http://www.facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK

Muhammad Sebagai Seorang Suami


Di antara tanda kasih sayang Allah swt terhadap manusia adalah diutusnya Rasul ditengah-tengah mereka. Inilah nikmat paling besar yang Allah swt karuniakan kepada manusia. Agar para Rasul menjadi penerang bagi orang-orang yang salah jalan. Menjadi penunjuk bagi orang-orang yang tersesat.

Hal paling utama dan berharga yang dipersembahkan para Rasul kepada manusia setelah penunjukan jalan hidayah Allah swt. adalah mereka, para Rasul sebagai contoh teladan bagi yang meniti jalan menuju Allah swt, agar orang beriman mengambil apa yang mereka contohkan dalam segenap urusan dan bidang, fiddunya wal akhirah.
Allah swt berfirman tentang pribadi Nabi kita Muhammad saw.:
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Al Ahzab:21

Berkata Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini: “Inilah ayat mendasar yang berisikan anjuran menjadikan Rasulullah saw sebagai suri teladan, dalam ucapan, perbuatan dan keadannya.”

Dan bukti kemurahan Allah swt terhadap umat Islam ini adalah, bahwa sirah atau perjalanan hidup Nabi saw. baik berupa ucapan, perbuatan dan keadaannya direkam dan dijaga oleh para tokoh –ahli hadits- yang mukhlis. Dan mereka menyampaikan apa yang datang dari Rasul kepada orang lain dengan sangat amanah.

Contoh sederhana adalah tentang petunjuk Nabi bagaimana beliau makan, cara minum, berpakaian, berhias, bagaimana beliau tidur dan ketika terjaga, ketika beliau mukim atau sedang safar, ketika beliau tertawa atau menangis, dalam kesungguhan atau canda, dalam suasana ibadah atau hubungan sosial, perihal urusan agama atau dunia, ketika kondisi damai atau saat perang, dalam berinteraksi dengan kerabat atau orang yang jauh, menghadapi teman atau lawan, sampai pada sisi-sisi yang menurut orang bilang “intim” dalam hubungan suami-istri. Semuanya terekam, tercatat dan diriwayatkan dengan sahih dalam sirah perjalanan hidup beliau saw.

Dalam tulisan sederhana ini kami paparkan petunjuk Nabi saw. tentang bagaimana beliau berinteraksi dengan istri-istrinya. Bagaimana beliau bermu’amalah dan menjaga mereka. serta bagaimana beliau melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak mereka.

Muhammad Bersikap Adil
Nabi Muhammad saw. sangat memperhatikan perilaku adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk sesuatu yang remeh dan sepele. Beliau adil terhadap istri-istrinya dalam pemberian tempat tinggal, nafkah, pembagian bermalam, dan jadwal berkunjung. Beliau ketika bertandang ke salah satu rumah istrinya, setelah itu beliau berkunjung ke rumah istri-istri beliau yang lain.
Soal cinta, beliau lebih mencintai Aisyah dibanding istri-istri beliau yang lain, namun beliau tidak pernah membedakan Aisyah dengan yang lain selamanya. Meskipun di sisi lain, beliau beristighfar kepada Allah swt karena tidak bisa berlaku adil di dalam membagi cinta atau perasaan hati kepada istri-istrinya, karena persoalan yang satu ini adalah hak preogratif Allah swt. saja. Rasulullah saw. bersabda:
(اللهم إن هذا قسمي فيما أملك، فلا تلمني فيما لا أملك)
“Ya Allah, inilah pembagianku yang saya bisa. Maka jangan cela aku atas apa yang aku tidak kuasa.”

Ketika beliau dalam kondisi sakit yang menyebabkan maut menjemput, beliau meminta kepada istrinya yang lain agar diperkenankan berada di rumah Aisyah. Bahkan ketika beliau mengadakan perjalanan atau peperangan, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa yang kebagian undian, dialah yang menyertai Rasulullah saw.

Muhammad Bermusyawarah Dengan Para Istrinya
Rasulullah saw mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka. Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya.

Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak qawamah atau kepemimpinan keluarga, berada ditangan laki-laki. Allah swt berfirman:
“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Al Baqarah:228.
Adalah pendapat dari Ummu Salamah ra pada peristiwa Hudaibiyah, membawa berkah dan keselamatan bagi umat Islam. Ummu Salamah memberi masukan kepada Nabi agar keluar menemui para sahabat tanpa berbicara dengan siapa pun, langsung menyembelih hadyu atau seekor domba dan mencukur rambutnya. Ketika beliau melaksanakan hal itu, para sahabat dengan serta-merta menjalankan perintah Nabi saw, padahal sebelumnya mereka tidak mau melaksanakan perintah Rasul, karena mereka merasa pada pihak yang kalah pada peristiwa itu. Mereka melihat bahwa syarat yang diajukan kaum kafir Quraisy tidak menguntungkan kaum muslimin.

Muhammad Lapang Dada dan Penyayang
Istri-istri Rasulullah saw memberi masukan tentang suatu hal kepada Nabi, beliau menerima dan memberlakukan mereka dengan lembut. Beliau tidak pernah memukul salah seorang dari mereka sekali pun. Belum pernah terjadi demikian sebelum datangnya Islam. Perempuan sebelum Islam tidak punya hak bertanya, mendiskusikan dan memberi masukan apalagi menuntut.
Umar ra berkata:
“Saya marah terhadap istriku, ketika ia membantah pendapatku, saya tidak terima dia meluruskanku. Maka ia berkata; “Mengapa kamu tidak mau menerima pendapatku, demi Allah, bahwa istri-istri Rasulullah memberi pendapatnya kepada beliau, bahkan salah satu dari mereka ngambek dan tidak menyapanya sehari-semalam. Umar berkata; “Saya langsung bergegas menuju rumah Hafshah dan bertanya: “Apakah kamu memberi masukan kepada Rasulullah saw? ia menjawab: Ya. Umar bertanya lagi, “Apakah salah seorang di antara kalian ada yang ngambek dan tidak menegur Rasul selama sehari-semalam? Ia menjawab: Ya. Umar berkata: “Sungguh akan rugi orang yang melakukan demikian di antara kalian.”

Cara Nabi Meluruskan Keluarganya
Rasulullah saw tidak pernah menggap sepele kesalahan yang diperbuat oleh salah satu dari istri. Beliau pasti meluruskan dengan cara yang baik. Diriwayatkan dari Aisyah:
تقول عائشة رضي الله عنها: ما رأيت صانعة طعام مثل صفية صنعت لرسول الله طعاما وهو في بيتي، فارتعدت من شدة الغيرة فكسرت الإناء ثم ندمت فقلت: يا رسول الله ما كفارة ما صنعت؟ قال: إناء مثل إناء، وطعام مثل طعام.
“Saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik di dalam membuatkan masakan, selain Shafiyah. Ia membuatkan hidangan untuk Rasulullah saw di rumahku. Seketika saya cemburu dan membanting piring beserta isinya.” Saya menyesal, seraya berkata kepada Rasulullah saw. “Apa kafarat atas perilaku yang saya lakukan?” Rasulullah saw menjawab: “Piring diganti piring, dan makanan diganti makanan.”

Rasulullah saw. menjadi pendengar yang baik. Beliau memberi kesempatan kepada istri-istrinya kebebasan untuk berbicara. Namun beliau tidak toleransi terhadap kesalahan sekecil apa pun. Aisyah berkata kepada Nabi setelah wafatnya Khadijah ra.:
“Kenapa kamu selalu mengenang seorang janda tua, padahal Allah telah memberi ganti kepadamu dengan yang lebih baik.” Maka Rasulullah saw marah, seraya berkata: “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya.

Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.”
Muhammad Pelayan Bagi Keluarganya
Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan khidmah atau pelayanan ketika di dalam rumah. Beliau selalu bermurah hati menolong istri-istrinya jika kondisi menuntut itu. Rasulullah saw bersabda:
وكان يقول: (خدمتك زوجتك صدقة)
“Pelayanan Anda untuk istri Anda adalah sedekah.”
Adalah Rasulullah saw mencuci pakaian, membersihkan sendal dan pekerjaan lainnya yang dibutuhkan oleh anggota keluarganya.

Muhammad Berhias Untuk Istrinya
Rasulullah saw mengetahu betul kebutuhan sorang wanita untuk berdandan di depan laki-lakinya, begitu juga laki-laki berdandan untuk istrinya. Adalah Rasulullah saw paling tampan, paling rapi di antara manusia lainnya. Beliau menyuruh sahabat-sahabatnya agar berhias untuk istri-istri mereka dan menjaga kebersihan dan kerapihan. Rasulullah saw bersabda:
وكان يقول: (اغسلوا ثيابكم وخذوا من شعوركم واستاكوا وتزينوا وتنظفوا فإن بني إسرائيل لم يكونوا يفعلون ذلك فزنت نساؤهم).
“Cucilah baju kalian. Sisirlah rambut kalian. Rapilah, berhiaslah, bersihkanlah diri kalian. Karena Bani Isra’il tidak melaksanakan hal demikian, sehingga wanita-wanita mereka berzina.”

Muhammad dan Canda-Ria
Rasulullah saw tidak tidak lupa bermain, bercanda-ria dengan istri-istri beliau, meskipun tanggungjawab dan beban berat di pundaknya. Karena rehat, canda akan menyegarkan suasan hati, menggemberakan jiwa, memperbaharui semangat dan mengembalikan fitalitas fisik.
فعن عائشة – رضي الله عنها- أنها قالت خرجنا مع رسول الله (صلى الله عليه وسلم) في سفر فنزلنا منزل فقال لها : تعالي حتى أُسابقك قالت: فسابقته فسبقته، وخرجت معه بعد ذلك في سفر آخر فنزلنا منزلا فقال: تعالي حتى أسابقك قالت: فسبقني، فضرب بين كتفي وقال : هذه بتلك).
Dari Aisyah ra berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah saw dalam suatu safar. Kami turun di suatu tempat. Beliau memanggil saya dan berkata: “Ayo adu lari” Aisyah berkata: Kami berdua adu lari dan saya pemenangnya. Pada kesempatan safar yang lain, Rasulullah saw mengajak lomba lari. Aisyah berkata: “Pada kali ini beliau mengalahkanku. Maka Rasulullah saw bersabda: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.”

Allahu A’lam - Sumber: Dakwatuna.com

http://www.facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK

Sholat Subuh Berjamaah & Tamatnya Yahudi



"Kalian akan memerangi orang-orang Yahudi dan mengalahkan mereka, sehingga pada waktu itu batu akan berkata: Wahai orang Islam, di belakangku ada orang Yahudi. Datanglah ke sini! Bunuhlah dia! Kecuali pohon Ghorqod". (HR. Bukhari Muslim)

Nabi Muhammad SAW bersabda, "Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin memerangi bangsa Yahudi, sampai-sampai orang Yahudi berlindung di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon tadi akan berbicara: Wahai orang Islam, hai hamba Allah! Di belakangku ada orang-orang Yahudi. Kemarilah! Bunuhlah dia! Kecuali pohon Ghorqod, sebab ia itu sungguh pohonnya Yahudi." (HR. Ahmad)

Bagaimana pandangan rabi Yahudi tentang sabda Nabi Muhammad SAW tersebut? Dia menjawab, "Ya, aku percaya apa yang dikatakan Muhammad. Tapi jangan takut, hal itu masih lama". Lalu ditanya lagi: Kapankah waktu itu akan datang? Sang rabi tersebut menjawab, "Hal itu baru akan terjadi ketika jumlah umat Islam yang datang ke masjid pada waktu sholat Subuh. akan sama jumlahnya dengan yang datang pada sholat Jumat."

Ada beberapa hal yang kita bisa petik:
1. Orang Yahudi saja percaya dan sangat yakin akan kebenaran dan bukti dari sabda Nabi Muhammad SAW. Bagaimana dengan kita?

2. Sumber dan tolak ukur kekuatan umat Islam itu bisa dilihat saat pelaksanaan sholat Subuh berjamaah di masjid. Bukan tergantung banyaknya sarjana atau jenderal.

3. Pantas saja umat muslim gampang tercerai-berai. Yahudi tahu kelemahan kita, tapi kita tidak memperbaikinya. Waallahualam.

Mari mulai sekarang yang Pria meniatkan diri untuk selalu sholat Subuh berjamaah, juga sholat fardhu lainnya, di masjid. Semoga Allah selalu meringankan langkah kita, amin. Yang wanita mendukung (menyuruh) yang pria. Allahu Akbar!

Baca artikel lainnya di http://www.facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK

Senin, 22 Maret 2010

Sudahkah Aku Beriman?


Sudahkah aku beriman?

Jika sudah,atleast:
1. Tak ada toleransi dengan sifat terjajah (malas,ga pe-de,pesimis,utopis,kurang inisiatif,suka menunda alias tak bersegera raih pahala dan surga dengan amal shalih dan jauhi neraka dengan hindari dosa)

2. Tak ada toleransi dengan sekulerisme dalam diri (jangan merasa belum ada atsar tatsqif dalam hidup tapi hargai ilmu dengan terapkan thoriqah Islam fii darsi/metode pembelajaran dalam Islam)

3. Cintaku pada Allah dan rasul adalah cinta yang benar jika kubuktikan dengan perbuatanku yang melebihi cintaku pada dunia. Jika bukan cinta yang benar,Qs at taubah:24 akan menjawabnya.

4. Selalu ada upaya diri jadi lebih baik dari kemarin.
Eksplorasi kelebihan sebagai potensi pemberdayaan diri dan eliminasi kekurangan yang akibatkan kegagalan dalam pengembangan diri dan da'wah islam.
Jika aku kurang dalam:

* tsaqafah islam,
sudahkah aku lakukan dirasah fardiyah dengan baca literature islam dan berusaha memahaminya dengan diskusi bersama teman?

* bahasa arab,
sudahkah aku belajar bahasa arab,bahasa persatuan islam dan umat islam?

* interaksi,
sudahkah aku jadikan interaksi islam sebagai hobi?

* baca dan tulis,
sudahkah aku jadikan membaca dan menulis sebagai hobi?

* ikuti fakta/persoalan dunia,
Sudahkah aku jadikan ikuti fakta/persoalan dunia sebagai hobi?

P.S jika aku jadikan interaksi,baca dan tulis,ikuti perkembangan fakta/persoalan dunia sebagai hobi, da'wah islam bukan beban tapi tanggung jawab yang memang selayaknya diemban seorang muslim karena Allah. Sudahkah aku jadikan da'wah sebagai poros hidupku? Sudahkah islam sebagai way of life dan mabda (ideologi) Islam mengkristal dalam hidupku?

* manajemen waktu,
Sudahkah aku jadi manajer waktu yang baik dalam kegiatanku di dalam rumah (domestik) dan diluar rumah (publik) ?
Sudahkah aku sempurnakan kewajibanku sebagai seorang anak bagi orang tua atau seorang istri bagi suami / suami bagi istri dan ibu bagi anak / ayah bagi anak?
Sudahkah aku sempurnakan kewajibanku sebagai seorang muslim / muslimah untuk berda'wah?
Sudahkah aku kerjakan PR da'wah islam-ku?

* de el el,sudahkah aku reformasi jika tak dikatakan revolusi kekuranganku?

5. 'Dan tiadalah kehidupan dunia ini kecuali main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?'(Qs.6:32) Sudahkah aku jadikan dunia tempat singgah~bukan tujuan~dan rendah dalam pandanganku,sebagaimana dalam pandangan Allah?
Sudahkah aku jadikan kampung akhirat sebagai tujuan akhir hidupku?
Sudah,sedang dan akan beramal sholih apa saja untuk meraih tujuan akhir hidupku?

6. Tujuan harakah islam untuk melangsungkan kembali kehidupan islam adalah tujuan mulia dan aktivitas da'wah untuk raih tujuan itu adalah aktivitas mulia yang diwariskan para nabi dan pengikutnya. Taqarrub ilallah mutlak dilakukan.sempurnakan amal wajib, perbanyak amal sunnah dan zikrullah agar pertolongan Allah semakin dekat, "apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga padahal belum tiba padamu ujian sebagaimana terjadi pada umat islam sebelum kamu? mereka menderita kemiskinan dan kesengsaraan sehingga rasul beserta orang-orang beriman bertanya,'bilakah datang pertolongan Allah'?". Penderitaan,kemiskinan,dan kesengsaraan tidak serta merta selalu menyertai pengorbanan seorang muslim untuk Allah,tapi sudahkaH aku optimal dalam berkorban pikiran,harta,atau apapun yang bisa kuberikan untuk kebesaran Allah dan islam? sudahkah aku berkorban sebagaimana saudara-saudaraku diluar sana berkorban hingga mereka harus diburu,dipenjara,bahkan dibunuh hanya karena apa yang mereka pikirkan dan lakukan demi 'laa illaha ilallah muhammadur rasulullah'? Sebagian dari mereka telah syahid dan itu bukan masalahku. Masalah terbesarku adalah apa yang akan kulakukan untuk membela kehormatan mereka yang masih hidup dan meregang nyawa? Apa yang akan kukatakan pada Allah jika para syuhada berkeluh kesah tentang aksi diam seribu bahasa kaum muslimin(dan aku salah satunya)? Aku tak ingin menjadi pemantau penderitaan mereka tapi ingin menjadi salah satu pembela mereka. 'yaa Allah,kami disini berjuang dengan banyak uslub(sarana) dan wasilah(prasarana) tapi dengan satu thoriqah(metode) yakni thoriqah da'wah Rasulullah. Kami disini berjuang untuk membela saudara-saudara kami di palestine,irak,afghanistan,kashmir,dan bumi manapun yang terzhalimi oleh musuh-musuhMu. Kami disini berjuang dalam wadah gerakan-gerakan Islam yang berbeda namanya namun memiliki kharaksteristik yang serupa sebagaimana yang diserukan dalam Qs Ali Imran : 104, yang diikat dengan satu ikatan akidah,yakni akidah islam dan yang memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah di bumi pertiwiMu. Maka mudahkan dan buka pintu lebar-lebar bagi kami untuk optimal dalam gerak kami dan untuk buktikan iman kami padaMu. Sulitkan dan kunci pintu rapat-rapat bagi kami untuk berbuat dosa sekecil apapun walaupun itu rasa malas,tak pe de,pesimis,utopis,lemah,karena semua sifat itu membunuh komitmen kami untuk bangkit dari keterpurukan dan bukan sifat seorang muslim. "Tolonglah kami"...

Sudahkah aku beriman?

Minggu, 21 Maret 2010

Wanita Idaman Islam


Wanita tidak bisa dilepaskan dari hak dan kewajibannya.Berbicara tentang hak dan kewajiban wanita dalam islam,ada dua dimensi islam :
hak dan kewajiban wanita yang 'SAMA' dan 'BERBEDA' dengan hak dan kewajiban pria

ISLAM MEMANUSIAKAN WANITA

Islam datang disaat bangsa romawi sibuk dengan berbagai aktivitas dan seminar yang merendahkan martabat wanita.Islam datang untuk memanusiakan wanita sebagaimana islam memanusiakan pria.

Secara manusiawi,Allah menciptakan manusia dalam dua jenis yang berbeda,wanita dan pria,namun menakdirkannya untuk hidup berdampingan dalam masyarakat.mengapa?
Pria dan wanita adalah manusia.Sebagai manusia,mereka memiliki potensi hidup yang sama,yakni:

1. kebutuhan jasmani (physical needs/hajat al udwiyah)
~makan,minum,tidur,buang hajat,dll
2. naluri-naluri (instincts/ghoro'iz),antara lain :
* naluri beragama (religious instinct/ghorizah at tadayyun)
~islam,yahudi,kristen,budha,hindu,dll

*naluri melestarikan keturunan (race instinct/ghorizah an nau')
~mencintai dan dicintai

*naluri mempertahankan diri dari rasa takut dan dominasi orang lain (existing instinct/ghorizah al baqa)
~ingin jadi no 1,berkuasa,egois,dominan dari orang lain
3. akal--sebagai tempat manusia berfikir sebelum beramal untuk meraih target dan tujuan tertentu,dan dalam mengamalkan syariahNya.
oleh karena itu,hanya manusia berakal saja yang diminta mengamalkan syariahNya dan bertanggung jawab atas sejauh mana ia mengamalkan syariahNya di yaumil hisab

Berdasarkan potensi hidup yang sama diatas,maka hak dan kewajiban wanita adalah sama dengan hak dan kewajiban pria sebagai hamba Allah (muslim dan muslimah)
seperti dalam :

1.Perintah :
Allah mewajibkan muslim dan muslimah untuk :
~shalat,berpuasa ramadan,berzakat,dan berhaji serta beribadah
~beradab dalam makan,minum,berpakaian,akhlaqul kariimah
~bermu'amalah dengan sesama manusia sesuai hukum Allah,dalam aspek pendidikan,ekonomi,hukum dan peradilan,sosial kemasyarakatan (pergaulan wanita dan pria),pemerintahan,pelimpahan pembayaran hutang,dll
~melakukan amar ma'ruuf nahi munkar (dawah) dan bergabung dengan jamaah yang memperjuangkan syariahNya secara kaffah (Qs ali imran : 104)
~menuntut ilmu agama dan dunia
~dsb

2.Larangan
Allah melarang muslim dan muslimah untuk :
~berjudi,mendekati zinah apalagi berzinah,minum khamr,makan harta riba,dsb
~berhukum pada selain hukum Allah
~dsb
jika muslim dan muslimah meninggalkan kewajiban dan melanggar pantangan/laranganNya,mereka dikenai sanksi

inilah dimensi islam 'menyamakan' hak dan kewajiban wanita dengan hak dan kewajiban pria dari sisi wanita sebagai manusia dan hamba Allah


ISLAM MEWANITAKAN WANITA

Secara kodrati,wanita berbeda dengan pria
wanita cenderung bersikap lemah lembut,berpotensi mengandung,melahirkan dan menyusui serta melakukan pekerjaan wanita yang ini tidak dimiliki pria
Di satu sisi,islam mengajarkan,dengan perbedaan kodrat tersebut,pria dan wanita bekerjasama mewujudkan generasi islam cemerlang dalam rumah tangga yang islami (sakinah,mawwadah,warrahmah) dan generasi mujahid yang kelak akan memperjuangkan tegaknya syariah Allah di muka bumi.
Di sisi lain,dengan perbedaan kodrat tersebut,Allah menurunkan beberapa hukumNya yang berbeda diantara pria dan wanita,seperti :
1. peradilan~kesaksian 1 pria=kesaksian 2 wanita
2. waris~bagian wanita setengah bagian pria
3. pergaulan/sosial masyarakat~aurat pria berbeda dengan aurat wanita,pakaian pria berbeda dengan pakaian wanita,termasuk larangan pria menggunakan kain sutra dan emas sementara hal ini diperbolehkan bagi wanita,dan larangan pria menyerupai wanita atau sebaliknya
4. penetapan mahar sebagai kewajiban seorang pria atas calon istrinya dan hak seorang wanita atas calon suaminya
5. kewajiban pria menafkahi istrinya dan hak wanita untuk dinafkahi suaminya
6. kewajiban wanita mentaati suami (dalam batas syariahNya) dan hak suami untuk ditaati istrinya (dalam batas yang sama)
7. kemubahan pria berpoligami sementara keharaman wanita untuk melakukan hal itu (karena dikhawatirkan bisa merusak nashabnya)
8. salah satu syarat 'wajib' menjadi seorang pemimpin negara adalah seorang laki-laki muslim bukan wanita
9. hukum-hukum yang dikhususkan bagi wanita seperti : fikih wanita
10.dsb...

inilah dimensi islam 'membedakan' hak dan kewajiban wanita dengan hak dan kewajiban pria dari sisi fungsi dan peran wanita sebagai wanita itu sendiri
maka,peran wanita dalam islam : al ummu wa rabatul bait (ibu dan pengatur rumah tangga)
peran pria dalam islam : al qawwam alaa nisaa' (kepala rumah tangga)

adakah yang masih kurang dari keadilan islam dalam memperlakukan wanita?


PERAN BESAR WANITA DALAM MENENTUKAN GENERASI BERKUALITAS ISLAM

Melihat kelahiran dan perkembangan islam yang begitu pesat sejak pertama kali diwahyukan Allah hingga yaumil akhir,semua ini tidak bisa dilepaskan dari realitas bahwa wanita berperan besar dalam menentukan generasi berkualitas islam yang mampu membesarkan agama Allah di muka bumi.
untuk pertama kalinya,para generasi emas islam yang pernah dan akan selalu ada,mendapat pelajaran tentang hidup : 'dari mana hidup?untuk apa hidup?akan ke mana setelah hidup berakhir?' bukan dari sekolah tapi dari ibu sebagai guru pertama dan utama mereka

ibu semacam ini tidak secara otomatis hadir namun harus melalui proses : melatih dan mempersiapkan dirinya untuk menjadi wanita tangguh dengan integritas utuh yang melandaskan hidupnya hanya pada akidah islam


PROFIL WANITA TANGGUH DALAM ISLAM


1. wanita dermawan berdedikasi tinggi dalam pengorbanan harta,tenaga,fikiran dan jiwa serta pembelaannya kepada islam
~Khadijah binti Khuwailid Ra
2. wanita dengan segudang ilmu agama dan dunia
~Aisyah binti Abu Bakar As Shiddiq Ra,periwayat ribuan bahkan lebih hadist rasulullah dan guru bagi para shahabat Ra sepeninggal rasul untuk menimba ilmu
~As Syifa binti Abdillah,pengajar tulis menulis dan seorang ahli obat-obatan
~Zainab dari bani awad,seorang ahli penyakit mata
~Ummul Hasan bin al Qlodli Abi Ja'far Atthanjali,dokter ternama di masanya
~dsb
3. wanita politikus
~Fatimah binti Rasulullah SAW,yang terkenal dengan julukan Ummu Abiihaa (ibu bagi bapaknya) dan seorang ahli strategi perang
~Atikah binti Yazid bin Mu'awiyah
~Ummi Salma binti Ya'kub bin Abdillah al Makhzumi,
~dsb
4. wanita dalam perjuangan membela islam
~Sumayyah,istri Yasir,ibu Ammaar bin Yasir,yang syahid setelah disiksa dan ditusuk kemaluan hingga tembus kepalanya dengan tombak,karena mempertahankan keyakinannya kepada Allah dan islam
~Asma binti Abu Bakar As Shiddiq Ra,yang berkata kepada putranya yang hendak berperang tapi khawatir terbunuh dengan kondisi tubuh tercincang.dengan mantap Asma berkata :
'anakku,sesungguhnya menguliti kambing setelah kambing itu disembelih tidak menjadikan kambing itu semakin kesakitan'
~Nusaibah binti Kaabal Anshariyah (Ummu Umarah) yang terpotong tangannya dalam suatu perang ketika ia melindungi rasulullah
~Hindun binti Amr bin Harom yang dengan tabahnya membawa jasad suami,putra,dan saudaranya yang terbunuh dalam perang sehari,lalu menguburkan jasad mereka dalam satu kubur
5. tauladan muslimah pembela dan pejuang islam lainnya yang tak terhitung jumlahnya

Profil wanita idaman islam semacam itu tidak akan lahir dari wanita yang gemar hura-hura,merayakan hari wanita sedunia (women's day),atau kelompok-kelompok yang meneriakkan 'women's liberation',dan kesetaraan Gender yang tak lain adalah seruan kufur barat untuk membebaskan (menjauhkan) kaum hawa dari islam.Perjuangan semacam ini tidak akan pernah mendekatkan wanita pada cinta Allah bahkan mendekatkannya pada murka dan azhab Nya.

Perjuangan yang mampu menyelamatkan wanita dari eksploitasi seksual,perdagangan manusia(human trafficking),prostitusi,dan derita wanita tanpa akhir lainnya hanyalah ketika mereka berjuang untuk mempersiapkan dirinya untuk menjadi muslimah yang tangguh dan berkepribadian islam...setangguh para shahabiyah rasulullah SAW...

yaa Allah...
jadikanlah hamba wanita idamanMu dan islam
mudahkanlah hamba meneladani kepribadian para shahabiyah Ra dan muslimah generasi islam terdahulu (tabi'in & tabi'ut tabi'in)
agar kemenangan islam segera kembali bersinar terang melalui tangan para mujahid
yang lahir dari rahim para ibu mujahid

Sabtu, 20 Maret 2010

Soal Kebenaran, Benarkah Relatif?


Selain mengatakan bahwa tentang sesat yang tahu hanya Tuhan, kaum Islam liberal-pluralis juga mengatakan bahwa kebenaran adalah relatif. Dengan ini, seolah-olah mereka ingin menyimpulkan: bahwa manusia itu tidak bisa membedakan mana yang sesat dan mana yang benar, karena yang sesat tak dapat diketahui dan yang benar juga tak jelas yang mana. Akibat cara berpikirnya ini, maka tak aneh jika mereka tak pernah khawatir kalau berbuat salah.

Ada sebuah pertanyaan yang yang meski dijawab oleh mereka: jika Tuhan dengan tegas memerintahkan umat manusia untuk menghidari kesesatan karena akan dibalas neraka bagi pelakunya dan Tuhan juga memerintahkan untuk mengikuti kebenaran dengan balasan surga dan neraka bagi yang menolaknya, lalu bagaimana jika kesesatan dan kebenaran itu sendiri tidak bisa dimengerti dan diketahui oleh manusia. Dengan demikian, bagi Allah, perintah tersebut menjadi sia-sia, dan bagi manusia hal itu adalah tanggung jawab yang tidak akan sanggup mereka lakukan (taklif bima la yutoq), karena mereka diberi perintah dan akan diberi sanksi jika melanggar, tapi tak jelas isi perintahnya.

Jika sesat dan kebenaran tak jelas maksudnya, maka bagi manusia keduanya ibarat sebuah nama tanpa ada pemiliknya (al Ismu biduni al musamma) atau sifat tapi tak ada yang disifati (as sifat biduni al mausuf) atau lafadz tak bermakna.

Hal semacam ini sebenarnya bertentangan dengan pernyataan kaum liberal sendiri; bahwa lafadz adalah pertanda dari sebuah realitas atau ma'na dan realitas itu lebih dahulu ada dari lafadznya tsb.

MENCARI KEBENARAN

Faham relativisme kebenaran adalah bagian dari pluralisme agama yang mengatakan bahwa kebenaran pemahaman tentang Tuhan bagi setiap pemeluk agama adalah relatif, karena mereka sama-sama ingin mencari Tuhan, tapi Tuhan bersifat metafisik dan transendental, hingga akhirnya manusia menjadi beragam dalam memahami Tuhan yang absolut tersebut. Pemahaman manusia ini kemudian diwujudkan dengan nama-nama dan simbol-simbol yang saling berbeda antara pemeluk agama yang satu dengan yang lainnya.

Agama-agama, menurut Fritjhof Schuon, penggagas faham Kesatuan Transenden Agama-agama (transcendent unity of religions) dibagi menjadi dua: tingkat eksoterik (lahiriyah) dan esoterik (batiniyah). Pada tingkat eksoterik agama-agama mempunyai Tuhan, teologi, ajaran yang berbeda. Namun pada tingkat esoterik agama-agama itu menyatu dan memiliki Tuhan yang sama yang abstrak dan tak terbatas.

Dari keterangan di atas dapat kita fahami bahwa kaum pluralis mengangap bahwa akidah semua agama adalah hasil karya manusia, dan pemahaman tentang Tuhan adalah hasil pencarian dan spekulasi manusia sendiri, tidak ada sumber dari Tuhan sendiri yang menjelaskan atau kalau boleh dikatakan manusialah yang menciptakan Tuhan-Tuhan mereka sendiri. Karena setiap agama membuat definisi sendiri-sendiri tentang siapa Tuhan, seperti apa sifat dan nama-Nya, sehinngga wajar jika hasilnya berbeda-beda.

Jika anggapan mereka demikian, maka teori pluralisme agama ini sebenarnya sudah dengan sendirinya tidak berlaku bagi agama Islam, karena asumsi kaum pluralis adalah bahwa pemahaman Tuhan oleh semua agama adalah hasil ciptaan manusia, dan asumsi tersebut ternyata berbeda dengan kenyataan yang ada di dalam agama Islam. Pengetahuan umat Islam tentang Allah, dengan nama-nama-Nya dalam asmaul husna dan segala sifat-Nya adalah bersifat "tauqifiyah", yaitu dari Allah sendiri yang diperkenalkan ke manusia lewat wahyu yang Dia turunkan kepada para Nabi yang Dia utus, mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Bukan ciptaan umat Islam atau Nabi itu sendiri, dan di dalam agama Islam tidak ada lahan spekulasi untuk berkata tentang Tuhan

Oleh karena itu, Allah swt. dalam Al-Quran mengatakan bahwa orang yang berkata tentang Tuhan tanpa ada landasan wahyu adalah orang yang berkata tentang Tuhan tanpa pengetahuan.

"Dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa Kitab (wahyu) yang bercahaya (yang menjelaskan antara yang hak dan yang batil).” (QS, Al Hajj:08)

"Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (QS, Al Baqoroh:169)

"Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha Suci Allah; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. Kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?." (QS, Yunus:68)

Orang yang ingin memahami sesuatu tanpa didasari ilmu pengetahuan maka tiada cara kecuali dengan mengira-ngira, berhipotesa atau bersepekulasi, karena kalau sudah ada ilmu pengetahuan yang meyakinkan pasti tidak perlu bersepekulsi. Dan orang yang meyakini sesuatu dari hasil spekulasi maka sebenarnya dia telah meyakini sesuatu yang dia sendiri sebenarnya tidak yakin dengan hal tersebut. Meyakini sesuatu yang tidak meyakinkan adalah keyakinan problematik, lalu kenapa diyakini?!

Dari masalah ini dapat kita metahui pula tentang pentingnya diuutusnya seorang Rasul sebagai penerima wahyu Tuhan. Keyakinan awal umat manusia adalah sama, bahwa alam dunia ini memiliki sang pencipta, yang menciptakan dan yang mengatur alam dunia ini atau mereka sebut Tuhan. Tapi, manusia tak bisa mengetahui secara pasti tentang siapa itu Tuhan, siapa nama-Nya dan bagaiman sifat-sifat-Nya. Akhirnya mereka saling berspekulasi tentang Tuhan. Dengan ini menjadi pentinglah diutusnya Rasul sebagai utusan Tuhan yang menujukan tentang siapa sebenarnya itu Tuhan, dan segala hal terkait dengan keberadaan-Nya agar manusia tidak terus-menerus bersepekulasi.

Selain itu para Rasul lewat wahyu memberi tahu umat manusia bahwa di balik alam nyata ini ternyata ada alam lain, alam yang sekarang tak mampu diketahui oleh panca indera, tapi hal itu ada dan ternyata mempunyai hubungan dengan manusia, yaitu alam ghaib, seperti malaikat, jin, syaitan, surga, neraka, surga, alam mahsar, hisab. Dari semua hal yang bersifat transendental dan metafisik tersebut semuanya tidak bisa diketahui kecuali dengan informasi yang dapat dipercaya(al khobar as shodiq), yaitu wahyu dari yang Maha Mengetahui (Allah swt.) yang diturunkan kepada orang yang jujur, terpercaya dan terjaga dari kesalahan, yaitu para Rasul. Jika tidak, maka tiada pilihan lain bagi manusia kecuali tidak mengakui adanya yang transenden dan metafisik tersebut atau mengakuinya tapi dengan jalan hipotesa atau spekulasi dan hal ini tidak meyakinkan karena hipotesa tidak bisa dipastikan kebenarannya.


BUKTI KEBENARAN

Telah kita kita ketahui sebelumnya bahwa pengetahuan umat Islam tentang Tuhan dan yang lain yang bersifat metafisik adalah dari al khobar as shodiq, karena manusia tidak bisa mengetahui secara langsung dengan panca indera. Dan di antara hal yang membuktikan bahwa isi khobar tersebut adalah benar-benar meyakinkan, di antaranya sebagai berikut:

1. Khobar tersebut. telah diterima dari sekian banyak Rasul yang dapat dipercaya, mulai dari Nabi Adam as. Sampai Nabi Muhammad saw. dan kondisi antar satu Nabi dengan Nabi yang lainnya adalah sangat plural baik dari segi masa, tempat atau negara, tabiat umat mereka, kondisi sosial dan budaya waktu itu, dan lain-lain. tapi khobar tersebut tetap sama isinya. Hal ini bisa terjadi karena yang menurunkan wahyu tersebut adalah satu (Allah swt.) dan yang menerima(para Rasul) orang yang jujur, dan isi sebuah berita, selama tetap asli, berita tersebut tidak terpengaruh oleh kondisi waktu, tempat, sosial, dan kultur sang penerima berita, dan juga bila ada sebuah berita yang dikabarkan kepada semisal "si A", kemudian diberitakan lagi yang lain semisal ke "si B", tapi isinya ternyata berbeda, berarti ada salah satu dari keduanya yang dibohongi. Dan mustahil Allah swt berbohong kepada Rasulnya.
2. Dan sangat mustahil seandainya setiap Nabi dan Rasul berspekulasi secara sendiri-sendiri, tapi mampu menghasilkan hasil spekulasi yang sama dari segala sisi dari masalah yang dispekulasikan.
3. Masalah akidah adalah nauu' al khobar (jenis berita), oleh karena itu akidah para Nabi dan Rasul adalah sama. Berbeda dengan syari'at, syari'at adalah nuu' al insa (jenis pengadaan) sehingga bisa berbeda-beda, karena untuk mengatur kehidupan umat yang berbeda-beda.



KESIMPULAN

Relativitas kebenaran pengetahuan tentang Tuhan oleh umat beragama hanya bisa terjadi bila seluruh umat beragama "tanpa terkecuali" memperoleh pengetahuan tersebut lewat akal budi mereka, dengan berhipotesa, spekulasi atau sejenisnya, tanpa ada wahyu yang dapat dijadikan petunjuk, hingga tidak bisa dipastikan mana yang benar dan mana yang salah, seperti yang dianggap kaum pluralis sendiri. Tapi, telah kita ketahui bahwa pengetahuan tentang yang transendental tersebut tidak dapat diketahui dengan benar kecuali dengan al khobar as shodiq dan sejak dahulu para Rasul telah menerima khobar tersebut.

Maka dengan ini, dari sekian banyak pengetahuan tentang Tuhan yang tadinya mungkin relatif, menjadi tidak relatif lagi, karena yang lain masih berhipotesa, dan belum bisa memastikan benar tidaknya dan al khobar as shodiq yang pasti benar telah memastikan hipotesa-hipotesa tersebut salah.

Dan realitas yang ada bahwa dari sekian banyak pemahaman umat beragama tentang Tuhan semuanya saling kontradiksi, dan sifat di antara dua hal atau lebih yang saling kontradiksi adalah saling membatalkan di antara yang satu dengan yang lainnya, tidak bisa benar secara bersamaan. Dan al khobar as shodiq telah menunjukan mana yang benar.

Di dalam akidah Islam tidak ditemukan dan diterima keyakinan yang kontradiksi, karena hal itu tidak rasional. Pluralisme agama adalah keyakinan penuh kontradiksi dan problematik, maka tidak selayaknya diyakini oleh orang yang masih mampu berpikir rasional. Dan pernyataan kaum liberal/pluralis yang mengatakan bahwa akidah Islam terpengaruh sosial dan kultur waktu turunnya wahyu adalah pernyataan yang keluar karena tidak faham objek masalah.

Ingat! Kondisi sosial dan kultur antarsatu Nabi dengan yang lainnya adalah lebih plural dari kondisi sekarang, tapi kenapa tidak berpengaruh, hal ini yang harus mereka jawab. Dan seandainya mereka mengatakan bahwa relativitas kebenaran terletak pada pemahaman wahyu tersebut, bukan pada kebenaran wahyunya, maka dengan ini ilmu matematika bukan lagi ilmu pasti lagi bagi mereka, karena wahyu mengatakan Tuhan itu hanya satu. Jika pemahaman hanya satu masih relatif kebenarannya, maka satu tambah satu belum tentu dua, tapi masih relatif, mungkin dua, tiga, dan seterusnya. Wallahu a'lam bisshowab.

Kamis, 18 Maret 2010

Sahabat Yang Menyenangkan


Secara fitrah, menikah akan memberikan ketenangan (ithmi'nân/ thuma’nînah) bagi setiap manusia, asalkan pernikahannya dilakukan sesuai dengan aturan Allah Swt., Zat Yang mencurahkan cinta dan kasih-sayang kepada manusia.

Hampir setiap Mukmin mempunyai harapan yang sama tentang keluarganya, yaitu ingin bahagia; sakînah mawaddah warahmah. Namun, sebagian orang menganggap bahwa menciptakan keluarga yang sakinah mawaddah warahmah serta langgeng adalah hal yang tidak gampang. Fakta-fakta buruk kehidupan rumahtangga yang terjadi di masyarakat seolah makin mengokohkan asumsi sulitnya menjalani kehidupan rumahtangga. Bahkan, tidak jarang, sebagian orang menjadi enggan menikah atau menunda-nunda pernikahannya.

Menikahlah, Karena Itu Ibadah
Sesungguhnya menikah itu bukanlah sesuatu yang menakutkan, hanya memerlukan perhitungan cermat dan persiapan matang saja, agar tidak menimbulkan penyesalan. Sebagai risalah yang syâmil (menyeluruh) dan kâmil (sempurna), Islam telah memberikan tuntunan tentang tujuan pernikahan yang harus dipahami oleh kaum Muslim. Tujuannya adalah agar pernikahan itu berkah dan bernilai ibadah serta benar-benar memberikan ketenangan bagi suami-istri. Dengan itu akan terwujud keluarga yang bahagia dan langgeng. Hal ini bisa diraih jika pernikahan itu dibangun atas dasar pemahaman Islam yang benar.

Menikah hendaknya diniatkan untuk mengikuti sunnah Rasullullah saw., melanjutkan keturunan, dan menjaga kehormatan. Menikah juga hendaknya ditujukan sebagai sarana dakwah, meneguhkan iman, dan menjaga kehormatan. Pernikahan merupakan sarana dakwah suami terhadap istri atau sebaliknya, juga dakwah terhadap keluarga keduanya, karena pernikahan berarti pula mempertautkan hubungan dua keluarga. Dengan begitu, jaringan persaudaraan dan kekerabatan pun semakin luas. Ini berarti, sarana dakwah juga bertambah. Pada skala yang lebih luas, pernikahan islami yang sukses tentu akan menjadi pilar penopang dan pengokoh perjuangan dakwah Islam, sekaligus tempat bersemainya kader-kader perjuangan dakwah masa depan.

Inilah tujuan pernikahan yang seharusnya menjadi pijakan setiap Muslim saat akan menikah. Karena itu, siapa pun yang akan menikah hendaknya betul-betul mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk meraih tujuan pernikahan seperti yang telah digariskan Islam. Setidaknya, setiap Muslim, laki-laki dan perempuan, harus memahami konsep-konsep pernikahan islami seperti: aturan Islam tentang posisi dan peran suami dan istri dalam keluarga, hak dan kewajiban suami-istri, serta kewajiban orangtua dan hak-hak anak; hukum seputar kehamilan, nasab, penyusuan, pengasuhan anak, serta pendidikan anak dalam Islam; ketentuan Islam tentang peran Muslimah sebagai istri, ibu, dan manajer rumahtangga, juga perannya sebagai bagian dari umat Islam secara keseluruhan, serta bagaimana jika kewajiban-kewajiban itu berbenturan pada saat yang sama; hukum seputar nafkah, waris, talak (cerai), rujuk, gugat cerai, hubungan dengan orangtua dan mertua, dan sebagainya. Semua itu membutuhkan penguasaan hukum-hukum Islam secara menyeluruh oleh pasangan yang akan menikah. Artinya, menikah itu harus didasarkan pada ilmu.

Jadilah Sahabat yang Menyenangkan
Pernikahan pada dasarnya merupakan akad antara laki-laki dan perempuan untuk membangun rumahtangga sebagai suami-istri sesuai dengan ketentuan syariat Islam. Sesungguhnya kehidupan rumahtangga dalam Islam adalah kehidupan persahabatan. Suami adalah sahabat karib bagi istrinya, begitu pula sebaliknya.

Keduanya benar-benar seperti dua sahabat karib yang siap berbagi suka dan duka bersama dalam menjalani kehidupan pernikahan mereka demi meraih tujuan yang diridhai Allah Swt. Istri bukanlah sekadar patner kerja bagi suami, apalagi bawahan atau pegawai yang bekerja pada suami. Istri adalah sahabat, belahan jiwa, dan tempat curahan hati suaminya.

Islam telah menjadikan istri sebagai tempat yang penuh ketenteraman bagi suaminya. Allah Swt. berfirman:
وَمِنْ ءَايَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا

Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian istri-istri dari jenis kalian sendiri supaya kalian cenderung dan merasa tenteram kepadanya. (TQS. ar-Rum [30]: 21).

Maka dari itu, sudah selayaknya suami akan merasa tenteram dan damai jika ada di sisi istrinya, demikian pula sebaliknya. Suami akan selalu cenderung dan ingin berdekatan dengan istrinya. Di sisi istrinya, suami akan selalu mendapat semangat baru untuk terus menapaki jalan dakwah, demikian pula sebaliknya. Keduanya akan saling tertarik dan cenderung kepada pasangannya, bukan saling menjauh. Keduanya akan saling menasihati, bukan mencela; saling menguatkan, bukan melemahkan; saling membantu, bukan bersaing.

Keduanya pun selalu siap berproses bersama meningkatkan kualitas ketakwaannya demi meraih kemulian di sisi-Nya. Mereka berdua berharap, Allah Swt. berkenan mengumpulkan keduanya di surga kelak. Ini berarti, tabiat asli kehidupan rumahtangga dalam Islam adalah ithmi'nân/tuma’ninah (ketenangan dan ketentraman). Walhasil, kehidupan pernikahan yang ideal adalah terjalinnya kehidupan persahabatan antara suami dan istri yang mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman bagi keduanya.

Untuk menjamin teraihnya ketengan dan ketenteraman tersebut, Islam telah menetapkan serangkaian aturan tentang hak dan kewajiban suami-istri. Jika seluruh hak dan kewajiban itu dijalankan secara benar, terwujudnya keluarga yang sakinah mawaddah warahmah adalah suatu keniscayaan.

Bersabar atas Kekurangan Pasangan
Kerap terjadi, kenyataan hidup tidak seindah harapan. Begitu pula dengan kehidupan rumahtangga, tidak selamanya berlangsung tenang. Adakalanya kehidupan suami-istri itu dihadapkan pada berbagai problem baik kecil ataupun besar, yang bisa mengusik ketenangan keluarga. Penyebabnya sangat beragam; bisa karena kurangnya komunikasi antara suami-istri, suami kurang makruf terhadap istri, atau suami kurang perhatian kepada istri dan anak-anak; istri yang kurang pandai dan kurang kreatif menjalankan fungsinya sebagai istri, ibu, dan manajer rumahtangga; karena adanya kesalahpahaman dengan mertua; atau suami yang 'kurang serius' atau 'kurang ulet' mencari nafkah. Penyebab lainnya adalah karena tingkat pemahaman agama yang tidak seimbang antara suami-istri; tidak jarang pula karena dipicu oleh suami atau istri yang selingkuh, dan lain-lain.

Sesungguhnya Islam tidak menafikan adanya kemungkinan terusiknya ketenteraman dalam kehidupan rumahtangga. Sebab, secara alami, setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti dihadapkan pada berbagai persoalan. Hanya saja, seorang Muslim yang kokoh imannya akan senantiasa yakin bahwa Islam pasti mampu memecahkan semua problem kehidupannya. Oleh karena itu, dia akan senantiasa siap menghadapi problem tersebut, dengan menyempurnakan ikhtiar untuk mencari solusinya dari Islam, seiring dengan doa-doanya kepada Allah Swt. Sembari berharap, Allah memudahkan penyelesaian segala urusannya.

Keluarga yang sakinah mawaddah warahmah bukan berarti tidak pernah menghadapi masalah. Yang dimaksud adalah keluarga yang dibangun atas landasan Islam, dengan suami-istri sama-sama menyadari bahwa mereka menikah adalah untuk ibadah dan untuk menjadi pilar yang mengokohkan perjuangan Islam. Mereka siap menghadapi masalah apapun yang menimpa rumahtangga mereka. Sebab, mereka tahu jalan keluar apa yang harus ditempuh dengan bimbingan Islam.

Islam telah mengajarkan bahwa manusia bukanlah malaikat yang selalu taat kepada Allah, tidak pula ma‘shûm (terpelihara dari berbuat maksiat) seperti halnya para nabi dan para rasul. Manusia adalah hamba Allah yang memiliki peluang untuk melakukan kesalahan dan menjadi tempat berkumpulnya banyak kekurangan. Pasangan kita (suami atau istri) pun demikian, memiliki banyak kekurangan. Karena itu, kadangkala apa yang dilakukan dan ditampakkan oleh pasangan kita tidak seperti gambaran ideal yang kita harapkan. Dalam kondisi demikian, maka sikap yang harus diambil adalah bersabar!

Sabar adalah salah satu penampakan akhlak yang mulia, yaitu wujud ketaatan hamba terhadap perintah dan larangan Allah Swt. Sabar adalah bagian hukum syariat yang diperintahkan oleh Islam. (Lihat: QS al-Baqarah [2]: 153; QS az-Zumar [39]: 10).

Makna kesabaran yang dimaksudkan adalah kesabaran seorang Mukmin dalam rangka ketaatan kepada Allah; dalam menjalankan seluruh perintah-Nya; dalam upaya menjauhi seluruh larangan-Nya; serta dalam menghadapi ujian dan cobaan, termasuk pula saat kita dihadapkan pada 'kekurangan' pasangan (suami atau istri) kita.

Namun demikian, kesabaran dalam menghadapi 'kekurangan' pasangan kita harus dicermati dulu faktanya. Pertama: Jika kekurangan itu berkaitan dengan kemaksiatan yang mengindikasikan adanya pelalaian terhadap kewajiban atau justru melanggar larangan Allah Swt. Dalam hal ini, wujud kesabaran kita adalah dengan menasihatinya secara makruf serta mengingatkannya untuk tidak melalaikan kewajibannya dan agar segera meninggalkan larangan-Nya. Contoh pada suami: suami tidak berlaku makruf kepada istrinya, tidak menghargai istrinya, bukannya memuji tetapi justru suka mencela, tidak menafkahi istri dan anak-anaknya, enggan melaksanakan shalat fardhu, enggan menuntut ilmu, atau malas-malasan dalam berdakwah. Contoh pada istri: istri tidak taat pada suami, melalaikan pengasuhan anaknya, melalaikan tugasnya sebagai manajer rumahtangga (rabb al-bayt), sibuk berkarier, atau mengabaikan upaya menuntut ilmu dan aktivitas amar makruf nahi mungkar. Sabar dalam hal ini tidak cukup dengan berdiam diri saja atau nrimo dengan apa yang dilakukan oleh pasangan kita, tetapi harus ada upaya maksimal menasihatinya dan mendakwahinya. Satu hal yang tidak boleh dilupakan, kita senantiasa mendoakan pasangan kita kepada Allah Swt.

Kedua: Jika kekurangan itu berkaitan dengan hal-hal yang mubah maka hendaknya dikomunikasikan secara makruf di antara suami-istri. Contoh: suami tidak terlalu romantis bahkan cenderung cuwek; miskin akan pujian terhadap istri, padahal sang istri mengharapkan itu; istri kurang pandai menata rumah, walaupun sudah berusaha maksimal tetapi tetap saja kurang estetikanya, sementara sang suami adalah orang yang apik dan rapi; istri kurang bisa memasak walaupun dia sudah berupaya maksimal menghasilkan yang terbaik; suami “cara bicaranya” kurang lembut dan cenderung bernada instruksi sehingga kerap menyinggung perasaan istri; istri tidak bisa berdandan untuk suami, model rambutnya kurang bagus, hasil cucian dan setrikaannya kurang rapi; dan sebagainya. Dalam hal ini kita dituntut bersabar untuk mengkomunikasikannya, memberikan masukan, serta mencari jalan keluar bersama pasangan kita. Jika upaya sudah maksimal tetapi belum juga ada perubahan, maka terimalah itu dengan lapang dada seraya terus mendoakannya kepada Allah Swt. (Lihat: QS an-Nisa' [4]: 19). Rasulullah saw. bersabda:

"Janganlah seorang suami membenci istrinya. Jika dia tidak menyukai satu perangainya maka dia akan menyenangi perangainya yang lain." (HR Muslim).

Inilah tuntunan Islam yang harus dipahami oleh setiap Mukmin yang ingin rumahtangganya diliputi dengan kebahagiaan, cinta kasih, ketenteraman, dan langgeng. Wallâhu a‘lam bi ash-shawab.

Bebaskan Gazaku


Gazaku
Dunia menatapmu dengan penuh luka
Dunia meratapimu dengan jerit tangis
Dunia merapatkan barisan mengutuk zionis laknatullah
Dunia membantumu dengan sesuap makan,seteguk minum,dan obat penawar lukamu
Biarlah Allah mencatatnya sebagai amal sholih mereka disisiNya

Gazaku
Tapi semua itu jauh dari kata cukup
Kami bisa berbuat lebih dari itu
Kami bisa mengirim tentara kami
Kami bisa mengirim senjata kami
Untuk membelamu dan mengusir zionis dari baitul maqdis
Tapi itu tak kami lakukan
Karena kami tak bisa berbuat banyak
Karena kami adalah rakyat biasa sama denganmu di Gaza

Gazaku
Selalu terbesit dalam benak kami
Selamanya telah tecatat dalam sejarah kelam dengan pembantaian umat islam dulu di bosnia,kosovo,kashmir,chechnya,ambon,poso,moro,pattani,iraq,palestine,afghanistan,libanon,sekarang engkau--gaza.Who's next???Until when do we have to see this eyesore???

Yaa Allah yaa Rabbana
Betapa kami menzalimi diri kami dan saudara-saudara kami
Dengan merasa 'cukup' mengirim bantuan kemanusiaan
Dengan merasa 'cukup' melakukan demonstrasi mengutuk kekejian zionis dan mengucapkan sumpah serapah atas mereka
Dengan merasa 'cukup' melakukan shalat ghaib dan mendoakan Qunut an nazilah bagi saudara kami
Dengan merasa 'bersyukur' hidup aman di negeri kami
Sedangkan saudara-saudara kami meregang nyawa oleh mortir dan tangan kotor zionis laknatullah
Dengan melemahkan semangat saudara kami yang lain yang ingin 'berjihad' membela saudara kami di gaza
Dengan menyatakan " 'doa' lebih dibutuhkan daripada 'jihad' ","jangan bertindak sembrono,emosional,setor nyawa,mati sia-sia dengan jadi relawan jihad karena medan sangat sulit,fasilitas musuh lebih hebat daripada fasilitas saudara kita hamas ataupun kita sendiri."
Dengan berspekulasi kata-kata ini dan itu
Dengan banyak berkomentar di sana sini tapi kami tak banyak berbuat
Kecuali dengan apa yang kami kira cukup padahal belum cukup
Sementara kami biarkan setiap waktu.detik,menit,jam,hari,miggu,bulan,bahkan mungkin tahun berlalu dengan melihat saudara kami meregang nyawa,membiarkan anak-anak mereka terlantar tanpa orang tua,
dan kami merasa cukup dengan mendoakan mereka

Yaa Allah yaa Rabbana
Diam kami atas penderitaan mereka adalah dosa besar kami
Sementara kami sudah sedang dan akan menanggung dosa-dosa kami sendiri
Kelak mereka akan mengemis keadilan yang belum pernah mereka rasakan selama hidup mereka di dunia di yaumil hisab
Dimana keadilanMu adalah segala-galanya bagi umat manusia
'mengapa mereka biarkan kami terluka dan terbunuh yaa Allah?'
'dimana mereka tatkala kami butuh mereka?'
'apa yang dilakukan para penguasa pada diri kami?'
'apa pembelaan mereka atas kami?dimana tentara-tentara kaum muslimin tatkala kami teraniaya dan terbantai?'
yaa Allah yaa rabbana
Pada hari itu,hari dimana kami menghadapMu,
Kami terdiam seribu bahasa
Tak berucap satu patah kata pun
Sebagaimana yang biasa kami lakukan didunia--banyak bicara
Mulut kami terkunci
Kecuali anggota tubuh kami yang berbicara
atas keluh kesah saudara kami

yaa Allah,
inilah doaku untuk saudara-saudaraku;
"Yaa Allah,himpunkanlah mereka dalam surga firdausMu yang hanya diperuntukkan bagi para nabi dan syuhada
hidupkanlah mereka dengan kehidupan kekal di surga firdaus,sebaik-baik tempat kembali umat manusia di akhirat"

inilah doaku untuk musuh-musuhMu;
"Yaa Allah,lemparkanlah mereka ke dalam neraka jahannam
hidupkan mereka dengan kehidupan kekal yang hina di dalamnya, seburuk-buruk tempat kembali umat manusia di akhirat"

inilah doaku untuk para penguasa zalim dan khianat;
"Yaa Allah, balaskan apa yang mereka lakukan pada saudara-saudara kami, balaskan kezaliman dan pengkhianatan dengan sikap diam dan bisu mereka atas penderitaan saudara kami,rasakanlah atas mereka azhab Mu karena abaikan urusan rakyat mereka dunia akhirat"
yaa Allah..dan gantikanlah mereka segera di dunia ini dengan datangnya pemimpin yang adil
Rasakanlah atas rakyat dunia keadilan seorang pemimpin yang agung di dunia ini sebelum mereka menikmati keadilanMu yang sesungguhnya di akhirat

Amiin yaa rabbal alamiin... (http://jamaahmasjid.blogspot.com)

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan mereferensikan URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com. Jazakumullah khairan katsiraa telah membaca dan mereferensikan.

Download File2 Islami |Baca Artikel Lainnya

Berlangganan Artikel

Sebelum Kau Mengeluh


1. Hari ini sebelum kamu mengatakan kata-kata yang tidak baik, pikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berbicara sama sekali

2. Sebelum kamu mengeluh tentang rasa dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

3. Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa,
Pikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

4. Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

5. Sebelum kamu mengeluh tentang suami atau istri anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Allah untuk diberikan teman hidup

6. Sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu hari ini,
Pikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat

7. Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

8. Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu yang kotor karena pembantumu tidak mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan

9. Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh jarak yang sama dengan berjalan

10. Dan disaat kamu lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang pengangguran,orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti Anda.

11. Sebelum kamu menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

12. Dan ketika kamu sedang bersedih dan hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Allah bahwa kamu masih hidup!

http://www.facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK

Bersyukur


Ada sebuah dialog menarik antara seorang laki-laki dengan Abu Hazm:

“Apa syukurnya kedua mata?”
“Apabila engkau melihat sesuatu yang baik, engkau menceritakannya. Tetapi apabila engkau melihat keburukan, engkau menutupinya.”

“Bagaimana syukurnya telinga?”
“Jika engkau mendengar sesuatu yang baik, peliharalah. Manakala mendnegar sesuatu yang buruk, cegahlah!

“Bagaimana syukurnya tangan?”
“Jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu, dan janganlah engkau menolak hak Allah yang ada pada kedua tanganmu.”

“Bagaimana syukurnya perut?”
“Bawahnya berisi makanan, sedang atasnya penuh dengan ilmu.”

“Syukurnya kemaluan?”
Abu Hazm menjawabnya dengan membaca Al-Qur’an surat Al-Mu’minun ayat 1-7.

“Bagaimana syukurnya kaki?”
“Jika engkau mengetahui seorang shalih yang mati dan engkau bercita-cita dan berharap seperti dia, dimana dia melangkahkan kakinya untuk taat dan beramal shalih semata, maka contohlah dia. Dan apabila engkau melihat seorang mati yang engkau membencinya, maka bencilah amalnya. Maka engkau menjadi orang yang bersyukur.”

Abu Hazm menutup jawabannya, “Orang yang bersyukur dengan lisannya saja tanpa dibuktikan dengan amal perbuatan dan sikap, maka ia ibarat seorang punya pakaian, lalu ia pegang ujungnya saja, tidak ia pakai. Maka sia-sialah pakaian tersebut.”

Keutamaan bersyukur:
1. Allah akan ingat kepada orang yang senantiasa bersyukur.
2. Akan terminimalisir dari sifat-sifat ingkar kepada Allah Swt.
3. Allah akan menambahkan nikmat-Nya.

Rabu, 17 Maret 2010

Taubat


TAUBAT NASUHA (bukan TAUBAT ‘SAMBAL’)

Sebagai Antisipasi/pencegahan — sebelum terjadi dosa:
1. Iman pada Allah
2. Takut pada azhabNya akibat dosa kita
3. Menjauhi dosa/maksiyat

Sebagai Penanggulangan — setelah terjadi dosa:
4. Menyesali diri karena terlanjur berbuat maksiyat
5. Berjanji pada Allah untuk tidak mengulangi perbuatan dosa
6. Jika kita bersalah pada Allah,banyak istighfar dan bertaubat padaNya,Allah maha pengampun. Jika kita bersalah pada manusia,selain banyak istighfar,segera akui kesalahan kita dan mohon maaf padanya.Ampunan Allah akan kita dapatkan seiring dengan keridhoan manusia yang kita zholimi untuk memaafkan kesalahan kita. (seandainya kesalahan tersebut dilakukan dalam lingkup sistem islam,yakni khilafah,baik menyangkut dosa penguasa pada umat/rakyatnya,maupun dosa seorang manusia terhadap manusia lain,semacam kriminalitas: pembunuhan,pencurian,perzinahan,dll; selain banyak istighfar dan mengakui kesalahannya,ia juga harus melalui step hukuman dunia versi syariah Allah,yakni sanksi / uqubat islam yang berfungsi sebagai : penebus dosa manusia di akhirat dan pencegah bagi manusia lain dari berbuat dosa di dunia).

7. Resapi secara mendalam istighfar kita dari lesan hingga amalan kita. Allah tak sekedar butuh lisan tapi juga perbuatan kita dengan cara:
8. Tetap istiqamah dalam menerapkan upaya ‘preventif’ lebih baik daripada menanggulangi selain tetap menanggulangi terjadinya dosa (no 1-9)
9. Sempurnakan kewajiban dan perbanyak amal sunnah dan sholih lainnya untuk meminimalisir dosa-dosa kita serta memperberat timbangan kebajikan kita di akhirat kelak.

FUNGSI TAUBAT
1. Menambah kemudahan bagi kita untuk mendapatkan hidayahNya
(Qs an Nisa : 26-27)
” Allah hendak menerangkan syariahNya kepadamu dan menunjukimu kepada jalan-jalan orang sebelum kamu (para nabi dan shalihin) dan hendak menerima taubatmu.Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana. Dan Allah hendak menerima taubatmu,sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya dari kebenaran”
Sebagai seorang muslim,kita tetap berharap hidayahNya karena tak semua muslim dibukakan oleh Allah untuk melapangkan hatinya dalam menerima hidayahNya (kecuali jika mereka berusaha membuka pintu hidayah Allah dengan selalu mengkaji dan ingin segera berubah menjadi pribadi muslim yang baik dengan melaksanakan syariah Allah,yakni Islam)

2. Menyongsong kedatangan hidayah
Allah telah memberikan pada kita nikmat berupa kelimpahan rizqi materi dan spiritual tak terhingga.
Perbedaanya:
Rizqi materi bisa diberikan oleh Allah pada siapapun diantara manusia,tak peduli apakah ia seorang mu’min/kafir,fasik ataukah munafik.Karena Allah maha pemberi
Namun kasih sayang Allah hanya untuk orang-orang yang mengimaniNya dan melapangkan hatinya untuk menerima hidayah Allah,dengan memberikannya nikmat Rizqi spiritual berupa iman,islam,Al Qur’an,sifat-sifat baik yang harus ada pada dirinya sebagai seorang muslim dan mu’min, kesehatan,waktu dan usia,serta ketundukan dan kepasrahannya pada Allah dan syariahNya.

3. Memberi kesenangan hidup dunia akhirat
(Qs Huud : 3)
” Dan hendaklah kamu meminta ampun pada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya.Jika kamu mengerjakan demikian,niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik terus menerus kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.Dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang memiliki keutamaan balasan atas keutamaannya “

Orang yang gemar beristighfar dan bertaubat-dengan sebenar-benarnya istighfar dan taubat-pada Allah,akan dimudahkan olehNya untuk mendapatkan kesenangan dan kebahagiaan hidup dunia akhirat

4. Melapangkan rizqi Allah
(Qs Huud : 61)
” Dan kepada Tsamud Kami utus saudara mereka Shaleh. Shaleh berkata,” Hai kaumku,sembahlah Allah.Sekali-kali tidak ada Tuhan selain Dia.Dia telah menciptakanmu dari bumi (tanah) dan menjadikanmu pemakmurnya.Karena itu mohonlah ampunanNya kemudian bertaubatlah kepadaNya.Sesungguhnya Tuhanku amat dekat rahmatNya lagi memperkenankan doa hambaNya “

Beristighfar dan bertaubat adalah salah satu cara yang dilakukan seorang muslim agar Allah melapangkan rizqiNya kepadanya yang telah menciptakannya dari bumi (tanah) dan menjadikannya sebagai pemakmur serta pemeliharanya.

5. Menjadikan para pelakunya (mustaghfirun) memperoleh salah satu haknya sebagai orang-orang mu’min.(Qs at Taubah : 11)
” Jika mereka bertaubat,mendirikan shalat dan menunaikan zakat,maka mereka itu adalah saudara-saudaramu seagama “
Hak sebagai orang mu’min tersebut adalah diakui oleh sesama muslim sebagai saudara seiman dan seagama mereka.

RENUNGAN
Kehidupan di dunia meskipun diibaratkan Allah sebagai senda gurau dan permainan belaka,sementara Allah juga menerangkan kehidupan sejati adalah kehidupan akhirat,implementasi menjalani kehidupan dunia sangat serius dan tidak main-main.Pemahaman seorang muslim harus berbeda dari pemahaman non muslim sebagaimana islam berbeda dari non islam-tentang hakikat kehidupan dunia dan akhiratnya serta implementasi menjalaninya.
Senda gurau dan permainan kehidupan dunia fana ini justru harus mendorong seorang muslim untuk serius dan bersungguh-sungguh dalam menjalani kehidupannya di dunia untuk mendapatkan kebahagiaan kekal di akhirat sesuai dengan konstitusi umat Islam,yakni Al Qur’an selain juga as sunnah.

Yaa Allah... Jangan Kau biarkan aku
sebagai hamba pemberontak tapi hamba yang taat pada tuannya,Allah
Jadikanlah ketaanku sebagai hambaMu hanya untuk membela dan mentaatiMu
Jadikanlah pemberontakanku hanya untuk menentang para pemberontak yang menentang dan anti syariahMu,baik tersembunyi dan terang-terangan.

Jangan Kau biarkan hidupku
mengalir seperti arus sungai yang deras mengalir kemanapun yang sungai itu kehendaki
Bimbinglah hidupku
sesuai arah yang Kau inginkan dalam kitabullah dan as sunnah

Jangan Kau biarkan aku
untuk menduakanMu dengan menjadikan hawa nafsuku sebagai tuhan
yang akan menghinakanku lebih rendah dari binatang ternak (Qs al Furqan : 43-44)
Bimbinglah dan Mudahkanlah aku
untuk mengesakanMu dengan menjadikanMu sebagai Tuhan bahkan Ilah bagiku
yang akan meninggikan dan memuliakanku pada derajat orang-orang bertaqwa
Amiin…

Selasa, 16 Maret 2010

Rahasia di Lanjut Usia


Seorang yang lanjut usia ditanya tentang apa rahasia ketegaran tubuhnya dan apa yang menjadikannya bebas dari perasaan sedih dan susah.

Dia menjawab, "Aku tidak pernah bertengkar atau marah kepada keluargaku. Aku tidak pernah punya rasa iri dengki terhadap apa yang lebih besar daripadaku. Dan aku tidak pernah merasa senang dengan jatuhnya orang lain."

Penggerak & Simpatisan "SHOLAT BERJAMAAH DI MASJID, YUK!"

Bookmark and Share

Senin, 15 Maret 2010

Adab Berdoa yang Benar Agar Dikabulkan Allah


Ada beberapa adab dan etika bagi orang yang berdoa agar doanya dikabulkan oleh Allah, di antaranya:

1. Mengawali doa dengan memanjatkan puji-pujian kepada Allah serta shalawat dan salam kepada Rasulullah.

2. Menjauhi perkara yang diharamkan.

3. Hatinya ikhlas.

4. Melakukan amal saleh terlebih dahulu.

5. Berdoa semata-mata kepada Allah.

6. Berdoa dalam keadaan suci.

7. Menghadap kiblat.

8. Memperbanyak puji-pujian kepada Allah dan membaca shalawat kepada Nabi saw.

9. Membuka kedua telapak tangan dan mengangkatnya setinggi pundak.

Referensi: Syarah Hadits Arbain an-Nawawi

http://www.facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK

Semoga Allah selalu mengabulkan doa-doa kita. Amin.

Minggu, 14 Maret 2010

Tips Berkendara Berpedoman pada Amar Ma'ruf Nahi Mungkar dan Perintah Rasulullah SAW



Barangsiapa mengerjakan sholat subuh dengan berjamaah, dia berada dalam jaminan dan perlindungan Allah sampai dia memasuki waktu sore. Hal itu didasarkan pada hadits Jundab bin Abdullah ra., dia bercerita, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa mengerjakan sholat subuh, maka dia akan selalu berada dalam jaminan Allah." (Syarhu an-Nawawi 'alaa Shahih Muslim, V/164).

Berikut ini tips-tips agar dalam perjalanan untuk bekerja/sekolah, rekreasi bersama keluarga, kita bisa mendapatkan perlindungan dari Allah, juga pahala yang tiada terhitung:

1. Berjamaah subuh di masjid dapat melindungi kita dari mara bahaya sampai sore hari.

2. Memperbanyak sedekah (infak masjid, bayar parkir, memberi polisi cepek, memberi pengamen) dapat melindungi kita dari kejadian seperti ban bocor, ditilang tanpa sebab yang masuk akal, kehilangan sesuatu, atau kecelakaaan skala kecil.

3. Menepi jikalau mengantuk. Memejamkan mata sekitar 3 menit bisa membuat konsentrasi pulih.

4. Kendaraan yang lebih besar harus mengalah pada kendaraan yang lebih kecil. Kendaraan kecil harus menghormati kendaraan yang lebih besar (tidak songong). Kendaraan besar juga tidak boleh sombong/semena-mena.

5. Memberikan prioritas pada kendaraan yang ingin melaju lurus ketika ingin belok.

6. Tidak berjalan terlalu pelan di mana banyak pengendara melaju kencang. Tidak melaju kencang di mana banyak kendaraan berjalan lambat.

7. Tidak ugal-ugalan dan arogan dalam berkendara. Sungguh balasan Allah itu sangatlah dekat.

8. Memberi isyarat (lampu/bahasa tangan) ketika ingin: belok, mempersilakan orang ingin menyebrang, meminta maaf karena tidak bisa memberi jalan, atau berterima kasih karena sudah diberi jalan.

9. Menghormati iring-iringan jenazah (berhenti). Rasulullah saw. bersabda: Apabila kalian melihat iringan jenazah, maka berdirilah menghormatinya sampai iringan jenazah itu lewat meninggalkan kalian atau sampai diletakkan dalam kubur. (Shahih Muslim No.1590)

10. Menghormati iring-iringan Pemimpin (protokoler). Mendoakan agar pemimpin kita menjadi pemimpin yang taat kepada Allah swt dan bisa membawa rakyatnya pada kesejahteraan.

11. Memperbanyak dzikir/istighfar dapat memberikan pikiran positif dan juga empati terhadap pengendara yang lain (menjauhkan kita dari segala bentuk emosi dalam berkendara). Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’.” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694]). Ucapkanlah dzikir tersebut ketika berkendara, tak terbayang pahala di timbangan-Nya untuk bekal kita nanti.

12. Mendengarkan musik dengan earphone ketika naik motor bukanlah ide yang bagus. Itu bisa membuat kita tidak peka terhadap keadaan sekitar. Mendengarkan musik dengan sangat keras di mobil sampai bassnya terdengar keluar juga bukan ciri orang muslim. Selain bisa merusak telinga, bisa mengganggu orang lain.

13. Menelpon atau mengirim sms ketika berkendara mobil/motor selain membahayakan diri sendiri juga membahayakan nyawa orang lain. Lebih baik berhenti dulu jika ada suatu yang penting.

Dan Allah Maha Mengetahui Yang Terbaik. Mudah-mudahan Allah selalu menjadikan kita manusia yang berakhlak baik dalam berkendara mobil/motor.

Sumber: http://jamaahmasjid.blogspot.com | Penulis: Hudzaifah Ibnul Yaman

Klik http://facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK untuk bergabung dengan jamaah lainnya, atau di http://twitter.com/JamaahMasjid

Tidak dilarang mengcopy-paste isi tulisan dalam blog ini dengan menyebutkan sumber URL: http://jamaahmasjid.blogspot.com. Jazakumullah khairan katsiraa telah membaca dan berbagi.

Klik di sini untuk mendownload file-file Islami.

Berlangganan Artikel
Tips Menjaga Sholat Subuh

Tips Menjaga Sholat Subuh

Masih banyak orang-orang yang mengaku muslim tapi tidak pernah sholat subuh berjamaah di masjid. Padahal dia itu sesungguhnya munafik jika tidak pernah sholat isya dan subuh berjamaah di masjid.

“Sesungguhnya shalat yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya’ dan shalat Subuh. Sekiranya mereka mengetahui apa yang terkandung di dalamnya, niscaya mereka akan mendatangi keduanya (berjamaah di masjid) sekalipun dengan merangkak” [HR Al-Bukhari dan Muslim]

Bicara tentang sholat subuh, banyak sekali manfaatnya jika kita melakukannya secara berjamaah di masjid.

“Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang banyak berjalan dalam kegelapan (waktu Isya’ dan Subuh) menuju masjid dengan cahaya yang sangat terang pada hari kiamat” [HR. Abu Dawud, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

Allah akan memberi cahaya yang sangat terang pada hari kiamat nantinya kepada mereka yang menjaga Shalat Subuh berjamaah (bagi kaum lelaki di masjid), cahaya itu ada dimana saja, dan tidak mengambilnya ketika melewati Sirath Al-Mustaqim, dan akan tetap bersama mereka sampai mereka masuk surga, Insya Allah.

“Barang siapa yang menunaikan shalat Subuh maka ia berada dalam jaminan Allah. Shalat Subuh menjadikan seluruh umat berada dalam jaminan, penjagaan, dan perlindungan Allah sepanjang hari. Barang siapa membunuh orang yang menunaikan shalat Subuh, Allah akan menuntutnya, sehingga Ia akan membenamkan mukanya ke dalam neraka” [HR Muslim, At-Tarmidzi dan Ibnu Majah]

“Shalat berjamaah (bagi kaum lelaki) lebih utama dari shalat salah seorang kamu yang sendirian, berbanding dua puluh tujuh kali lipat. Malaikat penjaga malam dan siang berkumpul pada waktu shalat Subuh”. “Kemudian naiklah para Malaikat yang menyertai kamu pada malam harinya, lalu Rabb mereka bertanya kepada mereka - padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka - ‘Bagaimana hamba-2Ku ketika kalian tinggalkan ?’ Mereka menjawab, ‘Kami tinggalkan mereka dalam keadaan shalat dan kami jumpai mereka dalam keadaan shalat juga’. ” [HR Al-Bukhari]


Banyak permasalahan, yang bila diurut, bersumber dari pelaksanaan shalat Subuh yang disepelekan. Banyak peristiwa petaka yang terjadi pada kaum pendurhaka terjadi di waktu Subuh, yang menandai berakhirnya dominasi jahiliyah dan munculnya cahaya tauhid.

“Sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu Subuh; bukankah Subuh itu sudah dekat?” (QS Huud:81)

Rutinitas harian dimulainya tergantung pada pelaksanaan shalat Subuh. Seluruh urusan dunia seiring dengan waktu shalat, bukan waktu shalat yang harus mengikuti urusan dunia.

Berikut ini Halangan-halangan yang membuat lalai dalam sholat subuh berjamaah di masjid:
1. Ketiduran.
2. Malas mandi wajib.
3. Udara yang dingin.
4. Rumah yang jauh dari masjid.
5. Kelelahan.
6. Tidak berani memulai sholat subuh berjamaah di masjid.



Sudah jelas, jika kita tahu halangan-halangannya maka kita sebagai umat muslim yang pandai dan dirahmati Allah harus mencari jalan keluarnya. Berikut ini tips-tips dari kami untuk bisa konsisten sholat subuh berjamaah di masjid:

1. Ikhlaskan niat karena Allah.
2. Bertekad dan introspeksilah diri Anda setiap hari.
3. Bertaubat dari dosa-dosa dan berniatlah untuk tidak mengulangi kembali.
4. Perbanyaklah membaca doa agar Allah memberi kesempatan untuk shalat Subuh.
5. Carilah kawan yang baik (shalih).
6. Latihlah untuk tidur dengan cara yang diajarkan Rasulullah saw (tidur awal; berwudhu sebelum tidur; miring ke kanan; berdoa).
7. Mengurangi makan sebelum tidur serta jauhilah teh dan kopi pada malam hari.
8. Ingat keutamaan dan hikmah Subuh; tulis dan gantunglah di atas dinding.
9. Bantulah dengan 3 buah bel pengingat(jam weker; telpon; bel pintu).
10. Ajaklah orang lain untuk shalat Subuh dan mulailah dari keluarga
11. Jangan tidur kurang dari enam jam. Kita harus bangun jam 4 pagi agar sempat sholat Tahajud, dilanjutkan subuh berjamaah di masjid. Untuk itu kita harus tidur maksimal jam 10 malam.
12. Jika kita harus mandi wajib, lakukanlah sebelum tidur atau jam 4 kurang.
13. Lakukan ini secara konsisten minimal 3 hari berturut-turut, kami jamin jam biologis Anda langsung mudah menyesuaikan diri dan Anda akan lebih mudah melakukannya keesokkan harinya.
14. Jangan sampai kebiasaan di atas terputus, karena sekali saja terputus, rasanya akan sulit sekali untuk memulainya lagi.
15. Camkan dalam hati, semakin jauh rumah dengan masjid, semakin banyak yang diperoleh karena pahala menuju sholat berjamaah di masjid dihitung per langkah pulang-pergi!


Jika Anda telah bersiap meninggalkan shalat Subuh, hati-hatilah Anda mungkin berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi shalat. Anda akan ditimpa kemalasan, turun keimanan, lemah, terus berdiam diri, dan yang paling parah, Munafik.

Oleh: http://www.facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK

Klik di sini untuk membaca artikel tentang sholat dan tips-tips lainnya!

Minggu, 07 Maret 2010

Cara Mengajak Orang Sholat Berjamaah di Masjid


Membuat orang sadar akan pentingnya berjamaah di masjid, itulah salah satu tantangan terbesar umat muslim.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidak akan terjadi kiamat sehingga kaum muslimin memerangi bangsa Yahudi, sampai-sampai orang Yahudi berlindung di balik batu dan pohon, lalu batu dan pohon tadi akan berbicara, ‘Wahai orang Islam, hai hamba Allah! Di belakangku ada orang-orang Yahudi, kemarilah, bunuhlah dia, kecuali pohon Ghorqod, sebab ia itu sungguh pohonnya Yahudi.” (HR. Ahmad).

Bagaimana pandangan rabi Yahudi tentang sabda Nabi SAW tersebut? Dia jawab, “Ya aku percaya apa yang dikatakan Muhammad, tapi jangan takut, hal itu masih lama.” Lalu ditanya lagi, “Kapankah waktu itu akan dating?” Sang rabi tersebut menjawab, “Hal itu baru akan terjadi ketika jumlah umat Islam yang datang ke masjid pada waktu sholat subuh, akan sama jumlahnya dengan yang dating pada saat sholat Jumat."

Ada dua hal setidaknya sebagai pelajaran yang bisa diambil dalam wawancara tersebut:
1. Orang Yahudi saja mempercayai dan sangat yakin akan kebenaran dan bukti dari sabda Nabi Muhammad SAW, bagaimana dengan kita?

2. Memberitahukan kepada kita semua, bahwa sumber dan barometer kekuatan umat Islam itu bisa dilihat saat pelaksanaaan sholat subuh berjamaaah di masjid. Bukan tergantung dari banyaknya jenderal dan sarjana.

Beberapa cara untuk mengajak orang berjamaah di masjid:

Kunci utamanya 3M
Cara pertama adalah 3M. Mulai dari diri sendiri. Mulai dari yang terdekat . Mulai saat ini juga! Orang lain tidak akan mau mendengar ajakan kita kalau kita sendiri tidak berjamaah. Kita bisa mengajak orang-orang terdekat, seperti suami, istri, adik, kakak, orangtua, anak, saudara. Setelah itu baru mulai meningkat menjadi tetangga, lingkungan satu kompleks, dan RT, dst. Mulai saat ini juga! Jangan tunggu-tunggu lagi karena tidak ada yang tahu kapan umur kita berakhir.

Spanduk
Penggunaan spanduk yang besar dan mencolok untuk dipasang di daerah tempat tinggal kita juga merupakan cara yang efektif untuk menyerukan orang-orang sholat berjamaah di masjid. Jangan lupa dibuat kalimat-kalimat yang menarik seperti mencantumkan kegiatan menarik setelah sholat.

Wake-Calling
Wake-Calling adalah membangunkan teman untuk sholat subuh berjamaah di masjid. Harus sampai bangun. Jangan Cuma miscall atau sms. Setelah itu teman yang dibangunkan itu membangunkan temannya yang lain lagi. Begitu seterusnya. Wake-Calling harus dimulai setidaknya setengah jam sebelum adzan agar orang yang bangun jumlahnya bisa banyak, dan juga untuk mempersiapkan diri ke masjid. Lebih bagus lagi adalah Tahajud Call, yaitu Panggilan untuk melakukan sholat Tahajud, setelah itu sholat subuh berjamaah di masjid.

Informasi saat Khutbah/Pengajian
Waktu sholat jumat adalah waktu yang sangat tepat untuk memberi tahu karena banyaknya jamaah laki-laki yang berkumpul saat itu. Ini bisa menjadi kesempatan untuk memberi tahu dan menekankan tentang pentingnya sholat berjamaah, apalagi berjamaah di waktu subuh dan isya.

Janjian
Saling menguji tingkat keimanan dan kekuatan sesama teman dengan cara berjanjian untuk sholat berjamaah di masjid bisa menjadi cara yang asyik dan menyenangkan. Siapa yang tidak bisa datang berjamaah di masjid tanpa ada halangan yang sangat kuat dianggap ingkar janji. Tentunya hal ini harus semakin memperkuat persaudaraan dan kasih sayang sesama teman itu. Jika ternyata ada satu yang ingkar tidak seharusnya menjadi putus silaturahmi, namun temannya itu wajib mengingatkan pentingnya sholat berjamaah di masjid.

Mengajak & Memberi Contoh
Ketika di sekolah/kampus/kantor sedang duduk-duduk dan waktu sholat telah tiba, kita bisa langsung mengajak teman-teman kita dan siap-siap pergi ke masjid untuk berjamaah. Jika tidak ada masjid musholla pun jadi. Jika teman-teman yang diajak masih tidak mau maka cukuplah Allah yang Maha Mengetahui. (http://jamaahmasjid.blogspot.com)

Oleh: H. Ibnul Yaman

Penggerak & Simpatisan "Sholat Berjamaah di Masjid, Yuk!" bertujuan untuk menyerukan umat muslim untuk sholat berjamaah di masjid, menjalin ukhuwah Islamiyah, dan berbagi pengetahuan Islami.

Klik di sini untuk membaca artikel lainnya di Facebook Page!

Jumat, 05 Maret 2010

Meluruskan Shaf dalam Berjamaah itu Penting

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam selalu meluruskan shaf kami, sehingga beliau seolah-oleh meratakan anak panah sehingga beliau melihat bahwa kami telah memahaminya. Kemudian suatu hari beliau keluar (untuk menunaikan sholat), lalu berdiri hingga ketika hampir mengucapkan takbir, beliau melihat seorang lelaki dadanya keluar (menonjol) dari shaf, maka beliau bersabda: “”Hai hamba-hamba Allah, kalian benar-benar meluruskan shaf kalian (jika tidak) Allah akan (menimbulkan perselisihan) di antara wajah-wajah kalian.” (HR Muslim dan Ahmad)

Berdasarkan hadits di atas, jelas Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memperingatkan kemungkinan terjadinya perselisihan antara wajah-wajah para sahabat jika mereka mengabaikan lurusnya shaf. Perselisihan antara wajah dapat juga diartikan sebagai munculnya perbedaan cara pandang dalam berbagai masalah kehidupan. Secara jangka panjang hal ini dapat mengakibatkan terjadinya perpecahan di tengah tubuh ummat Islam. Saudaraku, jika kita mau jujur, persoalan kerapihan shaf sholat berjamaah di banyak masjid di negeri kita tampaknya sudah kronis. Mungkinkah ini yang menyebabkan sulitnya kita ummat Islam dapat bersatu menghadapi musuh-musuh Islam dewasa ini?

Perlu disadari juga bahwa lurusnya shaf sangat mempengaruhi ke-afdhol-an sholat berjamaah yang kita lakukan dalam penilaian Allah. Sehingga Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam sampai bersabda:
سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ إِقَامَةِ الصَّلَاةِ
“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk tegaknya sholat.” (HR Bukhary)
سَوُّوا صُفُوفَكُمْ فَإِنَّ تَسْوِيَةَ الصُّفُوفِ مِنْ تَمَامِ الصَّلَاةِ
“Luruskanlah shaf kalian, karena meluruskan shaf termasuk kesempurnaan sholat.” (HR Ibnu Majah)



Maka saudaraku, marilah kita senantiasa memastikan bahwa saat kita hadir dalam sholat berjamaah –apalagi jika kita menjadi Imam sholatnya- kita senantiasa menegakkan sholat tersebut sesuai arahan dan bimbingan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam. Kita pastikan bahwa shaf-shaf sholat berjamaah kita selalu berada dalam keadaan lurus dan rapat. Konon menurut suatu riwayat Khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu ’anhu sangat tegas dalam masalah ini sehingga beliau pernah meluruskan shaf barisan sholat berjamaah dengan menggunakan pedangnya...! Oleh karenanya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam pernah menyuruh para sahabat agar berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat secara teratur di hadapan Allah. Sehingga para sahabat heran dan bertanya seperti apakah barisan para malaikat di hadapan Allah itu?
أَلَا تَصُفُّونَ كَمَا تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَلَّ وَعَزَّ
قُلْنَا وَكَيْفَ تَصُفُّ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ رَبِّهِمْ
قَالَ يُتِمُّونَ الصُّفُوفَ الْمُقَدَّمَةَ وَيَتَرَاصُّونَ فِي الصَّفِّ
“Tidakkah kalian berbaris sebagaimana berbarisnya para malaikat (dengan rapih) di hadapan Rabb mereka?” Maka kami bertanya: ”Ya Rasulullah, bagaimanakah berbarisnya para malaikat di hadapan Rabb mereka?” Beliau bersabda: “Mereka menyempurnakan shaf-shaf pertama dan merapatkan shaf.” (HR Abu Dawud, An-Nasai, Ibnu Majah dan Ahmad)

Pada kesempatan lain Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam pernah memperingatkan para sahabat agar menutup celah-celah di antara shaf sholat berjamaah mereka dengan saling berdekatan satu sama lain antara mereka. Sebab bilamana celah-celah tersebut dibiarkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dapat melihat –dengan izin Allah- syetan menyelinap di dalam barisan orang-orang yang sholat berjamaah laksana anak-anak kambing...!

رُصُّوا صُفُوفَكُمْ وَقَارِبُوا بَيْنَهَا وَحَاذُوا بِالْأَعْنَاقِ
فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنِّي لَأَرَى الشَّيْطَانَ
يَدْخُلُ مِنْ خَلَلِ الصَّفِّ كَأَنَّهَا الْحَذَفُ
“Rapatkanlah shaf-shaf kalian, saling berdekatanlah, dan luruskanlah dengan leher-leher (kalian), karena demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggamannya, sesungguhnya aku melihat setan masuk dari celah-celah shaf seakan-akan dia adalah kambing kecil.” (HR Abu Dawud)

Jika kita merujuk kepada hadits di atas lalu kita kaitkan dengan realita sholat berjamaah ummat Islam kebanyakan, maka kita sangat khawatir sudah berapa banyak syetan yang berseliweran meramaikan barisan sholat berjamaah kaum muslimin di masyarakat kita selama ini…! Tidak mengherankan bilamana sholat kita selama ini tidak terlalu jelas memberikan nilai tambah bagi hadirnya akhlak mulia. Padahal Allah menjamin bahwa sholat seseorang pasti mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar. Jangan-jangan inilah di antara faktor utamanya...!
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
”... dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.” (QS Al-Ankabut ayat 45)

Kadang kita malah menjumpai kenyataan dimana saat kita berkeinginan untuk merapatkan shaf dengan mendekatkan diri kepada tetangga sholat kita, malah saudara kita itu malah menjauhkan badannya dari kita. Sehingga shaf tidak kunjung rapat, selalu saja ada celah-celah di antara orang-orang yang sholat. Memang ini semua memerlukan edukasi ummat secara massif agar kita semua dapat benar-benar meraih sholat yang berbuah akhlaqul karimah. Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam dalam salah satu hadits beliau. Bilamana seseorang memutuskan shaf sholat, maka sama saja ia mengundang diputusnya rahmat Allah atas dirinya. Sebaliknya bila seseorang menyambung shaf sholat yang tadinya terputus justeru dia akan memperoleh sambungan rahmat Allah atas dirinya.
مَنْ وَصَلَ صَفًّا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَ صَفًّا قَطَعَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ
“Barangsiapa menyambung suatu shaf, niscaya Allah menyambungnya (dengan rahmatNya). Dan barangsiapa yang memutuskan suatu shaf, niscaya Allah memutuskannya (dari rahmatNya).” (HR An-Nasai)

http://www.facebook.com/SHOLAT.BERJAMAAH.DI.MASJID.YUK

Klik di sini untuk mendownload poster ☛Aturan Shaf Berjamaah, jangan lupa ditempel di masjid-masjid biar kita makin banyak dapat pahala! :)

Klik di sini untuk membaca artikel lainnya!
Apa yang Menghalangimu Sholat Berjamaah?

Apa yang Menghalangimu Sholat Berjamaah?

Ketahuilah saudaraku -semoga Allah menambahkan iman kepada aku dan kamu- tidaklah ada lelaki muslim yang bersengaja meninggalkan shalat jama’ah kecuali orang-orang yang lemah iman atau munafik.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu menceritakan, “Barangsiapa yang senang untuk berjumpa dengan Allah di hari esok [hari akhirat] sebagai seorang muslim maka jagalah shalat lima waktu dengan berjama’ah yang mana diserukan panggilan adzan untuknya. Karena Allah telah mensyariatkan jalan-jalan petunjuk untuk Nabi kalian shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan sesungguhnya shalat berjama’ah itu termasuk jalan petunjuk. Kalau lah kalian sengaja mengerjakan shalat di rumah-rumah kalian sebagaimana halnya perbuatan orang yang sengaja meninggalkan shalat jama’ah ini [dan mengerjakan shalat] di rumah niscaya kalian telah meninggalkan ajaran Nabi kalian. Dan kalau kalian sudah berani meninggalkan ajaran Nabi kalian, maka kalian pasti akan sesat. Sungguh aku teringat, bahwa dahulu tidak ada yang meninggalkan shalat berjama’ah itu melainkan orang munafiq yang tampak sekali kemunafikannya. Sampai-sampai dahulu ada [di antara para sahabat itu] yang memaksakan diri untuk datang [shalat berjama'ah] dengan dipapah di antara dua orang lelaki untuk diberdirikan di dalam barisan/shaf.” (HR. Muslim [654]).

Klik di sini untuk lanjut membaca.